Bab 5 | Upacara Macco’bo dan Pengakuan sebagai Pemersatu

 



5.1 Ritual Inisiasi Kepemimpinan Mamuju Kuno

Seminggu setelah Mattolabali berhasil meredam ancaman Gowa dan menenangkan intrik Puang Lemo serta Puang Tandjolo, para tetua dari Kurri-Kurri dan Langga Monar berkumpul di Danga untuk membahas satu hal penting: pengukuhan Mattolabali sebagai pemimpin tertinggi yang sah atas kedua kerajaan. Selama ini ia memerintah sebagai putra mahkota de facto karena kematian Tarapati. Namun dalam adat Mamuju, seorang pewaris belum dianggap memiliki kewibawaan penuh sebelum menjalani ritual inisiasi yang disebut Macco'bo.

Secara etimologi, macco'bo berasal dari kata dasar co'bo yang berarti "menyentuh" atau "meresap". Dalam konteks kepemimpinan, Macco'bo dimaknai sebagai proses di mana kebijaksanaan, keberanian, dan spiritualitas seorang calon pemimpin disentuh dan diresapkan ke dalam jiwanya sehingga ia tidak lagi menjadi manusia biasa, tetapi menjelma menjadi pemimpin yang memiliki wibawa (kharisma) dan sakti (kekuatan spiritual). Ritual ini berbeda dengan upacara penobatan biasa; ia lebih bersifat esoterik dan tertutup, hanya disaksikan oleh para tetua adat tertinggi dan pemangku spiritual.

Lontarak menyebutkan bahwa Macco'bo sudah diwariskan turun-temurun sejak masa Kerajaan Kurri-Kurri. Raja Tarapati sendiri menjalaninya ketika masih muda. Dan sekarang, giliran Mattolabali. Para tetua sepakat: ritual akan dilaksanakan pada bulan purnama berikutnya, di sebuah tempat sakral di hulu sungai yang memisahkan Danga dan Simboro—tepat di pertemuan dua aliran air, tempat yang melambangkan penyatuan dua dunia.

Persiapan menuju ritual

Sepekan sebelum puncak upacara, Mattolabali menjalani masa pengasingan spiritual (mamalli) di sebuah pondok kecil di tengah hutan, ditemani oleh seorang sando (dukun/kepala spiritual) tertua dari Langga Monar. Selama masa ini, ia dilarang: mengonsumsi makanan dari hewan berkaki empat (hanya ikan, sayur, dan buah), berbicara dengan siapa pun selain sando dan para tetua yang datang memberi petuah, menyentuh benda logam termasuk keris pusaka, serta tidur di atas tempat tidur empuk (hanya beralas tikar pandan).

Tujuan mamalli bukan sekadar penyucian fisik, melainkan pembersihan batin. Mattolabali diajak merenungi beban kepemimpinan yang akan ia pikul. Setiap malam, sando membacakan mantra-mantra tua yang mengisahkan para raja sebelumnya, baik yang berhasil maupun yang gagal. Ia juga diajari pasang ri kayu—petuah nenek moyang yang diukir pada bilah kayu. Salah satu petuah yang paling membekas: "Tidak cukup seorang pemimpin memiliki keturunan yang mulia. Keturunan hanya memberikan pintu. Kebijaksanaan adalah kuncinya. Tanpa kunci, pintu hanya akan menjadi penghalang."

Prosesi malam puncak

Pada malam purnama, Mattolabali dibawa ke tepi sungai tempat dua aliran bertemu. Di tengah lokasi sudah disiapkan sebuah lobo—miniatur rumah adat Mamuju dari anyaman bambu, dihiasi daun-daunan dan bunga. Di sekelilingnya, tujuh tetua adat (Galaggar Pitu) duduk melingkar, masing-masing membawa satu pusaka kerajaan: keris, tombak, perisai, kain tenun pusaka, mangkuk sirih emas, gong kecil, dan sebuah lontarak tua berisi silsilah kerajaan.

Ritual diawali dengan pembakaran kemenyan dan pengucapan mantra oleh sando yang memanggil arwah leluhur. Mattolabali diminta duduk bersila di depan lobo, telanjang dada, hanya mengenakan kain sallu (penutup kepala) dan lipa (sarung) berwarna putih—melambangkan kesucian hati. Api obor menerangi wajahnya yang tenang. Angin malam berdesir membawa wangi kemenyan.

5.2 Tujuh Sumpah Maradika

Satu per satu, para Galaggar Pitu membacakan tujuh sumpah kepemimpinan yang harus diucapkan Mattolabali. Setiap sumpah disertai dengan sentuhan pusaka yang dibawa tetua tersebut. Berikut ringkasan tujuh sumpah yang tercatat dalam lontarak:

Tetua

Pusaka

Isi Sumpah

Galaggar I

Keris pusaka

"Demi pusaka ini, aku akan melindungi rakyatku dari bahaya, baik yang datang dari laut maupun dari darat."

Galaggar II

Tombak

"Dengan tombak ini, aku akan menegakkan keadilan tanpa pandang bulu, kepada siapapun, termasuk kepada keluargaku sendiri."

Galaggar III

Perisai

"Perisai ini adalah simbol perlindungan. Aku akan menjadi perisai bagi yang lemah dan yang tertindas."

Galaggar IV

Kain tenun pusaka

"Seperti benang-benang yang ditenun menjadi kain yang kuat, aku akan menyatukan yang terpecah, merajut kembali yang robek."

Galaggar V

Mangkuk sirih emas

"Dengan sirih ini, aku akan menyambut semua tamu dengan hormat, baik ia saudagar kaya maupun pengemis papa."

Galaggar VI

Gong kecil

"Suara gong ini akan kupakai untuk memanggil rakyatku dalam musyawarah. Tidak ada keputusan penting yang kuambil tanpa mendengar suara mereka."

Galaggar VII

Lontarak silsilah

"Aku tidak akan melupakan dari mana aku berasal. Darah Kurri-Kurri dan Langga Monar mengalir dalam tubuhku. Aku adalah pewaris dua dunia."

Setelah Mattolabali mengucapkan ketujuh sumpah itu dengan suara lantang namun khidmat, sando mengambil air dari pertemuan dua sungai—air yang melambangkan persatuan—dan memercikkannya ke kepala, dada, dan punggung Mattolabali. Air itu diyakini membawa berkat dari leluhur dan kekuatan alam. Tahap terakhir adalah penyematan Sallu Raja—penutup kepala khusus berwarna kuning keemasan yang hanya boleh dipakai oleh seorang pemimpin tertinggi. Dengan gerak lambat penuh wibawa, sando memasangkan Sallu itu ke kepala Mattolabali. Pada saat yang sama, ketujuh tetua serempak berseru: "Hoe... pakanna... hoeeee!" — teriakan adat yang menandakan bahwa seorang pemersatu telah resmi dilantik di hadapan leluhur dan alam semesta.

Mattolabali berdiri. Untuk pertama kalinya, ia merasakan beban wibawa di pundaknya. Ia bukan lagi pangeran yang belajar di pelabuhan dan hutan. Ia adalah pemersatu Kerajaan Kurri-Kurri dan Langga Monar.

5.3 Ujian Pannambang: Hakim Dadakan, Menolak Suap, Memaafkan Musuh

Upacara Macco'bo berakhir dengan sukacita. Namun bagi Mattolabali, ritual ini hanyalah awal dari ujian yang sesungguhnya. Dalam tradisi kepemimpinan Mamuju, seorang pemimpin tidak cukup hanya dilantik secara adat; ia harus membuktikan kelayakannya melalui serangkaian ujian praktis yang disebut Pannambang (uji kualitas). Ujian-ujian ini tidak diumumkan sebelumnya. Para tetua akan mengamati Mattolabali dalam situasi-situasi spontan, menilai apakah ia benar-benar memiliki kebijaksanaan yang diucapkan dalam sumpah.

Berikut tiga ujian Pannambang yang terkenal dalam tradisi lisan Mamuju:

Ujian pertama: Hakim dadakan (menyelesaikan sengketa nelayan)

Tiga hari setelah upacara, Mattolabali diajak berkeliling ke pasar Simboro untuk "menyapa rakyat". Begitu tiba di pelabuhan, ia disambut keributan. Dua orang nelayan—satu dari Kurri-Kurri dan satu dari Padang—sedang bersitegang memperebutkan hasil tangkapan ikan yang sama. Masing-masing mengklaim bahwa ikan-ikan itu hasil jaring mereka. Daeng Mallombasi sudah mencoba memediasi tetapi gagal. Para tetua yang mendampingi Mattolabali hanya diam, menunggu reaksinya.

Mattolabali tidak terburu-buru memutuskan. Ia memanggil kedua nelayan itu untuk duduk bersama di dermaga. Ia tidak memakai atribut kerajaan—hanya kain biasa—sehingga mereka tidak merasa takut. Ia mendengarkan cerita mereka bergantian, lalu bertanya kepada penonton: "Apakah ada di antara kalian yang melihat kejadian itu?" Seorang anak kecil mengangkat tangan. Ia melihat bahwa jaring kedua nelayan itu memang saling terkait di dalam air, sehingga tidak mungkin memisahkan ikan mana milik siapa.

Mattolabali menghela napas. Kemudian ia mengambil ikannya, membaginya menjadi dua bagian yang sama, dan memberikan masing-masing separuh kepada kedua nelayan itu. "Kalian berdua sama-sama mencari nafkah di laut yang sama," katanya. "Laut tidak pernah bertanya kalian dari desa mana. Laut memberi tanpa pilih kasih. Bagilah hasilnya, dan kalian berdua akan makan malam ini." Kedua nelayan itu tersenyum malu dan berjabat tangan. Para tetua mengangguk puas. Mattolabali lulus ujian pertama.

Ujian kedua: Menolak suap (tawaran perkebunan dari saudagar Johor)

Beberapa minggu kemudian, Mattolabali didatangi seorang saudagar kaya dari Johor bernama Tuan Karim. Tuan Karim meminta izin untuk membuka perkebunan lada yang sangat luas di wilayah Padang. Sebagai imbalannya, ia akan memberikan 10% keuntungan langsung kepada kas pribadi raja—bukan kas kerajaan. Tawaran ini sangat menggoda. Emas, kain sutra, bahkan seorang guru agama dijanjikan.

Mattolabali terdiam sejenak. Ia tahu bahwa Tuan Karim adalah orang kepercayaan para tetua yang sengaja dikirim untuk menguji apakah ia bisa menolak suap. Dengan suara tenang, ia menjawab: "Tuan Karim, aku menghargai tawaranmu. Tetapi perkebunan lada itu akan berada di tanah Padang—tanah ibuku. Rakyatku di sana sudah hidup dengan hutan dan ladang mereka selama berabad-abad. Jika aku izinkan kau membuka perkebunan raksasa, mereka akan kehilangan tempat tinggal. Apa gunanya emas bagiku jika rakyatku mengutuk namaku? Urungkan niatmu. Tapi jika kau ingin berdagang lada seperti biasa, pelabuhan Simboro tetap terbuka untukmu."

Tuan Karim tersenyum dan mengakui bahwa ia diutus untuk menguji Mattolabali. "Engkau lulus, Tuanku. Engkau lebih mencintai rakyatmu daripada emas. Itu tanda pemimpin sejati."

Ujian ketiga: Memaafkan musuh (Puang Lemo)

Ujian terakhir adalah yang paling berat. Puang Lemo—paman Mattolabali sendiri yang selama ini secara diam-diam mendukung rencana pemisahan kerajaan dan bersekongkol dengan utusan Gowa—kedapatan menyembunyikan bukti-bukti pengkhianatan. Daeng Mallombasi dan para tetua mendesak agar Puang Lemo dihukum mati, sesuai hukum Marru'dua Gala'gar yang menyatakan bahwa pengkhianat kerajaan dijatuhi hukuman mati.

Sidang adat digelar di Danga. Puang Lemo dihadirkan dengan tangan terikat, wajahnya pucat pasi. Para hadirin menatap Mattolabali, menunggu keputusan. Jika ia menghukum mati pamannya, ia akan terlihat tegas tetapi kejam. Jika ia membiarkannya bebas, ia akan terlihat lemah.

Mattolabali meminta waktu untuk berbicara berdua dengan pamannya di ruang tertutup. Tidak ada yang tahu persis apa yang mereka bicarakan, tetapi lontarak menyebutkan bahwa setelah pertemuan itu, Puang Lemo menangis tersedu-sedu dan memeluk Mattolabali. Keesokan harinya, Mattolabali mengumumkan keputusannya: Puang Lemo tidak akan dihukum mati. Namun ia diasingkan ke sebuah desa terpencil di kaki gunung, jauh dari pusat pemerintahan. Semua harta bendanya disita untuk kas kerajaan, kecuali sebidang tanah kecil untuk menghidupi keluarganya.

"Kematian tidak akan mengembalikan kepercayaan yang telah rusak," kata Mattolabali di hadapan sidang. "Tetapi pengasingan dan penyitaan harta akan mengajarkan bahwa pengkhianatan tidak pernah menguntungkan. Aku memaafkan pamanku, tetapi aku tidak akan melupakan kesalahannya. Itulah keadilan yang tidak kejam tetapi tetap memberi pelajaran." Para tetua terkesan. Puang Lemo, meskipun kehilangan segalanya, masih diberi nyawa dan kesempatan bertobat.

Pengakuan sebagai pemersatu

Setelah lulus ketiga ujian Pannambang, Mattolabali secara resmi diakui oleh seluruh tetua Kurri-Kurri dan Langga Monar sebagai pemersatu sejati. Tidak ada lagi yang mempertanyakan kelayakannya. Tidak ada lagi bisik-bisik tentang pemisahan kerajaan. Namun Mattolabali tidak berhenti di situ. Ia sadar bahwa pengakuan pribadi tidak cukup. Ia perlu melembagakan persatuan, mengubah dua kerajaan yang masih terpisah secara administratif menjadi satu entitas yang tidak bisa dipisahkan lagi.

Di suatu pagi, setelah merenung semalaman di tepi sungai yang sama tempat ia menjalani Macco'bo, Mattolabali memanggil seluruh Galaggar Pitu dan para tetua dari kedua kerajaan. Ia mengumumkan sesuatu yang belum pernah terpikirkan oleh siapa pun: "Kurri-Kurri dan Langga Monar telah bersatu di dalam diriku sebagai manusia. Namun persatuan itu akan mati bersamaku jika tidak dilembagakan. Mulai hari ini, aku menghapus nama Kurri-Kurri dan Langga Monar sebagai entitas terpisah. Aku menggabungkan keduanya menjadi satu kerajaan baru. Kerajaan itu akan kita beri nama Mamuju—dari kata Majemuju, yang berarti 'banyak buah'. Sebab dari persatuan ini, akan lahir buah-buah kemakmuran bagi seluruh rakyat."

Seketika itu juga, para tetua terdiam. Beberapa terkejut, beberapa menangis haru. Namun tidak ada yang berani menentang. Mattolabali telah membuktikan diri dalam Macco'bo dan Pannambang. Ia bukan lagi pangeran yang ragu-ragu. Ia adalah pemersatu yang disegani.

Penutup Bab 5: Upacara Macco'bo dan ujian Pannambang bukan sekadar ritual seremonial. Mereka adalah proses penyaringan yang memastikan bahwa seorang pemimpin benar-benar memiliki kebijaksanaan, integritas, dan keberanian. Mattolabali lulus dengan gemilang. Kini saatnya ia melaksanakan janji terbesarnya: menyatukan Kurri-Kurri dan Langga Monar menjadi Kerajaan Mamuju. Bab berikutnya akan mengisahkan proklamasi persatuan dan lahirnya nama "Mamuju".

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAMUJU MISTIK: 10 KISAH GAIB YANG MENGGENTARKAN MAMUJU

PEMERINTAH DAERAH DI ERA EFISIENSI

BAB 11: KERANGKA HUKUM DAN KEBIJAKAN PENDUKUNG