BAB 5 Minggu Pertama yang Menentukan
Ketika Habibie Membaca Masa Depan Rupiah, dan Dunia Belum Percaya
"Saya Tidak Perlu Ekonom, Saya Perlu Logika"
Tiga hari setelah dilantik sebagai presiden, BJ Habibie menerima tamu istimewa di ruang kerjanya yang masih berantakan. Kotak-kotak pindahan berserakan. Foto keluarga Soeharto belum sepenuhnya dilepas dari dinding. Di sudut meja, sebuah model pesawat N250 Gatotkaca berdiri tegak—seolah mengingatkan bahwa pemilik ruangan ini bukan politikus biasa.
Tamu itu adalah Prof. Jimly Asshiddiqie, seorang pakar hukum tata negara yang saat itu belum menjadi ketua Mahkamah Konstitusi. Jimly dipanggil bukan untuk membahas hukum, tapi untuk sebuah obrolan santai yang ternyata menjadi salah satu catatan paling menarik dalam sejarah kepresidenan Indonesia.
"Prof, saya mau cerita," kata Habibie sambil membuka map tebal berisi grafik dan tabel.
Jimly duduk di kursi tua di depan meja. Ia tidak tahu apa yang akan didengar. Sebagai seorang pakar hukum, ia tidak terlalu paham ekonomi. Tapi Habibie tidak membutuhkan ekonom. Ia membutuhkan teman bicara yang jujur.
Apa yang terjadi dalam pertemuan itu akan membuat Jimly terpana—dan kemudian menjadi saksi bagaimana seorang insinyur pesawat terbang mampu memprediksi pergerakan rupiah tiga bulan ke depan dengan akurasi yang hampir sempurna.
1. Analisis Minggu Pertama: "Nanti Begini, Nanti Begitu"
Habibie membuka map-nya. Di dalamnya ada grafik pergerakan rupiah selama tiga bulan terakhir—sejak krisis mulai memuncak di awal 1998. Tapi yang menarik bukan grafik masa lalu. Yang menarik adalah lembaran-lembaran berikutnya berisi proyeksi ke depan.
Dengan logat Jerman yang kental, Habibie mulai menjelaskan:
"Jim, lihat. Ini pola pergerakan dolar sejak Januari. Naik-turunnya tidak acak. Ada yang mendorong dari belakang. Spekulan. Mereka punya skema. Tapi saya sudah tahu titik lemah mereka."
Ia lalu menarik napas panjang dan melanjutkan:
*"Sekarang rupiah sekitar Rp16.000-an. Dalam minggu-minggu pertama saya, belum banyak berubah. Tapi nanti, tiga bulan ke depan, akan turun. Bukan karena saya pesulap, tapi karena langkah-langkah yang saya ambil sekarang akan mulai terasa. Pertama, kita hentikan bank rush dengan jaminan 100%. Kedua, kita restrukturisasi perbankan. Ketiga, BI akan kita bebaskan dari campur tangan pemerintah."*
Jimly, yang tidak pernah belajar ekonomi, hanya bisa bertanya polos: "Lalu berapa prediksi Bapak?"
Habibie menunjuk sebuah angka di kertasnya: Rp7.600.
Jimly terbelalak. "Pak, itu terlalu drastis. Dari 16.000 ke 7.600? Hanya dalam tiga bulan?"
Habibie tersenyum. *"Bukan tiga bulan, Jim. Dalam 17 bulan masa jabatan saya. Tapi fase pertama, sebelum akhir tahun, akan terlihat. Dolar akan ke Rp7.000-an. Percaya saya."*
Jimly menggelengkan kepala. Ia tidak bermaksud meragukan, tapi sebagai seorang akademisi, ia tahu bahwa prediksi ekonomi jarang seakurat itu. Namun, karena hormat, ia hanya berkata: "Baik, Pak. Kita lihat saja nanti."
Dan yang terjadi kemudian? Kurang dari setahun kemudian, rupiah benar-benar menyentuh level Rp6.500–Rp7.600. Prediksi Habibie terbukti. Jimly, ketika menceritakan kembali pengalaman ini bertahun-tahun kemudian, hanya bisa berkata: "Saya saksi. Beliau tahu persis apa yang beliau lakukan. Padahal bukan ekonom."
2. Bagaimana Habibie Bisa Prediksi? Rahasia di Balik Grafik
Mungkin Anda bertanya: bagaimana mungkin seorang insinyur pesawat bisa memprediksi pergerakan kurs dengan akurasi seperti itu? Apakah dia peramal? Atau punya akses informasi rahasia?
Jawabannya lebih sederhana: Habibie membaca situasi seperti ia membaca instrumen pesawat. Dan ia memahami psikologi pasar.
Dalam dunia penerbangan, seorang insinyur harus mampu memprediksi perilaku material di bawah tekanan. Retakan pada sayap pesawat tidak muncul tiba-tiba; ia merambat dari titik kecil. Habibie menemukan teori perambatan retakan (crack propagation theory) yang dipakai NATO. Prinsip yang sama ia terapkan pada ekonomi:
Spekulan mata uang seperti retakan kecil yang jika dibiarkan akan merambat.
Krisis kepercayaan adalah titik lemah struktural.
Jika Anda bisa mengidentifikasi di mana letak kerusakan, Anda bisa merancang intervensi yang tepat.
Dengan logika itu, Habibie memetakan tiga faktor utama yang mempengaruhi rupiah:
Likuiditas perbankan – jika bank rush berhenti, tekanan jual rupiah berkurang.
Suku bunga – jika suku bunga terlalu tinggi, usaha mati; jika terlalu rendah, inflasi meledak. Ia mencari titik tengah.
Kepercayaan asing – investor butuh sinyal stabilitas politik dan aturan main yang jelas.
Dari situ ia membuat model proyeksi. Bukan dengan rumus ekonomi yang rumit, tapi dengan logika kausalitas sederhana: Jika saya melakukan A, maka B akan terjadi, lalu C, dan akhirnya D.
Dan karena ia disiplin mengeksekusi langkah-langkahnya, prediksi itu menjadi kenyataan.
3. Percakapan dengan Jimly: Lebih dari Sekadar Prediksi
Pertemuan Habibie dengan Jimly Asshiddiqie bukan hanya soal angka. Lebih dari itu, itu adalah sesi berbagi filosofi kepemimpinan. Jimly, yang saat itu belum terlalu dekat dengan Habibie, mulai memahami mengapa insinyur ini dipilih Soeharto menjadi wakil presiden.
Dalam buku "Detik-Detik yang Menentukan", Habibie menulis bahwa ia sering berbicara dengan berbagai kalangan—termasuk yang tidak paham ekonomi—untuk menguji logikanya. "Jika saya bisa menjelaskan rencana saya kepada orang non-ekonom dan mereka mengerti, maka rencana itu baik. Jika tidak, ada yang salah," katanya.
Jimly mengakui bahwa ia tidak mengerti detail teknis kebijakan moneter. Tapi ia mengerti arah logika Habibie: stabilkan sistem, jangan terpancing spekulan, dan lindungi rakyat kecil.
"Pak Habibie itu rasional sekali," kenang Jimly kemudian. "Dia melihat Indonesia seperti pesawat terbang. Dan dia adalah kaptennya. Semua sudah dianalisis—untuk keamanan, untuk ekonomi, untuk pemilu. Dia hebat."
4. Keberanian di Tengah Kepanikan: Tanpa Pendamping Ekonom
Satu hal yang paling mencengangkan dari minggu-minggu pertama Habibie adalah: ia tidak memiliki tim ekonom handal di sampingnya.
Bandingkan dengan presiden sebelumnya. Soeharto dikelilingi oleh teknokrat ekonomi lulusan UC Berkeley seperti Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, dan Radius Prawiro. Mereka adalah "Mafia Berkeley" yang sangat disegani. Tapi mereka semua sudah tua atau mundur setelah Soeharto lengser.
Habibie hanya punya beberapa staf teknis dari BAPPENAS dan BI. Ia tidak punya menteri koordinator ekonomi yang mumpuni pada minggu-minggu awal. Ia bahkan harus merangkap sebagai menteri riset dan teknologi sambil memikirkan strategi rupiah.
Situasi ini bisa membuat presiden mana pun panik. Tapi Habibie tidak.
Ia malah mengambil keputusan-keputusan besar tanpa banyak diskusi panjang. Mengapa? Karena ia sudah menghabiskan berbulan-bulan, bahkan sebelum menjadi presiden, untuk mempelajari krisis. Ketika masih menjadi wakil presiden (Maret–Mei 1998), ia diam-diam mengumpulkan data, berbicara dengan para ekonom muda yang tidak terjebak dalam arus utama Orde Baru, dan mulai merumuskan rencana kontingensi.
Jadi, meskipun secara formal ia tidak didampingi oleh dewan ekonom, secara substantif ia sudah siap.
"Saya sudah memikirkan ini sejak Januari 1998," kata Habibie dalam memoarnya. "Saya tahu pada suatu saat Pak Harto mungkin tidak bisa lagi memimpin. Siapa yang akan menggantikan? Saya. Saya harus siap."
5. Momen Kunci: Ketika Habibie Menolak "Nasihat" Ekonom Asing
Pada minggu pertama, banyak ekonom asing dan perwakilan IMF yang meminta audiensi dengan presiden baru. Mereka membawa proposal setebal 50 halaman. Intinya: ikuti resep standar—naikkan suku bunga, cabut subsidi, tutup bank.
Habibie membaca proposal itu dengan saksama. Lalu ia meletakkannya di atas meja. "Saudara-saudara," katanya dengan senyum diplomatis, "saya akan mempertimbangkan. Tapi izinkan saya mengingatkan: Indonesia bukan Filipina. Kami punya sejarah dan realitas sosial yang berbeda. Resep yang sama belum tentu menghasilkan hasil yang sama."
Para ekonom asing itu terkejut. Mereka terbiasa dengan presiden-presiden Asia Tenggara yang patuh pada rekomendasi IMF. Tapi Habibie berbeda. Ia tidak menolak mentah-mentah, tapi ia juga tidak tunduk.
Ia memilih jalan tengah: mengambil elemen yang masuk akal dari rekomendasi IMF, dan menolak yang tidak sesuai dengan kondisi Indonesia.
Keputusan ini berani karena risiko politiknya besar. Jika gagal, ia akan disalahkan. Jika berhasil, ia yang akan menuai pujian. Tapi Habibie tidak berpikir tentang pujian. Ia berpikir tentang menyelamatkan bangsa.
6. Hasil Prediksi: Ketika Dunia Terperangah
Waktu berjalan. Akhir 1998, rupiah yang tadinya di atas Rp15.000 mulai bergerak ke bawah Rp10.000. Awal 1999, stabil di kisaran Rp8.000–Rp9.000. Menjelang Oktober 1999, rupiah sempat menyentuh Rp6.500–Rp7.600.
Prof. Jimly, yang menyimpan catatan pertemuan pertamanya dengan Habibie, kembali mengingat angka yang ditunjukkan presiden itu: Rp7.600. Ternyata hampir persis.
Jimly kemudian menceritakan pengalaman ini dalam berbagai forum akademik. "Saya tidak pernah meragukan Pak Habibie lagi setelah itu," katanya. "Beliau membuktikan bahwa kejeniusan tidak diukur dari gelar, tapi dari kemampuan membaca sistem dan mengambil keputusan tepat di saat kritis."
Para ekonom asing yang awalnya meremehkan pun mulai berbalik pujian. Majalah Asiaweek yang dulu menyebut kebijakan Habibie sebagai "pertaruhan" harus mengakui bahwa langkah-langkahnya berhasil. Bahkan IMF, dalam laporan internalnya, mengakui bahwa Indonesia di bawah Habibie menunjukkan pemulihan yang lebih cepat dari perkiraan.
Penutup Bab 5: Sebuah Pelajaran tentang Keberanian Intelektual
Minggu pertama Habibie sebagai presiden adalah masterclass tentang kepemimpinan di tengah krisis. Ia tidak memiliki tim ekonom besar, tidak memiliki pengalaman mengelola moneter, dan dunia meragukannya. Tapi ia memiliki tiga hal yang lebih berharga:
Kemampuan analitis yang terasah dari puluhan tahun sebagai insinyur pesawat.
Keberanian mengambil keputusan tanpa terjebak dalam kepanikan kolektif.
Hati nurani yang menempatkan rakyat di atas dogma ekonomi.
Prediksi rupiah yang akurat bukanlah sihir. Itu adalah hasil dari kerja keras membaca data, memahami psikologi pasar, dan merancang intervensi yang tepat waktu.
Kini, setelah strategi stabilisasi darurat berjalan, Habibie masuk ke fase berikutnya: reformasi struktural. Dan di sanalah kejeniusannya yang sesungguhnya terpancar—ketika ia membongkar sistem perbankan yang korup, memerdekakan Bank Indonesia, dan berani melawan IMF demi kepentingan rakyat.
Bersambung ke Bab 6: "Logika Insinyur vs Logika Ekonom Konvensional"
(Mengapa pendekatan Habibie berbeda dari ekonom pada umumnya, dan bagaimana ia membuktikan bahwa kadang orang awam justru melihat solusi lebih jernih)
BAB 6 Logika Insinyur vs Logika Ekonom Konvensional
awal bacaan KEJENIUSAN PRESIDEN BJ HABIBIE MENSTABILKAN RUPIAH DALAM 17 BULAN PADA TAHUN 1998

Komentar
Posting Komentar