Bab 3 | Kelahiran dan Pendidikan Mattolabali
Bagian 2:
Mattolabali – Pewaris Dua Dunia
Bab 3 | Kelahiran dan Pendidikan Mattolabali
3.1 Makna Nama “Mattolabali” (Lasalaga
Mattolabali)
Beberapa
bulan setelah pembangunan Kedaton Danga selesai, kabar gembira menyebar dari
istana ke seluruh pelosok Kurri-Kurri dan Langga Monar: Ratu Tomellipa Karoro
sedang mengandung. Para tetua, dukun istana, dan inang pengasuh dikerahkan
untuk memastikan kehamilan berjalan selamat. Raja Tarapati, yang biasanya sibuk
dengan urusan pelabuhan dan diplomasi, kini lebih banyak tinggal di Danga. Ia
sendiri yang memerintahkan doa-doa adat dipanjatkan di bukit-bukit sekitar.
Pada
suatu malam saat bulan purnama—diperkirakan pada pertengahan abad ke-16,
sekitar tahun 1520-an atau awal 1530-an (karena penyatuan terjadi sekitar
1540)—Tomellipa melahirkan seorang putra. Seluruh istana bersorak. Lontarak
Mandar mencatat: "Saat
ia lahir, angin barat berhenti bertiup, ombak di Simboro menjadi tenang, dan
seekor burung elang putih berputar tujuh kali di atas istana." Tentu ini bahasa simbolis untuk
menandakan bahwa bayi ini istimewa.
Proses
pemberian nama tidak dilakukan sembarangan. Sesuai adat, bayi yang baru lahir
tidak langsung diberi nama hingga berusia 40 hari. Selama masa itu, ia disebut "anak yang masih dalam selimut
kabut". Para
tetua dari kedua kerajaan—Kurri-Kurri dan Langga Monar—berkumpul di Danga untuk
bermusyawarah. Tarapati dan Tomellipa duduk bersama, mendengarkan usulan.
Beberapa
usulan muncul: ada yang menginginkan nama yang mengagungkan leluhur Kutai, ada
yang mengusulkan nama pahlawan legendaris dari cerita rakyat Padang. Namun
semua usulan itu tidak mencapai mufakat. Hingga akhirnya, seorang tetua tua
dari Kurri-Kurri yang sudah uzur—namanya disebut Puang La Balu—berdiri
dan berkata:
"Anak
ini lahir dari dua sungai yang berbeda. Ayahnya dari laut yang membentang luas.
Ibunya dari gunung yang menjulang tinggi. Tidak pantas ia dinamai hanya dengan
satu pusaka. Namailah ia Mattolabali—yang membawa keseimbangan. Sebab ia akan
menyatukan apa yang terpisah dan menyeimbangkan apa yang timpang."
Usulan
Puang La Balu diterima bulat. Dalam bahasa Mandar kuno, Matto- berarti "yang melakukan" atau "yang
membawa", sedangkan labali berarti "kembali seimbang"
atau "pulih". Jadi, Mattolabali
berarti Sang Pembawa
Keseimbangan—seseorang yang datang untuk memulihkan harmoni
yang hilang. Dalam beberapa naskah lontarak, ia juga disebut dengan nama
lengkap Lasalaga
Mattolabali. Lasalaga (mungkin dari kata lasa yang berarti "pengetahuan" atau
"telaga" dalam pengaruh Bali) menunjukkan bahwa sejak kecil ia
dipersiapkan menjadi pemikir dan pemimpin yang bijak.
Nama
Mattolabali mengandung program politik yang jelas. Sejak lahir, anak ini
diharapkan menjadi jembatan
antara dua peradaban yang berbeda: dari pihak ayah, ia mewarisi
darah biru Kutai, tradisi maritim Kurri-Kurri, hukum Marru'dua Gala'gar, dan jaringan diplomatik dengan
Portugis, Johor, serta kerajaan lain. Dari pihak ibu, ia mewarisi hak atas
Langga Monar, kearifan agraris pedalaman, hubungan darah dengan klan-klan
Padang, dan pengetahuan tentang hutan, rotan, damar, serta gaharu. Lontarak
menyebut dengan puitis: "Ia
memiliki dua pusaka di tangan kanan dan kiri. Tangan kanan memegang lautan,
tangan kiri memegang daratan. Ketika ia berjalan, keduanya tidak tumpah."
3.2 Didik oleh Ayah (Maritim) dan Ibu
(Agraris)
Mattolabali
tidak disekolahkan di istana yang tertutup. Tarapati dan Tomellipa sepakat
bahwa anak mereka harus mengenal
langsung kedua dunia yang akan ia pimpin. Maka, pendidikan
Mattolabali dibagi menjadi dua fase dan dua lokasi utama.
Fase
1: Masa Kecil di Danga (Usia 5–10 tahun)
Di
Kedaton Danga, Mattolabali tinggal bersama ibunya, Tomellipa Karoro, serta para
tetua Langga Monar. Di sini ia diajari:
·
Pengetahuan
alam pedalaman
– Mengenal berbagai jenis pohon, mana yang kayunya keras untuk bangunan, mana
yang getahnya menjadi damar, mana yang buahnya bisa dimakan. Ia diajak berjalan
ke hutan bersama para pemburu dan peramu.
·
Tata
cara adat Padang
– Bagaimana memimpin upacara panen, menyambut tamu kehormatan, dan cara duduk
dalam musyawarah (sipulung). Tomellipa sendiri yang mengajarkan
pentingnya menghormati para tetua perempuan di Bola Tangnga.
·
Bahasa
dan sastra lisan
– Ia menghafal syair-syair epik tentang leluhur Padang, cerita tentang dewi
padi dan roh laut. Ia juga mulai belajar menulis aksara lontarak, meskipun
kelak tradisi lisan tetap dominan.
Namun,
Tarapati tidak ingin putranya hanya mengenal pedalaman. Ia sering menjemput
Mattolabali untuk dibawa ke Simboro.
Fase
2: Magang di Pelabuhan Simboro (Usia 10–15 tahun)
Mattolabali
dibawa ke pelabuhan tersibuk di pesisir barat Sulawesi. Di sini ia tinggal di
rumah wakil raja, bergaul dengan para saudagar, nakhoda, dan buruh pelabuhan.
Pendidikannya meliputi:
·
Bahasa
asing –
Tarapati menyuruh para saudagar Portugis, Melayu, dan Tionghoa mengajari
Mattolabali kata-kata dasar dalam bahasa mereka. Bukan agar ia fasih, tetapi
agar ia bisa mengenali siapa yang jujur dan siapa yang curang dari cara
bicaranya.
·
Hukum
Marru'dua Gala'gar
– Mattolabali menghafal tiga pilar hukum (Sipakatau, Sipakainge', Sipatokkong)
dan diajak menyaksikan langsung sidang di pelabuhan. Ia melihat bagaimana
seorang hakim yang dipilih saudagar memutuskan sengketa timbangan antara orang
Bugis dan Gujarat.
·
Navigasi
dan prakiraan cuaca
– Ia belajar membaca tanda-tanda alam: warna langit di pagi hari, arah angin,
tinggi rendah ombak, dan seberapa terendam akar pohon beringin di tanjung.
Pengetahuan ini penting agar suatu saat ia bisa memimpin armada sendiri.
·
Diplomasi – Tarapati sering mengajak
Mattolabali menemui utusan dari Johor atau Kutai. Ia diajari cara memberi
hadiah yang tepat, menolak permintaan tanpa menyinggung, dan membaca niat
tersembunyi di balik senyuman.
Selain
dari ayah dan ibu, Mattolabali juga didik oleh para tetua dari kedua kerajaan. Mereka
datang silih berganti ke Danga atau Mattolabali didatangkan ke tempat mereka.
Di antaranya: Puang La
Balu (sejarah dan hukum adat), Ibu Tomminaa (pengobatan tradisional), Daeng Mangande
(perkapalan dan navigasi), Puang
di Sa'bang (perang gerilya di hutan), dan To'Barani (silat dan
bela diri). Mattolabali dikenal sebagai murid cerdas dan cepat tangkap, tetapi
yang lebih penting: ia
bisa bergaul dengan semua kalangan. Di Danga ia duduk di lantai
beralas tikar bersama tetua tua yang gigi ompong; di Simboro ia memanjat tiang
kapal bersama anak-anak buruh pelabuhan. Sifat inilah yang kelak membuatnya
dicintai rakyat.
3.3 Ujian Pertama: Menyelesaikan Sengketa
Lada
Ketika
Mattolabali berusia sekitar 16 tahun, kesehatan Raja Tarapati mulai menurun.
Demam dan batuk-batuk sering menyerang—mungkin karena usianya yang lanjut atau
terlalu sering terpapar angin laut. Tarapati sadar bahwa waktunya tidak lama
lagi. Ia perlu melihat apakah Mattolabali sudah layak memegang tampuk
kepemimpinan (sebagai putra mahkota, bukan sebagai raja karena Tarapati masih
hidup). Maka ia memberi Mattolabali tugas
ujian: menyelesaikan sengketa antara seorang saudagar Kutai dan
seorang saudagar Johor yang berselisih mengenai muatan lada.
Kisah
ini tercatat dalam tradisi lisan Mamuju dan juga disinggung dalam lontarak.
Saudagar dari Kutai mengklaim bahwa 50 karung lada yang disimpan di gudang
Simboro adalah miliknya, karena ia yang membayar di muka kepada petani.
Saudagar Johor mengklaim bahwa lada itu miliknya, karena ia sudah membeli dari
perantara dan memiliki surat tanda terima. Sengketa ini sudah berlarut-larut
dan tidak terselesaikan oleh hakim pelabuhan biasa karena kedua belah pihak
sama-sama bersikeras dan bukti yang ada saling bertentangan.
Mattolabali
tidak terburu-buru memutuskan. Ia memanggil kedua saudagar itu ke istana
Danga—bukan ke ruang sidang di Simboro. Di ruang yang lebih intim dan netral,
ia menyajikan sirih dan minuman hangat. Ia mendengarkan keluh kesah mereka
dengan sabar. Setelah kedua saudagar selesai berbicara, Mattolabali tidak
memeriksa karung lada atau memanggil saksi lebih lanjut. Sebaliknya, ia
bertanya sebuah pertanyaan sederhana namun mendalam:
"Kalian
berdua berasal dari negeri yang jauh. Kapal kalian telah menempuh ribuan mil.
Mengapa kalian memilih Simboro sebagai tempat berdagang, bukan pelabuhan
lain?"
Kedua
saudagar itu terdiam sejenak. Saudagar Johor menjawab: "Karena di Simboro ada keadilan.
Hukum Sipakatau menjamin barang kami aman." Saudagar Kutai mengangguk setuju.
Mattolabali
lalu berkata: "Kalian
berdua datang dari negeri yang jauh. Kalian bisa saja pergi ke pelabuhan lain.
Namun kalian memilih Simboro. Mengapa? Karena di sini kalian percaya ada
keadilan. Saya tidak akan memenangkan salah satu dari kalian. Saya akan meminta
kalian berdamai: lada itu dibagi dua. Kerugian separuh harga akan ditanggung
oleh kas kerajaan sebagai bentuk terima kasih karena kalian tetap setia
berdagang di Simboro. Tapi dengan satu syarat: mulai sekarang, setiap transaksi
lada harus dicatat oleh juru tulis kerajaan dengan dua tanda tangan, agar tidak
ada lagi sengketa seperti ini."
Kedua
saudagar itu terkejut. Mereka tidak menyangka putra mahkota yang masih muda
bisa berpikir sejernih itu. Mereka tidak kehilangan semuanya—masing-masing
mendapat setengah lada, dan kerajaan menanggung separuh nilai yang hilang.
Mereka bersalaman di hadapan Mattolabali. Tarapati, yang mendengar dari balik
tirai, tersenyum puas.
Lontarak
mengabadikan momen ini: "Mattolabali
tidak mencari siapa yang salah. Ia mencari jalan yang tidak merugikan kedua
belah pihak. Itulah awal mula dikenalinya kebijaksanaannya." Ujian pertama lulus. Mattolabali
menunjukkan bahwa ia tidak hanya memahami hukum Marru'dua Gala'gar, tetapi juga mampu menerapkannya
dengan fleksibilitas dan kemanusiaan. Ia tidak kaku seperti ayahnya yang kadang
terlalu keras menjalankan aturan. Ia justru menambahkan unsur sipakainge' (saling mengingatkan) dan sipakatau (saling memanusiakan) dengan cara
yang lebih halus.
Dari
sini, Mattolabali mulai dipersiapkan untuk tugas yang lebih besar: menyatukan Kurri-Kurri dan Langga
Monar. Namun sebelum itu, ia harus menyaksikan sendiri
ketegangan antara pesisir dan pedalaman yang semakin memuncak, serta menghadapi
intrik para bangsawan yang ingin memisahkan dua kerajaan. Bab berikutnya akan
mengisahkan masa muda Mattolabali yang penuh ujian.
Penutup
Bab 3:
Mattolabali adalah buah dari pernikahan dua dunia. Nama, pendidikan, dan ujian
pertamanya semua mengarah pada satu misi: menjadi pemersatu. Ia tidak dididik
untuk menjadi raja yang absolut, melainkan jembatan antara laut dan darat, antara
Kurri-Kurri dan Langga Monar, antara masa lalu dan masa depan Mamuju.

Komentar
Posting Komentar