Bab 21: Refleksi Dua Tahun – Keberhasilan dan Kegagalan

 



Dua tahun bukan waktu yang lama untuk mengubah sebuah kapal besar bernama APBN. Tapi bagi Menteri Purbaya Yudhi Sadewa, dua tahun terasa seperti satu dekade. Ia telah melalui badai demo, anjloknya IHSG, kebocoran bea cukai, tunggakan pajak raksasa, hingga tekanan global yang mengguncang banyak negara. Kini, di penghujung 2026, saat ia duduk di ruang kerjanya yang sederhana—tanpa pajangan mewah, hanya tumpukan dokumen dan kalkulator saku—Purbaya merenung. Apa saja yang sudah ia capai? Di mana ia gagal? Dan apa yang akan ia wariskan kepada penerusnya? Bab ini adalah potret jujur tentang keberhasilan dan kegagalan seorang menteri keuangan yang blak-blakan, disusun dari data, pengakuan publik, dan catatan-catatan kecil yang bocor dari internal Kemenkeu.


✅ A. Keberhasilan: Empat Pilar yang Kokoh

1. Defisit Terkendali, Utang Terjaga

Purbaya mewarisi defisit yang mengancam tembus 3% PDB di 2025. Ia berhasil menutup tahun dengan defisit 2,92% —tipis, tapi masih di bawah garis merah. Di 2026, ia bahkan memangkasnya menjadi sekitar 2,4-2,45% , di bawah target APBN sekalipun. Rasio utang/PDB stabil di kisaran 40,5%, jauh dari batas bahaya.

“Defisit itu seperti demam. Sedikit boleh, asal tidak kejang-kejang. Selama dua tahun, demam APBN kita terkendali. Itu keberhasilan kolektif, bukan saya sendiri.”

2. Pajak Pulih dan Tembus Rekor

Dari keterpurukan tax ratio terendah se-ASEAN (11,9%), Purbaya menaikkannya menjadi 12,4% dalam dua tahun. Penerimaan pajak 2026 diproyeksi Rp2.510 triliun , melampaui target dan menjadi rekor sepanjang masa. Ia mencapai ini tanpa menaikkan tarif, hanya dengan menagih tunggakan dan memperbaiki coretax.

Keberhasilan ini diakui oleh IMF dan Bank Dunia. Dalam laporan Article IV 2026, IMF menulis: “Indonesia menunjukkan perbaikan signifikan dalam administrasi perpajakan, didorong oleh reformasi sistem dan penegakan hukum yang lebih tegas.”

3. PNBP Melampaui Target di 2025

Meskipun di 2026 PNBP sedikit turun karena harga komoditas, Purbaya berhasil mencatatkan PNBP Rp534,1 triliun di 2025, atau 104% dari target. Ini adalah salah satu penyelamat defisit di tahun pertama kepemimpinannya. Dividen BUMN, pendapatan SDA, dan layanan pemerintah yang didigitalisasi menjadi penyumbang utama.

4. Stabilitas Energi Terjaga

Janji Purbaya bahwa harga BBM bersubsidi tidak naik sepanjang 2026 ditepati, meskipun harga minyak dunia sempat menyentuh USD 95 per barel. Subsidi membengkak, namun SAL yang tebal (awal 2026 Rp420 triliun) menjadi bantalan. Masyarakat kelas bawah tidak merasakan kenaikan harga transportasi, sehingga inflasi tetap terkendali di kisaran 3-3,5%.

5. Pasar Modal Pulih Pasca-Badai MSCI

IHSG yang anjlok 7,35% di akhir Januari 2026 berhasil pulih ke level 8.050 pada Maret, dan terus menguat hingga 8.400 di akhir tahun. Investor asing yang kabur mulai kembali, dan jumlah investor ritel meningkat 18% berkat kampanye literasi yang digencarkan OJK dan BEI.

Purbaya mengakui bahwa pemulihan ini bukan semata karena kebijakannya, tetapi karena sinergi KSSK dan keberanian OJK membersihkan saham gorengan.

6. Sidang The Bottlenecking: Investasi Rp525 Triliun Dilepaskan

Salah satu terobosan paling nyata adalah Sidang The Bottlenecking. Dari 112 aduan investasi, 58 kasus selesai dalam waktu kurang dari enam bulan, melepas nilai investasi yang terhambat hingga Rp525 triliun. Proyek Masela yang mandek hampir satu dekade akhirnya groundbreaking, dan investor Jepang di KEK Galang Batang bisa melanjutkan pembangunan smelter.

Para pelaku usaha yang tadinya sinis mulai melirik Indonesia lagi. Ease of Doing Business ranking Indonesia diperkirakan naik dari peringkat 73 ke peringkat 60-an berkat langkah-langkah ini.


❌ B. Kegagalan: Tiga Catatan yang Mengganggu

Namun Purbaya bukanlah pemimpin yang hanya mendengar pujian. Ia secara terbuka mengakui tiga kegagalan utama yang masih menghantuinya.

1. Restitusi Pajak Masih Tinggi

Meskipun coretax diperbaiki, nilai restitusi pajak di 2026 masih diproyeksi sekitar Rp270 triliun , turun dari Rp361 triliun di 2025 tetapi masih sangat besar. Purbaya menduga ada praktik penggelembungan restitusi oleh perusahaan-perusahaan nakal yang memanfaatkan celah regulasi.

“Ini PR terbesar saya yang belum selesai. Saya sudah perintahkan audit khusus, tapi mafia restitusi lihai bergerak. Kami akan terus buru.”

2. PNBP Volatil, Masih Terikat Komoditas

Kegagalan lainnya adalah ketidakmampuan melepaskan ketergantungan PNBP dari harga komoditas. Di 2026, ketika harga batubara dan minyak sawit turun, PNBP ikut merosot 3% (yoy). Purbaya ingin mendiversifikasi PNBP melalui digitalisasi layanan dan peningkatan dividen BUMN non-SDA, tetapi hasilnya belum signifikan.

“Kita masih terlalu bergantung pada keberuntungan harga komoditas. Itu tidak sehat. Saya ingin PNBP dari sektor teknologi dan jasa meningkat. Tapi itu butuh waktu.”

3. Pertumbuhan Ekonomi Melambat (4,9% vs Target 5,1%)

Inilah kegagalan yang paling ditonjolkan oleh oposisi dan kritikus. Target pertumbuhan APBN 2026 sebesar 5,1% tidak tercapai; realisasi hanya 4,9%. Penyebabnya adalah resesi global yang lebih dalam dari perkiraan, terutama di Eropa dan China yang memperlambat ekspor Indonesia.

Purbaya tidak mengelak.

“Saya gagal mencapai target pertumbuhan. Itu fakta. Tapi saya ingin bertanya: negara mana di G20 yang tumbuh di atas 5% di 2026? Hanya India dan Indonesia. India 6%, kita 4,9%. Sisanya di bawah 3% atau bahkan minus. Jadi, gagal target, tapi belum tentu buruk.”

Namun ia tetap memasukkan ini sebagai kegagalan pribadi. “Saya tidak suka membuat alasan. Target adalah target. Saya tidak tercapai, maka saya harus bertanggung jawab.”


🧐 C. Tabel Ringkasan Keberhasilan dan Kegagalan Purbaya 2025–2026

IndikatorTarget / EkspektasiRealisasiKategori
Defisit APBN 2025<3%2,92%✅ Berhasil
Defisit APBN 20262,5%±2,4-2,45%✅ Berhasil
Penerimaan pajak 2026Rp2.492 TRp2.510 T✅ Berhasil (rekor)
Tax ratio12% (proyeksi)12,4%✅ Berhasil naik 0,5%
Restitusi pajakMenurun drastisRp270 T (masih tinggi)❌ Gagal tekan
PNBP 2025100% target104%✅ Berhasil
PNBP 2026Rp460 T±Rp445 T (est.)❌ Volatil, di bawah target
Harga BBM bersubsidiTidak naikTidak naik✅ Berhasil
IHSG akhir 20268.500-9.000±8.400✅ Pulih, meski tipis dari target
Pertumbuhan ekonomi5,1%4,9%❌ Gagal target (karena eksternal)
Investasi bottleneck dilepas50 kasus58 kasus✅ Berhasil
Rasio utang/PDB<40%±40,5%⚠️ Sedikit di atas target

Purbaya menambahkan satu catatan: “Keberhasilan saya wariskan ke tim. Kegagalan saya tanggung sendiri.”


💬 D. Kutipan Penutup: “Saya Bukan Pahlawan, Saya Hanya Penjaga Dompet Negara”

Dalam pidato peringatan dua tahun masa jabatannya, yang disampaikan di hadapan ribuan pegawai Kementerian Keuangan, Purbaya memberikan pesan yang kemudian menjadi viral:

“Saya bukan pahlawan. Saya tidak pernah mengaku pahlawan. Saya hanya penjaga dompet negara. Dompet ini bukan punya saya, bukan punya Presiden, bukan punya partai. Dompet ini punya rakyat. Tugas saya adalah memastikan setiap rupiah yang masuk tidak bocor, dan setiap rupiah yang keluar bermanfaat. Jika saya berhasil, itu karena rakyat percaya. Jika saya gagal, itu karena saya kurang cermat. Tidak ada yang sempurna. Yang penting, kita terus belajar.”

Ia kemudian berhenti sejenak, menatap kamera dan melanjutkan:

“Dan yang paling penting: jangan pernah berhenti menjaga dompet ini. Karena di dalamnya ada masa depan anak-anak kita.”

Pidato itu ditutup dengan tepuk tangan meriah. Beberapa pegawai menangis. Purbaya tersenyum, lalu turun dari podium dan kembali ke ruang kerjanya. Di meja, sudah menumpuk dokumen baru untuk tahun 2027.


🔮 E. Apa yang Akan Dikenang dari Purbaya?

Dua tahun mungkin terlalu pendek untuk menilai sebuah warisan. Namun jika ada satu hal yang akan dikenang dari Menteri Purbaya, itu adalah keberanian untuk tidak populer. Ia berani memotong anggaran kementerian yang boros, berani memecat pejabat bea cukai meski punya backing politik, berani menolak utang IMF di depan mata dunia, dan berani mengakui kegagalannya secara terbuka.

Ia tidak sempurna. Restitusi pajak masih bocor, PNBP masih volatil, dan pertumbuhan meleset dari target. Tapi dalam dua tahun, ia mengubah arah kapal fiskal Indonesia dari yang tadinya rauh defisit dan utang, menjadi lebih stabil dan percaya diri.

Seperti yang ditulis oleh seorang kolumnis senior di Kompas:

“Purbaya bukanlah Sri Mulyani kedua. Ia adalah Purbaya pertama. Dan itu mungkin yang paling dibutuhkan Indonesia: seorang menteri keuangan yang tidak takut terlihat ‘kasar’ asal uang negara selamat.”


Bersambung ke Bab 22: Menuju 2027 – Tantangan dan Proyeksi.

Bab 22: Menuju 2027 – Tantangan dan Proyeksi


awal tulisan Menebak Isi Kepala Menteri Purbaya: Menjaga APBN dan Pertumbuhan Ekonomi RI (2025–2026)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAMUJU MISTIK: 10 KISAH GAIB YANG MENGGENTARKAN MAMUJU

PEMERINTAH DAERAH DI ERA EFISIENSI

BAB 11: KERANGKA HUKUM DAN KEBIJAKAN PENDUKUNG