BAB 21 Ketika Prestasi Tak Cukup di Mata Politik

 



Habibie Bukan Politisi – Politiklah yang Mencarinya


"Saya Tidak Pernah Belajar Cara Menjilat Rakyat. Saya Hanya Belajar Cara Membuat Pesawat"

Setelah pidato pertanggungjawaban ditolak dan ia memutuskan tidak mencalonkan diri, banyak yang bertanya: mengapa Habibie tidak berjuang? Bukankah ia punya hak konstitusional untuk maju? Bukankah 322 suara di MPR mendukungnya? Mengapa ia menyerah begitu mudah?

Jawabannya sederhana: Habibie bukan politikus. Ia tidak memiliki insting untuk bertahan di kekuasaan dengan cara apa pun. Ia tidak punya mesin partai yang kuat. Ia tidak pandai berintrik, tidak suka menjilat, dan tidak pernah belajar cara "membunuh karakter" lawan politik.

Dalam sebuah wawancara yang mengharukan dengan Kick Andy (2006), Habibie ditanya: "Apakah Bapak pendendam dengan orang-orang yang menjatuhkan Bapak?"

Ia tertawa kecil, lalu menjawab dengan tenang: "Tidak. Saya ikhlas. Silakan mereka mengambil alih. Saya yakin masih banyak putra-putri bangsa yang lebih mampu dari saya."

Sikap ini – antara naif dan agung – membuatnya berbeda dari politisi pada umumnya. Di era di mana setiap orang berebut kursi dengan gigi dan kuku, Habibie justru melepaskan kekuasaan dengan senyuman. Dan itulah yang membuatnya dikenang sebagai negarawan, bukan sekadar politisi.

Bab ini adalah refleksi tentang pertarungan antara etika dan kalkulasi politik – mengapa Habibie memilih mundur, apa arti pernyataannya "saya yakin masih banyak yang lebih mampu", dan bagaimana ia dibandingkan dengan politisi masa kini yang cenderung "hantam aja" demi kekuasaan.


1. Habibie Bukan Politisi – Politiklah yang Mencarinya

Habibie tidak pernah bercita-cita menjadi presiden. Impiannya adalah membuat Indonesia menjadi negara industri dirgantara, membangun pesawat terbang, dan mengejar ketertinggalan teknologi dari Barat. Ia dipanggil pulang oleh Soeharto dari Jerman bukan untuk menjadi presiden, tapi untuk menjadi menteri riset dan teknologi.

Jabatan wakil presiden pada Maret 1998 – hanya dua bulan sebelum Soeharto lengser – adalah sebuah kejutan. Habibie sendiri mengaku tidak menyangka. "Saya baru tahu saya akan menjadi wakil presiden sehari sebelum pelantikan," tulisnya dalam memoar.

Ketika Soeharto mundur, Habibie naik ke kursi presiden secara otomatis karena konstitusi. Bukan karena ia merebut, bukan karena ia berambisi. Ia hanya menerima apa yang diberikan sejarah kepadanya.

Seorang pengamat politik, Wimar Witoelar, pernah berkata: "Habibie adalah orang yang tepat di waktu yang salah. Ia teknokrat yang harus berperan sebagai politisi. Dan ia tidak pernah nyaman dengan peran itu."

Ketidaknyamanan itu terlihat jelas. Habibie tidak pernah membangun basis massa. Ia tidak pernah melakukan kampanye besar, tidak pernah mengadakan safari politik ke daerah-daerah untuk menggalang simpati. Ia hanya duduk di Istana, bekerja 18 jam sehari, menyelamatkan ekonomi.

"Saya pikir, jika saya bekerja keras, rakyat akan melihat hasilnya dan mendukung saya. Ternyata politik tidak sesederhana itu," katanya dengan nada getir.


2. Etika vs Kalkulasi: "Saya Ikhlas, Silakan"

Salah satu momen paling mengharukan dalam karier Habibie adalah ketika ia diminta berkomentar tentang orang-orang yang telah menjatuhkannya – para aktivis reformasi yang dulu ia bebaskan, para politisi yang menggunakan kebebasan pers yang ia berikan untuk menyerangnya.

Dalam wawancara dengan Kompas (2004), Habibie berkata:

"Saya tidak punya dendam sedikit pun kepada siapapun. Mereka yang dulu memaki-maki saya, sekarang saya lihat ada yang jadi menteri, ada yang jadi presiden. Saya doakan mereka sukses. Karena kesuksesan mereka adalah kesuksesan Indonesia."

Ini adalah etika kelas atas – sebuah prinsip bahwa kebaikan tidak harus dibalas dengan kebaikan, dan kejahatan tidak harus dibalas dengan kejahatan. Habibie memilih untuk ikhlas.

Tapi apakah sikap ini tidak merugikannya? Tentu saja. Dalam politik, orang yang tidak membalas serangan dianggap lemah. Mereka yang mudah memaafkan dianggap tidak punya harga diri. Tapi Habibie tidak peduli.

"Saya bukan politikus. Saya tidak perlu membuktikan bahwa saya kuat dengan cara merendahkan orang lain. Cukuplah hasil kerja saya yang berbicara."

Seorang staf kepresidenan yang tidak disebutkan namanya bercerita: "Setelah Habibie lengser, ada beberapa tokoh yang dulu paling keras menyerangnya datang meminta bantuan – baik untuk proyek maupun untuk rekomendasi bisnis. Habibie tetap melayani mereka dengan baik. Bahkan ada yang diberi uang dari kantong pribadinya. Saya sampai heran. Tapi Habibie bilang, 'Mereka juga manusia. Mungkin mereka sekarang butuh.'"

Subhanallah. Sikap seperti ini jarang ditemukan pada pemimpin mana pun.


3. "Saya Yakin Masih Banyak Putra-Putri Bangsa yang Lebih Mampu"

Pernyataan Habibie yang paling terkenal – dan paling membingungkan bagi para politisi – adalah ketika ia mengatakan:

"Saya yakin bahwa masih banyak putra-putri bangsa yang lebih mampu dari saya untuk memimpin bangsa ini ke depan."

Apakah ia benar-benar percaya demikian? Atau hanya basa-basi?

Mari kita lihat konteksnya. Pada 1999, setelah pidato pertanggungjawaban ditolak, Habibie bisa saja memaksakan pencalonan. Ia punya hak. Tapi ia memilih mundur. Ia menyebut nama-nama seperti Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Megawati, dan Amien Rais sebagai "lebih mampu".

Apakah secara objektif mereka lebih mampu? Gus Dur memang memiliki karisma dan basis massa yang kuat, tetapi kesehatannya buruk dan gaya kepemimpinannya kontroversial. Megawati populer tetapi tidak memiliki pengalaman eksekutif. Amien Rais pandai berpidato tetapi tidak pernah memimpin pemerintahan.

Namun Habibie tetap bersikeras: "Saya tidak kompetitif dalam politik. Biarkan mereka yang muda-muda dan punya partai kuat yang memimpin. Saya sudah lelah."

Yang menarik, setelah lengser, Habibie tetap menjadi aset berharga bagi pemerintahan berikutnya. Gus Dur memintanya menjadi penasihat, Megawati juga, SBY kemudian memberinya posisi sebagai penasihat presiden di bidang teknologi. Ia tetap dihormati, meskipun tidak lagi berkuasa.

Mungkin itulah yang ia maksud dengan "lebih mampu" – bukan lebih mampu secara kapasitas intelektual atau integritas, tetapi lebih mampu dalam memainkan panggung politik. Dan Habibie tidak ingin bermain di panggung itu lagi.


4. Perbandingan dengan Politisi Masa Kini: "Kalau Sekarang, Hantam Aja"

Dalam sebuah diskusi yang kemudian menjadi viral di media sosial, Prof. Jimly Asshiddiqie – yang duduk di samping Habibie dalam acara Kick Andy – melontarkan sebuah perbandingan yang menarik:

"Bayangkan kalau posisi Pak Habibie itu ada pada Amien Rais atau Akbar Tandjung. Dihantam juga, iya betul. Atau Pak Jokowi sekarang, hantam lagi aja."

Maksud Jimly: politisi pada umumnya, ketika ditolak pertanggungjawabannya oleh MPR, tidak akan diam. Mereka akan melawan, memobilisasi massa, menggunakan segala cara untuk tetap berkuasa. Tapi Habibie tidak. Ia memilih ikhlas.

Perbandingan ini menggambarkan perubahan kultur politik Indonesia. Politisi masa kini cenderung menganggap kekuasaan sebagai harga mati. Mereka akan melakukan apa pun – koalisi batu, politik uang, bahkan represi – untuk tetap bertahan. Habibie justru sebaliknya: ia melepaskan kekuasaan dengan ringan, seolah-olah itu hanya sebuah batu yang tidak perlu dibawa terus.

Tentu, ada yang berargumen bahwa sikap Habibie adalah bentuk kelemahan – bahwa ia tidak cukup agresif dalam memperjuangkan haknya. Tapi bagi mereka yang mengaguminya, justru itulah kekuatannya.

"Orang yang kuat bukan yang bisa mempertahankan kursi dengan cara apa pun. Orang yang kuat adalah yang bisa melepaskan kursi dengan ikhlas karena tahu itu benar," kata seorang pengamat politik.

Habibie sendiri tidak pernah membandingkan dirinya dengan politisi lain. Tapi ketika ditanya tentang fenomena "politisi hantam aja", ia hanya tersenyum: "Saya sudah terlalu tua untuk belajar cara menghantam. Saya lebih suka membangun."


5. Pelajaran: Politik Bukanlah Segalanya

Salah satu pelajaran terbesar dari kehidupan Habibie adalah bahwa politik bukanlah satu-satunya arena untuk mengabdi pada bangsa. Setelah lengser, ia tetap produktif: membangun Habibie Center, menulis buku, memberikan kuliah, menjadi penasihat, dan terus mempromosikan teknologi dirgantara.

Ia bahkan sempat merintis proyek pesawat R80 di Batam bersama anak didiknya. Meskipun proyek itu kemudian dihentikan oleh pemerintahan Jokowi (2020), semangat Habibie untuk memajukan industri pesawat tidak pernah padam.

"Saya tidak perlu menjadi presiden untuk mengabdi. Saya bisa menjadi profesor, menjadi insinyur, menjadi penasihat. Yang penting, ilmu saya bermanfaat untuk Indonesia."

Ini adalah perspektif yang menyehatkan di tengah demam politik yang menganggap kursi presiden atau menteri sebagai satu-satunya jalan untuk "membantu bangsa". Habibie membuktikan bahwa kontribusi bisa datang dari berbagai posisi.


6. Saat Kematian Menjadi Pengakuan: Mengapa Habibie Baru Dihormati Setelah Meninggal?

Satu ironi yang tidak bisa dihindari: Habibie lebih dihormati setelah meninggal daripada saat hidup. Ketika ia tutup usia pada 11 September 2019, seluruh Indonesia berkabung. Media memuat profil panjang tentang jasanya. Tokoh-tokoh yang dulu memusuhinya datang melayat. Peti jenazahnya diletakkan di ruang Kemalangan Istana Negara – kehormatan tertinggi untuk mantan presiden.

Mengapa baru setelah mati ia dihormati? Karena politik sudah tidak relevan lagi. Setelah meninggal, yang tersisa adalah sejarah. Dan sejarah membuktikan bahwa Habibie adalah presiden yang berhasil menyelamatkan ekonomi, membangun demokrasi, dan menyelesaikan konflik Timor Timur secara damai.

Seandainya ia masih hidup dan berpolitik, mungkin ia akan tetap dikritik habis-habisan. Tapi setelah ia tiada, orang-orang mulai jujur: "Dia hebat. Kita dulu salah."

Habibie sendiri mungkin tidak peduli. Ketika masih hidup, ia sudah pasrah. "Saya tidak butuh penghargaan. Saya butuh Indonesia selamat. Dan Indonesia selamat. Itu sudah cukup."


Penutup Bab 21: Sebuah Kehidupan yang Diukur dari Warisan, Bukan dari Popularitas

Habibie mungkin gagal dalam politik praktis. Ia tidak berhasil mempertahankan kekuasaan, tidak berhasil membangun partai, tidak berhasil mengendalikan MPR. Tapi ia berhasil dalam hal yang lebih penting: menyelamatkan bangsa dari kehancuran.

Dan ketika ia memilih mundur dengan ikhlas, ia mengajarkan kepada kita bahwa kekuasaan bukanlah segalanya. Ada yang lebih berharga: integritas, ketenangan hati, dan perasaan bahwa kita telah melakukan yang terbaik.

Habibie bukan politisi. Ia adalah seorang insinyur, ilmuwan, negarawan, dan – di atas segalanya – manusia yang jujur pada hati nuraninya. Dan itulah mengapa, meskipun ia tersingkat masa jabatannya, ia adalah salah satu presiden yang paling dikenang.

Kini, setelah seluruh bab perjuangan ekonomi dan politik kita ceritakan, kita memasuki bagian akhir: warisan dan pelajaran dari kejeniusan Habibie untuk generasi mendatang.

Bersambung ke Bab 22: "Warisan yang Masih Terasa Hari Ini"
(Bank Mandiri, independensi BI, kebebasan pers, dan demokrasi – apa yang tersisa dari 17 bulan kepemimpinan Habibie)

BAB 22 Warisan yang Masih Terasa Hari Ini


awal bacaan KEJENIUSAN PRESIDEN BJ HABIBIE MENSTABILKAN RUPIAH DALAM 17 BULAN PADA TAHUN 1998

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAMUJU MISTIK: 10 KISAH GAIB YANG MENGGENTARKAN MAMUJU

PEMERINTAH DAERAH DI ERA EFISIENSI

BAB 11: KERANGKA HUKUM DAN KEBIJAKAN PENDUKUNG