Bab 2 | Kerajaan Langga Monar: Tanah Mahar dari Pedalaman
2.1 Tokaiyang Padang dan Klan Bangsawan Tomellipa Karoro
Di
balik gemerlap Pelabuhan Simboro yang disinggahi kapal-kapal Portugis dan
Johor, tersimpan kekuatan lain yang tak kalah penting: pedalaman Mamuju.
Wilayah perbukitan dan lembah yang subur, yang oleh orang Kurri-Kurri disebut Tana Padang atau Tokaiyang Padang (kawasan Rimuku, Mamuju Selatan),
adalah rumah bagi sebuah klan bangsawan yang mandiri dan disegani. Dari
pedalaman inilah lahir seorang putri yang kelak akan mengubah peta kekuasaan
Kurri-Kurri. Namanya Tomellipa
Karoro (dalam beberapa lontarak disebut To Pelipa Di Karoro).
Siapakah
Tomellipa Karoro secara mendalam? Naskah lontarak Mandar hanya memberinya
beberapa baris: "Ia
yang berjalan di atas tikar pandan, rambutnya hitam bergelombang, matanya tajam
seperti mata rusa."
Namun di balik gambaran puitis itu, tersimpan sosok wanita yang tegas, cerdas,
dan tahu nilainya. Tomellipa adalah cucu
dari Tenri Malle di Padang, seorang tokoh yang dihormati di
wilayah Tokaiyang Padang. Keluarganya menguasai jalur perdagangan pedalaman—rotan, damar, madu, dan gaharu—yang
menjadi komoditas vital bagi kapal-kapal asing di Simboro. Tanpa persetujuan
mereka, pengiriman barang dari hulu ke pantai bisa terhambat. Dengan kata lain,
Tomellipa berasal dari keluarga yang memegang
kunci pasokan komoditas daratan.
Ia
tumbuh di lingkungan yang keras namun mandiri. Perempuan bangsawan di pedalaman
Sulawesi tidak hanya pandai menari dan menghias diri; mereka diajari berkuda,
menimbang emas, dan memimpin musyawarah. Tomellipa dikenal karena kefasihannya dalam berpidato—sebuah
kualitas langka yang membuatnya disegani para tetua. Ketika Raja Tarapati
pertama kali melihatnya dalam sebuah upacara adat di Padang, ia bukan hanya
terpesona oleh kecantikannya, tetapi juga oleh kewibawaan yang terpancar dari
gadis itu.
Wilayah
Tokaiyang Padang sendiri bukanlah kerajaan dalam arti formal, melainkan konfederasi longgar klan-klan
bangsawan yang memiliki otonomi tinggi. Mereka tidak tunduk
kepada Kurri-Kurri, tetapi menjalin hubungan dagang yang setara. Setiap klan
dipimpin oleh seorang Puang (kepala adat) yang memutuskan
masalah tanah, hutan, dan upacara adat. Sistem inilah yang membuat Tomellipa
dan keluarganya memiliki posisi tawar yang kuat ketika berhadapan dengan
kekuatan pesisir.
2.2 Tradisi Sorong: Maskawin yang
Menciptakan Kerajaan Baru
Dalam
budaya Mandar, pernikahan bangsawan tidak hanya menyatukan dua manusia, tetapi
juga menyatukan dua
sistem kekuasaan. Ada satu tradisi yang paling istimewa: sorong. Secara
harfiah, sorong berarti "sesuatu yang
diserahkan di muka" atau "maskawin". Namun dalam konteks
politik, sorong adalah pemberian wilayah kekuasaan sebagai
maskawin, lengkap dengan hak untuk memerintah, memungut pajak,
dan mengangkat pejabat di wilayah tersebut.
Sorong berbeda dengan sekadar hadiah tanah.
Wilayah yang diserahkan menjadi milik
istri sepenuhnya—ia dan keturunannya berhak mewarisi dan
memerintahnya. Suami hanya bertindak sebagai pendamping, namun tetap memiliki
kerajaannya sendiri di tempat lain. Sistem ini mencegah dominasi sepihak pihak
suami dan menciptakan keseimbangan kekuasaan antara dua keluarga.
Dalam
sejarah Mandar, sorong biasanya berupa desa atau
ladang—jarang sekali sebuah kerajaan utuh. Namun dalam kasus pernikahan antara
Tarapati dan Tomellipa, terjadi sesuatu yang luar biasa: seluruh wilayah Kurri-Kurri dijadikan
sebagai sorong? Tidak persis. Lontarak menjelaskan
bahwa Tarapati memberikan sebuah wilayah baru yang didirikan khusus sebagai
maskawin, bukan Kurri-Kurri itu sendiri. Namun ada tafsir lain: dengan menikahi
Tomellipa, Tarapati secara efektif menggabungkan klan Padang ke dalam lingkaran
kekuasaannya, sehingga Kurri-Kurri memperoleh jaminan pasokan komoditas. Dalam
pengertian itu, Kurri-Kurri "menjadi" maskawin karena keuntungan
politik yang diperoleh.
Tradisi
sorong ini menjadi bukti bahwa peran
perempuan dalam politik Nusantara kuno tidak bisa dianggap remeh. Tomellipa
Karoro bukan sekadar tokoh pendamping; ia adalah pemegang kekuasaan nyata
melalui hak atas tanah yang diberikan kepadanya. Tanpa keberanian Tomellipa
untuk mengajukan syarat, dan tanpa kebijaksanaan Tarapati untuk menerimanya,
Mattolabali tidak akan mewarisi dua takhta sekaligus.
2.3 Tarapati To Ma’dualemba: Raja Kurri-Kurri Keturunan Kutai
(Mulawarman)
Jika Tomaballa Pala Bitti'na adalah pendiri Kurri-Kurri, maka Tarapati To Ma'dualemba adalah pembawa kejayaan. Di bawah kepemimpinannya, Kurri-Kurri yang semula hanya kerajaan kecil di muara sungai, melesat menjadi pusat perdagangan yang namanya terukir dalam peta-peta Eropa abad ke-16. Dalam atlas Mercator-Hondius, pelabuhan Kurri-Kurri disebut Curri-Curri; dalam peta Rossi tahun 1683, tertulis dengan jelas Qui-qui berdampingan dengan Mamoya (Mamuju)—sebuah bukti bahwa kerajaan ini bukanlah cerita rakyat semata, melainkan fakta sejarah yang diakui dunia.
Yang
membuat Tarapati istimewa adalah silsilahnya.
Ia bukan hanya keturunan langsung Tomaballa Pala Bitti'na, tetapi juga memiliki
ikatan darah dengan
Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. Penelitian Syahrir Kila
(2019) menegaskan adanya "keterkaitan hubungan darah Kerajaan Kutai"
dalam diri raja ini, sehingga Tarapati digelari Toma'dua Lemba —sebuah sebutan
kehormatan yang menandakan garis keturunannya yang istimewa, "tuan dari
dua lemba (wilayah)".
Kerajaan
Kutai sendiri adalah kerajaan Hindu tertua di Nusantara, yang mencapai puncak
kejayaannya di bawah Maharaja Mulawarman
pada abad ke-4 Masehi. Mulawarman terkenal sebagai raja yang dermawan—ia pernah
mensedekahkan 20.000 ekor lembu kepada para Brahmana di tempat suci
Waprakeswara, sebuah tindakan yang diabadikan dalam prasasti Yupa. Keturunan
Mulawarman kemudian menyebar ke seluruh Nusantara melalui jalur perdagangan dan
perkawinan politik.
Bagaimana
darah Mulawarman sampai ke Tarapati? Ada dua teori utama. Pertama, pada abad
ke-13 hingga ke-14, terjadi hubungan dagang dan perkawinan antara
kerajaan-kerajaan di Kalimantan dan Sulawesi. Kerajaan Kutai Kartanegara (yang
kemudian menjadi kesultanan) menjalin kemitraan erat dengan Kurri-Kurri, dan
dari situlah seorang putri Kutai dinikahkan dengan raja Kurri-Kurri, melahirkan
garis keturunan yang diteruskan hingga Tarapati. Kedua, para bangsawan
Kutai yang melakukan pelayaran jauh menetap sementara di pesisir Mamuju dan
berasimilasi dengan keluarga penguasa setempat. Apapun teorinya, yang pasti
Tarapati memiliki legitimasi ganda: sebagai penguasa maritim Sulawesi dan
sebagai pewaris tradisi Hindu-Kutai.
Di
bawah Tarapati, Kurri-Kurri tidak hanya kaya tetapi juga disegani. Ia
meneruskan hukum Marru'dua
Gala'gar dengan
tegas, membuka pelabuhan untuk semua bangsa, dan membangun galangan kapal yang
mampu memproduksi bangkong (perahu cadik besar) untuk berlayar
hingga Papua. Namun semua kejayaan itu memiliki harga. Tarapati mulai
menghadapi tekanan dari dalam: para bangsawan Kurri-Kurri yang merasa terlalu
banyak memberi konsesi pada pendatang asing. Dan di sinilah cinta masuk ke
dalam panggung sejarah.
2.4 Pernikahan Tarapati – Tomellipa: Cinta, Politik, dan
Berdirinya Langga Monar di Danga
Tidak
ada yang tahu persis kapan pertama kali Raja Tarapati melihat Tomellipa Karoro.
Lontarak hanya memberikan satu kalimat samar: "Di Padang, ketika kabut pagi belum
hilang dari lembah, ia melihat cahaya." Namun para tetua adat mewariskan cerita lisan yang
lebih hidup. Konon, Tarapati sedang dalam perjalanan inspeksi ke wilayah
selatan kerajaannya untuk memastikan jalur pasokan rotan dan damar tetap aman.
Ia singgah di Tokaiyang Padang, saat sedang berlangsung sebuah pesta panen. Di
tengah pesta, Tomellipa—cucu Tenri Malle—muncul untuk mempersembahkan sirih
kepada tamu agung. Tarapati terpana. Ia bukan pemuda belia; ia sudah menjadi
raja yang disegani. Namun dalam pertemuan itu, ia merasa menemukan pendamping
yang setara.
Tarapati
meminang Tomellipa dengan cara yang layak: mengirim utusan membawa sirih pinang
emas, tujuh potong kain tenun, dan seekor kerbau putih. Namun jawaban yang
kembali bukanlah penerimaan sederhana. Tomellipa, melalui keluarganya,
mengajukan satu syarat
yang mengguncang istana Kurri-Kurri:
"Aku
tidak akan tinggal di Kurri-Kurri. Aku ingin tetap di dekat keluarganya, di
tanah Padang."
Bagi
seorang putri mahkota Kurri-Kurri, syarat ini hampir menghina. Seharusnya
permaisuri tinggal di istana suami, di pusat kekuasaan. Namun Tomellipa bukan
wanita biasa. Ia tahu bahwa keluarganya memiliki kekuatan tawar yang besar. Ia
tidak mau kehilangan akar budayanya, dan ia juga ingin memastikan bahwa wilayah
pedalaman tidak diabaikan oleh kekuasaan pesisir.
Tarapati
menghadapi dilema. Jika ia menolak, ia kehilangan aliansi strategis dengan
pedalaman. Jika ia menerima, ia harus mengubah tata kelola kerajaannya secara
fundamental. Ia memilih menerima. Dan ia tidak hanya menerima; ia memberikan
solusi cemerlang sekaligus berani: mendirikan
kerajaan baru di wilayah antara Kurri-Kurri dan Padang,
tepatnya di Danga
(atau Rangas, dalam beberapa sumber). Kerajaan ini akan menjadi tempat kediaman
resmi raja dan ratu, pusat pemerintahan simbolis, dan simbol persatuan antara
pesisir dan pedalaman. Kerajaan itu diberi nama Langga Monar—Langga (tanah/wilayah) + Monar
(mahar/maskawin). Tanah
Mahar.
Pemilihan
Danga sebagai lokasi kerajaan baru bukanlah kebetulan. Wilayah ini memiliki
tiga keunggulan strategis: (1) dekat dengan keluarga Tomellipa—dengan berkuda,
ia bisa mengunjungi keluarganya hanya dalam setengah hari; (2) berada di jalur
penghubung pesisir-pedalaman, sehingga Tarapati bisa mengawasi kedua wilayah
sekaligus; (3) tanah yang subur dan aman, terlindung oleh bukit-bukit dari
serangan bajak laut.
Pembangunan
istana (kedaton) di Danga dilakukan dengan gotong
royong antara rakyat Kurri-Kurri (ahli bangunan dari pesisir) dan rakyat Padang
(ahli kayu dari pedalaman). Hasilnya adalah perpaduan arsitektur yang unik:
tiang-tiang dari kayu besi (ulin) yang diambil dari hutan Padang, dinding
anyaman bambu dengan pola khas pesisir, dan atap rumbia yang tinggi meniru gaya
rumah adat Mandar. Di halaman depan ditancapkan simbul (tiang bendera) setinggi tujuh depa—lambang
kewibawaan kerajaan. Tomellipa Karoro sangat terlibat dalam perencanaan; ia
meminta agar dibuat ruang
musyawarah khusus untuk para tetua perempuan—sebuah inovasi
yang jarang ditemukan di kerajaan Nusantara abad ke-16. Ruangan ini disebut Bola Tangnga.
Dengan
berdirinya Langga Monar, Kerajaan Kurri-Kurri kini memiliki dua pusat kekuasaan
yang berfungsi berbeda namun saling melengkapi: Kedaton Danga (Langga Monar)
sebagai pusat pemerintahan dan kediaman raja, dan Pelabuhan Simboro
(Kurri-Kurri) sebagai pusat perdagangan internasional. Sistem dualisme ini
cerdas karena memisahkan fungsi politik dari fungsi ekonomi. Raja tidak perlu
terganggu oleh hiruk-pikuk pelabuhan saat sedang memutuskan perkara penting.
Untuk memastikan koordinasi, setiap pagi seorang utusan cepat (pata' balobo)
berlari dari Simboro ke Danga membawa laporan tentang kapal-kapal yang masuk,
komoditas yang tiba, dan potensi ancaman.
Dari
pernikahan ini, beberapa bulan setelah pembangunan selesai, lahirlah seorang
putra. Ia diberi nama Mattolabali—yang
berarti "yang membawa keseimbangan". Mattolabali adalah pewaris dua
takhta: Kurri-Kurri dari pihak ayah, Langga Monar dari pihak ibu. Dialah yang
kelak akan menyatukan kedua kerajaan menjadi Mamuju.
Namun
Tarapati dan Tomellipa tidak pernah melihat putra mereka menjadi pemersatu
sejati. Masa kejayaan Tarapati lambat laun meredup. Kepercayaan masyarakat dan
dewan adat terhadap sang raja merosot, terutama karena hukum Marru'dua Gala'gar yang dianggap terlalu berat.
Tarapati dan permaisurinya akhirnya mengasingkan diri ke wilayah Kaili
(Sulawesi Tengah). Kerajaan Kurri-Kurri dan Langga Monar untuk sementara
dikelola oleh raja dari Balanipa, Puang
Marica (Pammarica), berdasarkan perjanjian Tammajarra. Namun
fondasi yang dibangun Tarapati—kekayaan maritim Kurri-Kurri, legitimasi darah
biru dari Kutai, dan tanah Langga Monar yang lahir dari cinta—adalah warisan
yang memungkinkan Mattolabali melangkah lebih jauh.
Penutup
Bab 2: Kerajaan
Langga Monar bukan sekadar "kerajaan kecil" di pedalaman. Ia adalah
bukti nyata dari tradisi sorong yang menjadikan maskawin sebagai
instrumen politik dan simbol kesetaraan antara pesisir dan daratan. Dari rahim
Langga Monar lahirlah Mattolabali—pemersatu yang akan mengubah dua kerajaan
menjadi satu entitas baru: Mamuju.

Komentar
Posting Komentar