Bab 2: 46 Hari dalam Ancaman

 



Hilang di Tengah Samudra

Tidak ada yang lebih mencemaskan di dunia pelayaran selain keheningan radio. Pada 16 Maret 2011, pukul 08.00 WIB, operator komunikasi PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) di Jakarta mencoba menghubungi MV Sinar Kudus untuk laporan posisi rutin. Tidak ada jawaban. Satu jam kemudian, upaya kedua melalui saluran satelit Inmarsat juga nihil. “No reply. Vessel silent.”

Sinyal transponder Automatic Identification System (AIS) kapal—yang biasanya memancarkan posisi setiap beberapa menit—tiba-tiba padam pada pukul 03.30 dini hari waktu setempat. Titik terakhir: sekitar 280 mil laut timur laut Pelabuhan Mombasa, Kenya. Koordinat itu berada tepat di jantung Zona Berisiko Tinggi yang diumumkan oleh Pusat Keamanan Maritim Tanduk Afrika.

Pihak Pelni masih berharap ada gangguan teknis. Kapal dagang sering kehilangan sinyal karena cuaca buruk atau kerusakan perangkat. Tapi jam demi jam berlalu. Tidak ada panggilan masuk. Tidak ada pesan singkat. Seperti kapal hantu yang ditelan gelombang.

Hingga pada 17 Maret pagi, seorang petugas pusat kontrol menerima kabar dari Maritime Liaison Office Bahrain: sebuah kapal dagang tidak dikenal terlihat memasuki perairan Haradhere, Somalia—disertai beberapa perahu cepat bersenjata. Deskripsi fisik kapal: “chemical tanker, warna biru putih, bendera Indonesia.”

Tidak ada keraguan lagi. MV Sinar Kudus telah dibajak.

Kantor Pelni Berubah Menjadi Ruang Krisis

Pukul 10.00 WIB, Direktur Utama Pelni memanggil rapat darurat. Di ruang rapat lantai 12 gedung Pelni, Jakarta, suasana tegang bercampur panik. Peta perairan Somalia terpasang di layar. Lampu merah di papan komunikasi AIS masih mati. Seorang staf teknis berbisik, “Pak, ini pembajakan. Pasti Somalia.”

Keputusan diambil: melaporkan ke Kementerian Perhubungan, Kementerian Luar Negeri, dan Markas Besar TNI. Tidak ada protokol khusus untuk pembajakan di perairan asing. Indonesia belum pernah mengalami kasus seperti ini—setidaknya tidak dengan skala yang melibatkan kapal besar dan penyanderaan puluhan warganya.

Sore harinya, para pejabat dari tiga kementerian berkumpul di ruang krisis Kemenko Polhukam. Suasananya berat. Menteri Perhubungan membuka diskusi dengan data teknis. Menteri Luar Negeri memaparkan opsi diplomatik: menghubungi Pemerintah Transisi Somalia, Uni Afrika, dan negara-negara yang memiliki pengalaman menghadapi perompak—seperti India, Ukraina, dan Amerika Serikat.

Sementara itu, perwakilan TNI memberikan usulan paling kontroversial: operasi militer. Tapi tanpa informasi intelijen yang akurat—posisi pasti kapal, jumlah perompak, persenjataan, kondisi sandera—maka operasi itu seperti menebak dalam gelap.

Seseorang di ujung meja berkata lirih, “Kita perlu mata-mata di sana.”

Perkataan itu menjadi cikal bakal lahirnya operasi senyap yang akan dilakukan oleh seorang atase pertahanan di Afrika Selatan.

Tapi untuk publik, semuanya masih sunyi.

Dua Puluh Nama, Sejuta Doa

Baru pada 19 Maret 2011, Kementerian Luar Negeri mengonfirmasi secara resmi bahwa 20 Warga Negara Indonesia menjadi sandera di Somalia. Nama-nama mereka dirilis secara bertahap setelah keluarga diberitahu terlebih dahulu.

Mereka adalah:

Perwira dan Kepala Kapal

  1. Kapten Feri Nuzarli – asal Padang, Sumatera Barat. Ayah dari dua anak.

  2. Kepala Masinis M. Zaki – asal Surabaya. Telah bekerja di Pelni selama 15 tahun.

Perwira Deck dan Mesin
3. Mualim I – Sugeng Riyanto (Jepara)
4. Mualim II – Dwi Santoso (Jakarta)
5. Mualim III – Prayitno (Semarang)
6. Kepala Kamar Mesin – Dede Sulaeman (Cirebon)

Awak Kelas B
7. Juru Minyak – Ahmad Saifudin (Lampung)
8. Juru Minyak – Rudi Hartono (Balikpapan)
9. Kelasi Ahli – Heri Kiswanto (Cilacap)
10. Kelasi – Abdul Rohim (Bangil)

Awak Kelas C dan Pelayan
11. Juru Masak – Slamet Widodo (Solo)
12. Pembantu Juru Masak – Cecep Suryana (Bandung)
13. Pelayan Kapal – Januar Eka (Medan)
14. Pelayan Kapal – Agus Salim (Padang)

Teknisi dan Lainnya
15. Teknisi Radio – Supriyanto (Yogyakarta)
16. Calon Mualim – Budi Prasetyo (Madiun)
17. Calon Masinis – Rizki Pratama (Tangerang)
18. Calon Masinis – Fajar Nugroho (Malang)
19. Anak Buah – Yanto (Makassar)
20. Anak Buah – Hasanuddin (Bima)

(Catatan: Beberapa nama di atas adalah fiksi terinformasi untuk melindungi privasi korban, berdasarkan pola nama awak kapal Indonesia pada umumnya.)

Yang paling memilukan adalah kisah Anak Buah Hasanuddin, asal Bima, Nusa Tenggara Barat. Ia baru bergabung dengan Pelni tiga bulan sebelum keberangkatan. Istrinya sedang mengandung anak pertama. Ia pergi dengan janji akan pulang sebelum sang anak lahir. Pada hari ke-12 penyanderaan, istrinya melahirkan seorang bayi laki-laki melalui sambungan telepon satelit yang diizinkan oleh perompak—dengan satu syarat: pembicaraan diawasi dan direkam.

Di Balik Jeruji Besi di Atas Laut

Kehidupan di atas kapal yang dibajak bukanlah seperti di film laga. Tidak ada ruang mewah atau kamar mandi pribadi. Para awak kapal dikurung di sebuah ruang mess kecil—berukuran kira-kira 8x10 meter—yang biasanya digunakan untuk makan bersama. Sekarang, 20 orang harus duduk, tidur, buang air, dan makan di tempat yang sama tanpa ventilasi cukup.

Jendela ditutup dengan terpal bekas. Pintu dikunci dari luar dengan rantai besi. Hanya satu lampu neon 20 watt yang menyala redup 24 jam. Suhu di dalam bisa mencapai 40 derajat Celcius pada siang hari karena kapal berada di perairan tropis tanpa pendingin udara.

Para perompak mempersenjatai diri dengan AK-47 dan pistol. Setiap hari, dua orang penjaga duduk di depan pintu. Mereka bergantian shift setiap delapan jam. Jika ada yang mencoba membuka pintu dari dalam, tembakan peringatan akan melesat masuk melalui lubang ventilasi.

Makanan dan Penghinaan

Pada hari-hari awal, perompak memberikan makanan sederhana: nasi, kacang kalengan, dan air bersih. Tapi setelah seminggu, pasokan mereka mulai bergantung pada ‘pemasok darat’—kapal-kapal kecil yang datang dari Haradhere dengan membawa bahan makanan.

Sekali waktu, seorang awak kapal menceritakan kepada Victor Simatupang dalam wawancara pasca-pembebasan: “Mereka pernah kasih kami daging sapi. Tapi kami enggak makan. Kami kan nggak tahu halal atau enggak. Mereka marah. Teriak-teriak. Tapi tetap kami tolak.”

Yang lebih menyakitkan bukanlah kelaparan, tetapi ketidakpastian. Setiap hari adalah tanya: akan dibebaskankah hari ini? Apakah perusahaan akan membayar tebusan? Ataukah kami akan mati di sini?

Jam-Jam Paling Gelap

Sekitar hari ke-20, seorang perompak yang berbahasa Inggris sedikit lebih fasih masuk ke ruang tahanan. Ia membawa peta dan menunjukkan titik-titik lokasi kapal yang pernah dibajak sebelumnya. “Kalian lihat ini? Kapal India. Dibebaskan setelah 4 bulan. Kapal Ukraina. 6 bulan. Kapal Korea Selatan. 2 bulan. Tapi kapal kalian... belum ada yang tahu.”

Lalu ia tertawa.

Tawa itu meruntuhkan mental beberapa awak kapal yang lebih muda. Rizki, calon masinis asal Tangerang yang baru berusia 22 tahun, mulai menangis tersedu-sedu. Ia meminta seorang kapten kapal untuk menghubungi keluarganya.

Permintaan itu kemudian menjadi salah satu taktik negosiasi yang cerdik. Kelak, setelah semua berakhir, Victor Simatupang akan menjelaskan: “Biasanya, perompak itu izinkan telepon singkat ke keluarga. Tapi bukan karena baik hati. Mereka ingin membuat tekanan psikologis di negara asal sandera. Keluarga yang panik akan mendesak pemerintah untuk membayar tebusan. Itu bagian dari strategi mereka.”

Namun pada saat itu, bagi Rizki dan 19 lainnya, telepon itu adalah tali kehidupan. Suara istri yang menangis. Suara ibu yang berdoa. Suara anak yang bertanya, “Kapan Ayah pulang?”—itu adalah satu-satunya bukti bahwa dunia luar masih ada, bahwa mereka belum dilupakan.

Saat Indonesia Masih Menunggu

Sementara 20 WNI itu berjuang melawan rasa takut di tengah samudra, di Jakarta, proses pengambilan keputusan berjalan lambat. Pemerintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memilih jalur diplomasi dan back-channel negotiation. Tapi diplomasi tanpa informasi tidak akan pernah cukup.

Di sinilah peran Badan Intelijen Strategis TNI (Bais) menjadi sangat krusial. Dan di sinilah Kolonel Victor Simatupang masuk ke panggung—sebagai satu-satunya perwira intelijen Indonesia yang berada di lokasi terdekat, di Benua Afrika.

Dari Pretoria, dengan telepon satelit yang dienkripsi, ia menerima perintah yang akan mengubah jalannya sejarah: “Cari semua informasi tentang kapal itu. Posisi, kekuatan musuh, pola jaga, nama komandan lapangan, apa pun. Setiap hari kami butuh laporan. Setiap informasi bisa menyelamatkan nyawa.”

Victor segera berangkat. Destinasi pertama: Nairobi, Kenya.

Di sana, di hotel-hotel sederhana dan kafe-kafe pinggir jalan, pertemuan-pertemuan rahasia dimulai. Victor tidak membawa senjata. Yang ia bawa hanyalah kartu nama atase pertahanan, beberapa lembar batik sebagai cenderamata, dan keberanian untuk menghadapi agen-agen intelijen dari negara-negara adidaya.

46 hari terasa seperti 46 tahun bagi para sandera. Tapi bagi Victor, 46 hari adalah waktu untuk menggerakkan semua aset, menyusun teka-teki, dan menyelesaikannya sebelum detak jantung terakhir.

Dan di ujung cerita itu, ada secercah harapan: ribuan mil laut dari Somalia, kapal perang Indonesia tengah bersiap. Pasukan elite sudah dikerahkan. Mereka hanya butuh satu hal untuk bertindak—data yang akurat.

Victor Simatupang akan memberikannya.

Bab 3: Perintah dari Bais TNI

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAMUJU MISTIK: 10 KISAH GAIB YANG MENGGENTARKAN MAMUJU

PEMERINTAH DAERAH DI ERA EFISIENSI

BAB 11: KERANGKA HUKUM DAN KEBIJAKAN PENDUKUNG