Bab 15 Jejak CIA di Balik Freeport

 


Bagian 7

Konspirasi atau Kebetulan?

Bab 15 Jejak CIA di Balik Freeport


Pola Serupa di Chile, Kongo, Iran – Sumber Daya Alam & Kudeta

Freeport bukanlah kasus unik. Dalam peta besar Perang Dingin, setiap kali sebuah negara berkembang mencoba menguasai sumber daya alamnya sendiri, CIA akan turun tangan. Polanya selalu sama: nasionalisasi sumber daya, kemudian kudeta, kemudian kontrak yang menguntungkan perusahaan AS, kemudian kediktatoran yang ramah investasi.

Iran 1953: Perdana Menteri Mohammad Mossadegh menasionalisasi industri minyak dari Inggris. Tanggapan AS? CIA mengorganisasi kudeta yang menggulingkannya. Dokumen CIA yang dideklasifikasi secara gamblang mengakui: "Kudeta militer yang menggulingkan Mosadeq ... dilakukan di bawah arahan CIA sebagai tindakan kebijakan luar negeri AS." Mossadegh digantikan oleh Shah yang patuh, dan minyak Iran kembali mengalir ke perusahaan Barat. Seperti yang diakui kemudian, MI6 dan CIA "menyusun cerita di pers, baik di Iran maupun Amerika Serikat, untuk menyiapkan panggung bagi kudeta," dan bahkan "mengatur pembayaran 5 juta dolar kepada pemerintahan jenderal baru dalam hitungan hari setelah kudeta."

Sejarawan kini menyebutnya sebagai titik balik: ketika nasionalisme ekonomi di Dunia Ketiga dihancurkan oleh kekuatan bayangan Barat.

Kongo 1960-1961: Patrice Lumumba, perdana menteri pertama Kongo yang terpilih secara demokratis, ingin kekayaan negaranya – terutama uranium dari tambang Shinkolobwe yang digunakan untuk bom Hiroshima – dinikmati oleh rakyat Kongo. Kesalahannya? Dia berani bertindak. CIA melabelinya "a Castro in Africa" – sebuah label yang dalam kosakata intelijen AS berarti harus dieliminasi.

Dalam kawat "Top Secret" dari Langley ke stasiun CIA di Kinshasa, perintahnya sangat jelas: "Kami menyimpulkan bahwa eliminasinya harus menjadi tujuan yang mendesak dan utama." Direktur CIA Allen Dulles sendiri yang memberi label, sementara Presiden Eisenhower dikabarkan memberikan perintah pembunuhan secara langsung.

Dan yang terjadi kemudian adalah salah satu pembunuhan politik paling brutal abad ke-20: Lumumba ditangkap, dipukuli, dieksekusi, dan jasadnya dilarutkan dalam asam. Seorang perwira Belgia bahkan menyimpan gigi Lumumba sebagai suvenir – simbol grotesk dari kebiadaban kolonial yang masih berlanjut. Setelah Lumumba mati, Kongo jatuh ke tangan diktator Mobutu Sese Seko, yang dengan senang hati membiarkan perusahaan-perusahaan Barat mengeruk uranium, tembaga, dan berlian Kongo selama tiga dekade.

Chile 1970-1973: Salvador Allende, presiden sosialis yang terpilih secara demokratis, menasionalisasi tambang tembaga milik AS (Anaconda dan Kennecott). Tembaga menyumbang 60 persen ekspor Chile – dan hampir seluruhnya dikuasai AS. Bagi Washington, ini tidak bisa ditoleransi. CIA mulai merencanakan kudeta sejak 1971 – dua tahun penuh sebelum Pinochet mengambil alih.

Mereka menghabiskan jutaan dolar untuk destabilisasi, memblokade pinjaman internasional, menjatuhkan harga tembaga dengan melepas cadangan AS ke pasar, dan pada akhirnya mendukung junta militer Jenderal Augusto Pinochet. Seperti yang dikatakan Pablo Neruda, penyair dan diplomat Chile: "Allende dibunuh karena menasionalisasi ... kekayaan tanah bawah Chile." Pada 11 September 1973, Istana La Moneda dibom, Allende bunuh diri, dan Pinochet mulai memerintah dengan tangan besi. Tembaga Chile tetap di tangan swasta – dan sebagian besar keuntungan mengalir ke luar negeri.

Indonesia 1965-1967: Pola yang sama, dengan aktor yang sama, dengan hasil yang sama. Soekarno menolak memberikan Freeport apa yang mereka minta – dan yang terjadi adalah kudeta, pembantaian massal, kontrak jahat, dan kediktatoran 32 tahun.

APA PERSAMAANNYA?

Dalam setiap kasus, pemimpin yang digulingkan memiliki satu kesamaan: mereka berani mengatakan "tidak" kepada kekuatan asing yang ingin menguasai sumber daya alam mereka.

NegaraSumber DayaPemimpin yang DigulingkanMetode CIA
Iran (1953)MinyakMossadeghKudeta + suap
Kongo (1960-61)Uranium, tembaga, berlianLumumbaPembunuhan + kudeta
Chile (1973)TembagaAllendeDestabilisasi + kudeta militer
Indonesia (1965-67)Tembaga, emas, uraniumSoekarnoKudeta + pembantaian massal

Setiap kali, "kepentingan nasional AS" – yang diterjemahkan secara kasar sebagai "keuntungan perusahaan AS" – dibungkus dengan retorika anti-komunis, seolah kudeta dilakukan untuk menyelamatkan dunia dari bahaya merah. Padahal motif utamanya adalah sumber daya alam, bukan komunisme.

Seorang analis menyebut Freeport sebagai "aset strategis" Washington. Dalam memoar yang bocor, Richard Nixon – yang naik sebagai wakil presiden Eisenhower, kemudian presiden setelah Kennedy – secara blak-blakan menyebut Indonesia sebagai "hadiah terbesar di Asia Tenggara" karena sumber daya alam dan populasi 100 juta jiwa. Tidak disebutkan soal demokrasi, hak asasi manusia, atau kesejahteraan rakyat. Yang disebut adalah hadiah.


Dokumen Rahasia yang Belum Dibuka

"Tidak ada bukti langsung" – itulah kalimat andalan para pembela status quo ketika ditanya tentang keterlibatan CIA di Indonesia. Tapi apakah benar tidak ada bukti? Atau justru bukti-buktinya sengaja dikubur, dirahasiakan, atau disembunyikan di balik stempel "rahasia negara"?

Dokumen CIA 1965: Telegram Cinpac 342

Salah satu dokumen paling mengganggu adalah telegram rahasia Cinpac 342, 21 Januari 1965, pukul 21.48. Telegram itu menyatakan dengan lugas: "Kelompok Jenderal Soeharto akan mendesak Angkatan Darat agar mengambil alih kekuasaan tanpa menunggu Soekarno berhalangan tetap."

Perhatikan tanggalnya: Januari 1965. Delapan bulan penuh sebelum G30S meletus (30 September 1965). Delapan bulan sebelum ada "pemberontakan komunis" yang dijadikan alasan kudeta. Telegram itu ditulis oleh mantan pejabat CIA – tidak disebutkan namanya, tetapi para peneliti yakin itu berasal dari seseorang yang sangat dekat dengan operasi intelijen AS di Jakarta.

Artinya: Rencana untuk menggulingkan Soekarno sudah ada paling tidak sejak awal 1965, jauh sebelum peristiwa Lubang Buaya. G30S bukanlah penyebab kudeta, melainkan pemicu yang dimanfaatkan – atau mungkin, dalam teori yang lebih gelap, diciptakan.

Dokumen State Department 1965-1966

Pada Juli 2001, The New York Times melaporkan bahwa sebuah sejarah rahasia Departemen Luar Negeri AS tentang kebijakan Amerika di Indonesia pada pertengahan 1960-an telah bocor. Dokumen itu, yang seharusnya tidak dirilis, akhirnya tersebar karena "kecelakaan" – biro percetakan pemerintah mengirimkannya ke toko buku sebelum waktu yang dijadwalkan.

Isi dokumen itu sangat eksplosif. Di dalamnya terdapat telegram 2 Desember 1965 dari Duta Besar Marshall Green ke Departemen Luar Negeri mengenai kemungkinan pembayaran AS kepada seseorang yang digambarkan sebagai "salah satu penasihat dan promotor sipil utama" dari organisasi bernama Kap-Gestapu. Dalam telegram itu, Green menulis: "Kesempatan untuk mendeteksi atau pengungkapan dukungan kami dalam hal ini seminimal mungkin seperti operasi kantung hitam."

Apa itu operasi "black bag"? Dalam bahasa intelijen, itu berarti operasi rahasia – biasanya ilegal – yang dirancang agar tidak pernah terlacak. Artinya, AS secara aktif mendanai kelompok-kelompok yang terlibat dalam pembantaian massal 1965-1966.

Pengakuan paling jujur datang dari CIA sendiri. Dalam pengarahan harian untuk Presiden Lyndon B. Johnson tertanggal 14 Oktober 1965, CIA menulis dengan dingin: "Ada dua pemerintahan di Indonesia sekarang. Satu dipimpin oleh Soekarno dan yang lainnya oleh para jenderal."

Dua pemerintahan dalam satu negara. Dan AS, melalui CIA, secara aktif mendukung "pemerintahan" yang kedua – para jenderal yang kemudian melakukan pembersihan massal terhadap anggota dan simpatisan PKI. Perkiraan korban tewas berkisar antara 500.000 hingga 2 juta orang.

Dokumen yang Masih Ditutup

Namun, dokumen-dokumen paling penting justru masih belum dibuka. Arsip Nasional AS telah merilis puluhan ribu halaman tentang kebijakan luar negeri di Indonesia, tetapi dokumen CIA tetap dirahasiakan. Mengapa? CIA, melalui juru bicaranya Mark Mansfield, mengatakan bahwa pemerintah ingin "menghindari mengguncang hubungan di saat gejolak politik di Indonesia."

Dengan kata lain: Kami punya bukti, tapi kami tidak akan membagikannya karena bisa merusak hubungan diplomatik.

Khusus untuk peristiwa yang lebih besar – apakah CIA terlibat dalam pembunuhan JFK? – dokumen-dokumen juga masih ditutup rapat. Kantor Arsip Nasional AS masih menyimpan ribuan file yang belum dideklasifikasi. Salah satu file yang paling krusial – transkrip percakapan pertama antara Presiden Lyndon Johnson dan Direktur CIA John McCone setelah pembunuhan JFK – hingga kini belum dirilis ke publik.

McCone sendiri telah dituduh menyembunyikan informasi "menghasut" dari Komisi Warren, terutama seputar plot CIA untuk membunuh Castro dan hubungan gelap CIA dengan mafia. Informasi itu penting karena bisa membuka kemungkinan motif balas dendam – baik dari Kuba, dari mafia, atau dari elemen dalam CIA sendiri yang frustrasi dengan JFK.

Penulis Lisa Pease, yang menyelidiki hubungan antara JFK, Soekarno, CIA, dan Freeport, merangkum temuannya dalam sebuah arsip penting di National Archive Washington DC. Kesimpulannya: Freeport bukanlah tambang tembaga – melainkan tambang emas terbesar di dunia. Dan untuk menguasainya, mereka harus menyingkirkan dua presiden: JFK yang menghalangi intervensi AS terhadap Soekarno, dan Soekarno sendiri yang menolak kontrak freeport.


Apakah CIA Dalang di Balik Kematian JFK dan Jatuhnya Soekarno?

Pertanyaan akhir yang paling mengganggu: Apakah kematian JFK dan jatuhnya Soekarno adalah dua sisi dari koin yang sama?

Koin sisi pertama: JFK sebagai penghalang.

Seperti sudah kita ceritakan di bab-bab sebelumnya, JFK menolak membantu Freeport menekan Soekarno. Kennedy khawatir jika Indonesia dipaksa terlalu keras, Soekarno akan melompat ke pelukan komunis – dan Indonesia yang komunis adalah bencana strategis bagi AS. Posisi ini membuat Kennedy menjadi penghalang bagi Freeport dan sekutunya di CIA yang ingin Indonesia terbuka lebar bagi investasi AS.

CIA dan Kennedy tidak akur. Setelah kegagalan invasi Teluk Babi ke Kuba, hubungan mereka memburuk secara drastis. Kennedy mengancam akan "membubarkan CIA menjadi seribu keping". Direktur CIA Allen Dulles – orang yang sama yang memberi label "Castro in Africa" pada Lumumba – dipecat oleh Kennedy.

Dan pada 22 November 1963, Kennedy ditembak mati di Dallas.

Apakah CIA terlibat? Tidak ada bukti konklusif. Tapi ada terlalu banyak kejanggalan:

  • Dokumen-dokumen kunci masih ditutup rapat hingga hari ini.

  • Komisi Warren, yang dibentuk untuk menyelidiki pembunuhan JFK, secara efektif dipimpin oleh orang-orang yang memiliki konflik kepentingan.

  • CIA secara aktif menyembunyikan informasi dari komisi tersebut, termasuk plot pembunuhan terhadap Castro yang bisa memunculkan motif balas dendam dari Kuba.

Koin sisi kedua: Jatuhnya Soekarno sebagai kemenangan bagi Freeport.

Setelah JFK mati, Lyndon B. Johnson naik. Johnson jauh lebih pro-bisnis dan tidak segan menekan Soekarno. Kemudian, dalam waktu kurang dari dua tahun, terjadilah G30S, pembantaian massal, dan jatuhnya Soekarno.

Apakah CIA yang di balik G30S?

Pertanyaan ini telah diperdebatkan selama puluhan tahun. Teori resmi Orde Baru mengatakan G30S adalah upaya kudeta oleh PKI. Tapi banyak sejarawan independen meragukan narasi itu. Dokumen-dokumen CIA yang dideklasifikasi setidaknya menunjukkan bahwa AS tahu persis apa yang akan terjadi – dan memilih untuk tidak mencegah, bahkan mungkin membantu.

Tim peneliti independen di Australia dan AS menemukan bahwa CIA memberi daftar nama anggota PKI kepada militer Indonesia, membantu melatih pasukan pembunuh, dan memastikan bahwa dunia internasional tidak ikut campur.

Skenario yang paling masuk akal adalah bahwa CIA tidak secara langsung merancang G30S, tetapi mereka memanfaatkan situasi untuk tujuan mereka sendiri. Mereka mungkin tahu rencana itu melalui jaringan intelijen mereka, memilih untuk tidak menghentikannya, dan kemudian memastikan bahwa cerita yang beredar di dunia internasional sesuai dengan narasi yang menguntungkan AS.

Hubungan antara kematian JFK dan jatuhnya Soekarno tidak pernah bisa dibuktikan secara formal. Tidak ada "dokumen api" yang mengatakan, "Kami membunuh JFK dan Soekarno untuk Freeport." Tapi ada rantai kebetulan yang terlalu sempurna:

TanggalPeristiwaDampak bagi Freeport
22 Nov 1963JFK tewasPenghalang terakhir bagi intervensi AS ke Indonesia hilang
1964-1965Johnson naik, tekanan pada Soekarno meningkatFreeport mulai melobi secara lebih agresif
30 Sept 1965G30S meletusSoekarno mulai kehilangan kendali
1966Soeharto mengambil alih kekuasaan secara bertahapFreeport siap meneken kontrak
7 April 1967Kontrak Freeport ditandatanganiIndonesia hanya dapat 9,6% dari tembaga; emas gratis

Timeline ini tidak membuktikan konspirasi, tapi juga tidak bisa dijelaskan hanya dengan kebetulan. Terlalu banyak pihak yang diuntungkan: Freeport, CIA, kompleks industri militer AS, dan segelintir jenderal Indonesia yang kemudian menjadi sangat kaya.

Yang pasti: Setelah kontrak ditandatangani, Freeport langsung mengeruk kekayaan Papua tanpa kendali. Selama tiga dekade, tidak ada yang berani mengkritik – karena siapa pun yang mengkritik akan dianggap "anti-pembangunan" atau, lebih buruk lagi, "separatis".

Jejak CIA tidak akan pernah terungkap sepenuhnya selama dokumen-dokumen kunci masih ditutup. Tapi satu hal yang jelas: kematian JFK dan jatuhnya Soekarno bukanlah peristiwa terpisah. Keduanya adalah mata rantai dalam perebutan sumber daya alam global – perebutan yang hingga hari ini masih terus berlangsung, dengan korban yang tak terhitung jumlahnya di Papua dan di seluruh dunia.


Bersambung ke Bab 16: Para Pihak yang Diuntungkan – Keuntungan Freeport dan Penderitaan Indonesia

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAMUJU MISTIK: 10 KISAH GAIB YANG MENGGENTARKAN MAMUJU

PEMERINTAH DAERAH DI ERA EFISIENSI

BAB 11: KERANGKA HUKUM DAN KEBIJAKAN PENDUKUNG