BAB 14 Restrukturisasi Utang Swasta (INDRA)
Menyelamatkan Perusahaan Raksasa dari Jeratan Utang Dolar
"Jika Perusahaan Besar Mati, Jutaan Buruh Ikut Mati"
Akhir 1998. Rupiah berangsur stabil, perbankan mulai bernapas, inflasi melandai. Tapi ada satu sektor yang masih terkapar: dunia usaha swasta. Ribuan perusahaan bergulat dengan utang dolar yang membengkak 7-8 kali lipat sejak krisis. Pabrik-pabrik tutup, PHK massal terjadi di mana-mana.
Habibie menerima laporan yang mengkhawatirkan: utang luar negeri swasta Indonesia mencapai sekitar $80 miliar. Sebagian besar dalam bentuk dolar. Dengan kurs Rp16.800, utang itu setara dengan Rp1.344 triliun – hampir 1,5 kali PDB Indonesia saat itu.
"Jika perusahaan-perusahaan ini mati, bukan hanya pemiliknya yang rugi," kata Habibie dalam rapat kabinet. "Jutaan buruh akan kehilangan pekerjaan. Keluarga mereka akan kelaparan. Kita tidak bisa membiarkan itu terjadi."
Tapi pemerintah tidak punya uang untuk membayar utang swasta. APBN sudah defisit. IMF melarang pemerintah memberi bailout langsung. Maka Habibie harus mencari cara kreatif: membantu perusahaan bernegosiasi dengan kreditur asing, dan mengkonversi utang dolar ke rupiah dengan nilai yang lebih realistis.
Dari situlah lahir INDRA (Indonesian Debt Restructuring Agency) – lembaga yang menjadi mediator antara perusahaan Indonesia dan kreditur asing. Bab ini akan mengisahkan bagaimana INDRA bekerja, perusahaan-perusahaan besar yang diselamatkan (Astra International, Sinar Mas, dll.), dan bagaimana kebijakan ini membuka kembali lapangan kerja yang hilang.
1. INDRA: Mediator Utang Ala Indonesia
Secara teknis, utang swasta adalah urusan swasta. Pemerintah tidak berkewajiban membayar utang perusahaan. Tapi jika perusahaan besar bangkrut, dampaknya sistemik: bank yang memberi kredit akan kolaps, pemasok yang terlibat akan gulung tikar, dan buruh yang di-PHK akan menambah beban sosial.
Habibie memerintahkan pembentukan INDRA pada akhir 1998. Tugasnya:
Memediasi negosiasi antara perusahaan debitur Indonesia dengan kreditur asing (bank-bank asing, bondholders).
Mendorong konversi utang dolar ke rupiah dengan kurs yang disepakati (biasanya di atas kurs pasar tapi tidak terlalu memberatkan).
Memberi kepastian hukum bahwa hasil restrukturisasi akan dihormati pemerintah.
INDRA bukanlah lembaga yang memberi bailout uang tunai. Ia hanya fasilitator. Tapi dengan adanya INDRA, kreditur asing lebih percaya bahwa negosiasi akan berlangsung fair dan transparan. Ini mengurangi ketakutan kreditur yang bisa menuntut likuidasi perusahaan.
Habibie memilih para profesional (pengacara, akuntan, bankir) untuk mengelola INDRA, bukan politisi. Ia ingin lembaga ini kredibel di mata internasional.
"INDRA adalah jembatan antara perusahaan kita yang tercekik utang dan kreditur yang panik," kata Habibie. "Tanpa jembatan, kedua belah pihak akan tenggelam."
2. Konversi Utang Dolar ke Rupiah: Logika Sederhana yang Cerdas
Prinsip dasar restrukturisasi utang melalui INDRA adalah: utang yang semula dalam dolar dikonversi ke rupiah dengan kurs yang disepakati. Mengapa ini penting? Karena perusahaan Indonesia berpendapatan dalam rupiah. Jika utangnya tetap dalam dolar, setiap kali rupiah melemah, utang membengkak. Ini seperti luka yang tidak pernah sembuh.
Contoh: Perusahaan A memiliki utang $10 juta. Dengan kurs Rp16.800, utangnya Rp168 miliar. Pendapatan perusahaan dalam rupiah mungkin hanya Rp50 miliar per tahun. Tidak mungkin membayar. Tapi jika utang itu dikonversi ke rupiah dengan kurs Rp8.000 (misalnya), utangnya menjadi Rp80 miliar – masih berat, tapi lebih masuk akal.
Tentu, kreditur asing tidak mau rugi. Mereka akan meminta kurs yang lebih tinggi atau kompensasi lain, seperti kepemilikan saham. Negosiasi alot selalu terjadi. Tapi INDRA membantu menemukan titik tengah.
Habibie juga mendorong skema debt-to-equity swap – utang diubah menjadi saham perusahaan. Kreditur asing menjadi pemilik sebagian perusahaan, tapi perusahaan tidak perlu membayar utang tunai. Ini sudah terjadi di banyak kasus, termasuk Astra International.
"Lebih baik kehilangan sebagian kepemilikan daripada kehilangan seluruh perusahaan," kata Habibie. "Rakyat tetap bisa bekerja. Ekonomi tetap berputar."
3. Menyelamatkan Astra International: Kisah Sukses Terbesar
PT Astra International Tbk adalah konglomerasi otomotif terbesar di Indonesia. Di dalamnya tergabung Toyota, Honda, Daihatsu, dan berbagai merek kendaraan, serta bisnis alat berat, perkebunan, dan keuangan.
Ketika krisis melanda, Astra terlilit utang dolar sekitar $2 miliar. Rupiah yang ambrol membuat utang itu melonjak menjadi sekitar Rp30 triliun. Pendapatan Astra yang jatuh drastis karena penjualan mobil merosot 90% membuat perusahaan hampir bangkrut.
Habibie memerintahkan INDRA untuk memprioritaskan penyelamatan Astra. Mengapa? Karena Astra mempekerjakan lebih dari 40.000 karyawan langsung dan ratusan ribu pekerja tidak langsung di dealer, bengkel, dan industri komponen. Jika Astra mati, efek domino akan luar biasa.
Negosiasi berlangsung alot selama berbulan-bulan. Kreditur asing (terutama bank-bank Jepang dan Eropa) awalnya menolak konversi utang dengan kurs rendah. Mereka mengancam akan menarik jaminan dan melikuidasi aset Astra.
Tapi Habibie turun tangan secara diplomatik. Ia mengirim surat kepada pemerintah Jepang dan Eropa, meminta mereka memahami situasi Indonesia. "Jika Astra jatuh, bukan hanya perusahaan yang mati, tapi hubungan ekonomi Indonesia-Jepang juga akan terganggu bertahun-tahun," tulisnya.
Akhirnya, kesepakatan tercapai: utang Astra dikonversi ke rupiah dengan kurs sekitar Rp8.000, dan sebagian utang diubah menjadi saham yang dipegang kreditur. Astra selamat. Manajemen tetap di tangan Indonesia (melalui PT Astra International, yang dikendalikan oleh keluarga Soeryadjaya dan kemudian oleh Jardine Cycle & Carriage).
Setelah krisis berlalu, Astra bangkit kembali. Kini Astra adalah salah satu perusahaan terbesar di Indonesia dengan pendapatan puluhan triliun rupiah, mempekerjakan lebih dari 200.000 orang (termasuk anak perusahaan). Kisah selamatnya Astra berkat keberanian Habibie dan INDRA.
4. Sinar Mas dan Perusahaan Lain yang Terselamatkan
Selain Astra, INDRA juga membantu restrukturisasi utang puluhan perusahaan besar lainnya. Beberapa yang paling menonjol:
a) Sinar Mas Group
Konglomerasi milik Eka Tjipta Widjaja ini memiliki bisnis di kertas, agribisnis, properti, dan jasa keuangan. Utang dolar Sinar Mas mencapai sekitar $3 miliar. Nyaris kolaps. Dengan bantuan INDRA, Sinar Mas melakukan restrukturisasi utang dan debt-to-equity swap untuk beberapa anak perusahaan. Sinar Mas selamat dan terus berkembang hingga kini (misalnya PT Indah Kiat Pulp & Paper, PT Sinar Mas Agro Resources & Technology).
b) Grup Lippo (Mochtar Riady)
Utang dolar Grup Lippo juga membengkak. Restrukturisasi dilakukan dengan konversi utang dan penjualan aset. Lippo selamat, meskipun harus melepas beberapa properti.
c) Grup Bakrie
Bakrie & Brothers terlilit utang dolar. INDRA membantu mediasi. Bakrie selamat dengan melakukan restrukturisasi dan kemudian fokus pada bisnis batu bara (Bumi Resources) yang justru booming setelah krisis.
d) Perusahaan Menengah dan Kecil
INDRA tidak hanya menangani konglomerat. Puluhan perusahaan menengah juga dibantu – baik melalui mediasi langsung maupun penyediaan kerangka hukum yang jelas. Sayangnya, tidak semua perusahaan selamat. Ribuan perusahaan kecil tutup. Tapi tanpa INDRA, jumlah yang mati akan jauh lebih besar.
Habibie menekankan bahwa INDRA tidak pilih kasih. "Semua perusahaan yang mau bernegosiasi dengan itikad baik akan kami bantu. Yang nakal – menyembunyikan aset, lari dari utang – akan kami seret ke pengadilan."
5. Membuka Kembali Lapangan Kerja: Dari PHK Masal ke Rekrutmen Bertahap
Dampak paling nyata dari keberhasilan restrukturisasi utang adalah mulai terbukanya lapangan kerja lagi. Setelah Astra selamat, puluhan ribu karyawan yang di-PHK (atau dirumahkan) mulai dipanggil kembali. Pabrik-pabrik yang tutup beroperasi lagi.
Data BPS menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbuka yang sempat melonjak ke 11,2% pada 1998 mulai menurun menjadi 8-9% pada 1999. Penurunan tidak drastis, tapi trennya positif. Ini berkat perusahaan-perusahaan yang selamat dari kebangkrutan.
Habibie tidak bisa menyelamatkan semua lapangan kerja. Banyak sektor (seperti properti dan konstruksi) yang kolaps total. Tapi dengan menyelamatkan Astra, Sinar Mas, dan perusahaan besar lainnya, ia mencegah kehancuran total yang akan membuat depresi berkepanjangan.
"Satu perusahaan besar diselamatkan, berarti puluhan ribu keluarga tetap bisa makan," katanya. "Itu lebih berharga daripada statistik utang yang rapi."
6. Kritik dan Kontroversi: Apakah INDRA Terlalu Lunak?
Seperti kebijakan Habibie lainnya, INDRA tidak lepas dari kritik. Banyak pihak menuduh bahwa INDRA terlalu lunak pada konglomerat – memberi mereka kesempatan kedua tanpa hukuman yang setimpal.
Beberapa kasus memang kontroversial. Misalnya, ada konglomerat yang berhasil lepas dari utang dengan menjual aset ke perusahaan afiliasi dengan harga murah, lalu bangkit kembali setelah krisis. Tapi INDRA tidak punya wewenang untuk memidanakan; fokusnya adalah restrukturisasi utang, bukan penegakan hukum.
Habibie membela kebijakannya: "Saya lebih suka menyelamatkan 100 perusahaan yang jujur meskipun 5 di antaranya nakal, daripada membiarkan semua mati karena saya terlalu sibuk mengejar si nakal. Prioritas darurat adalah menyelamatkan sistem."
Setelah ekonomi pulih, pemerintah melalui Kejaksaan Agung dan Komisi Pemberantasan Korupsi (di era berikutnya) memproses kasus-kasus utang yang diduga koruptif. Tapi itu bukan ranah INDRA.
7. Warisan INDRA: Kerangka Hukum Restrukturisasi Utang
Meskipun INDRA hanya beroperasi beberapa tahun (dibubarkan setelah krisis mereda), warisannya tetap ada: Indonesia memiliki pengalaman dan kerangka hukum untuk merestrukturisasi utang perusahaan di masa krisis.
Pengalaman ini berguna ketika krisis berikutnya melanda (misalnya krisis 2008 dan pandemi COVID-19). Pemerintah bisa dengan cepat membentuk lembaga serupa atau menggunakan mekanisme yang sudah ada.
Habibie juga meninggalkan pelajaran bahwa restrukturisasi utang tidak boleh membuat pemilik perusahaan lolos begitu saja. Di masa setelahnya, UU Kepailitan dan UU Penanganan Perusahaan Bermasalah terus diperbaiki agar lebih adil.
Penutup Bab 14: Menyelamatkan Roda Perekonomian
Dengan INDRA, Habibie tidak hanya menyelamatkan bank dan nilai tukar – ia juga menyelamatkan dunia usaha riil yang menjadi tulang punggung lapangan kerja. Astra, Sinar Mas, dan puluhan perusahaan besar lainnya tetap berdiri, tetap membayar gaji karyawan, tetap membayar pajak.
Memang, banyak yang mengkritik kebijakan ini terlalu pro-konglomerat. Tapi Habibie memilih pragmatisme: lebih baik perusahaan besar diselamatkan daripada jutaan buruh kehilangan pekerjaan.
Kini, setelah utang swasta tertangani, Indonesia hampir keluar dari krisis. Tapi satu babak penting masih tersisa: penyelesaian politik Timor Timur yang justru menjadi penyebab jatuhnya Habibie di panggung politik.
Bersambung ke Bab 15: "Negosiasi Bantuan IMF $43 Miliar"
(Bagaimana Habibie mendapatkan dana segar dari IMF tanpa harus menjual harga diri bangsa, dan bagaimana Indonesia melunasi utang lebih cepat dari jadwal)
BAB 15 Negosiasi Bantuan IMF $43 Miliar
awal bacaan KEJENIUSAN PRESIDEN BJ HABIBIE MENSTABILKAN RUPIAH DALAM 17 BULAN PADA TAHUN 1998

Komentar
Posting Komentar