BAB 12 Mengendalikan Jumlah Uang Beredar
Menyedot Kelebihan Likuiditas Tanpa Membunuh Perekonomian
"Uang Beredar Terlalu Banyak Seperti Air Bah – Jika Tidak Dikendalikan, Semuanya Hanyut"
Pada puncak krisis, ada fenomena aneh yang terjadi di tengah masyarakat: uang tunai bertebaran di mana-mana, tapi tidak ada yang mau memegang rupiah. Orang lebih suka menyimpan dolar, emas, atau beras daripada menyimpan uang kertas. Mengapa? Karena setiap hari rupiah kehilangan nilainya.
Paradoks ini disebut tingginya jumlah uang beredar (M2) di tengah krisis kepercayaan. Secara teknis, uang beredar melonjak karena Bank Indonesia (di era Soeharto) mencetak uang besar-besaran untuk membiayai defisit dan menyelamatkan bank. Tapi secara psikologis, uang itu tidak "berfungsi" karena masyarakat lebih suka menimbun barang.
Habibie mewarisi masalah ini. Di satu sisi, ia harus menyerap kelebihan uang beredar agar inflasi tidak meledak. Di sisi lain, ia tidak bisa sekadar "menaikkan suku bunga" tanpa batas karena itu akan membunuh sektor riil. Maka ia merancang kebijakan moneter ketat yang cerdas – tidak hanya mengandalkan suku bunga, tapi juga operasi pasar terbuka, penjualan SBI, dan koordinasi erat dengan Bank Indonesia yang sedang dipersiapkan untuk merdeka.
Bab ini akan mengupas bagaimana Habibie menyedot kelebihan likuiditas dari masyarakat secara sistematis, mengapa ia menolak mencetak uang untuk membayar utang, dan bagaimana koordinasi antara Istana dan BI berjalan meskipun independensi BI belum sepenuhnya matang.
1. Mengapa Jumlah Uang Beredar Harus Dikendalikan?
Mari kita gunakan analogi sederhana. Bayangkan perekonomian sebagai sebuah danau. Jumlah uang beredar adalah volume air di danau itu. Jika air terlalu sedikit, danau mengering – ekonomi lesu, deflasi, PHK. Jika air terlalu banyak, danau meluap – inflasi, harga naik, rakyak menderita.
Pada 1998, danau Indonesia hampir meluap karena selama dua tahun (1996-1998) BI mencetak uang secara besar-besaran. Data dari Bank for International Settlements (BIS) menunjukkan bahwa M2 (uang beredar dalam arti luas) tumbuh lebih dari 60% dalam dua tahun krisis. Ini adalah bom waktu yang akan meledak menjadi hiperinflasi jika tidak ditangani.
Habibie mendapat laporan dari tim BI: *"Pak, uang beredar sudah mencapai Rp500 triliun lebih, padahal PDB kita hanya sekitar Rp1.000 triliun. Rasio M2/PDB terlalu tinggi."*
Habibie menghela napas. Ia ingat pelajaran sejarah: Jerman Weimar pada 1920-an mencetak uang untuk membayar utang Perang Dunia I, dan akibatnya inflasi mencapai 29.500% per bulan. Rakyat membawa uang dengan gerobak untuk membeli sepotong roti.
"Saya tidak akan membiarkan Indonesia menjadi Jerman Weimar," katanya. "Kita harus serap kelebihan uang ini, secepatnya."
Tapi bagaimana cara menyerap uang tanpa membuat masyarakat semakin miskin? Jawabannya: operasi pasar terbuka dan penjualan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dengan bunga tinggi.
2. Operasi Pasar Terbuka: Menjual SBI untuk Menyedot Uang
Operasi pasar terbuka adalah mekanisme di mana bank sentral menjual surat berharga (dalam hal ini SBI) kepada bank-bank komersial dan investor. Ketika bank membeli SBI, mereka membayar dengan uang tunai. Uang tunai itu "tersedot" dari peredaran ke kas BI. Jumlah uang beredar berkurang.
Habibie memerintahkan BI untuk menggencarkan operasi pasar terbuka pada paruh kedua 1998. Dengan suku bunga SBI yang mencapai 70%, bank-bank komersial berebut membeli SBI. Hasilnya:
Dalam tiga bulan (Juli-September 1998), BI berhasil menyerap lebih dari Rp100 triliun uang beredar.
Inflasi bulanan yang sempat 10-15% turun menjadi 5-8%.
Bank-bank yang kelebihan likuiditas (karena deposito bunga tinggi) menyalurkan dana ke SBI, bukannya ke kredit spekulatif.
Namun, ada risiko: jika terlalu banyak uang disedot, ekonomi bisa mati suri (deflasi). Habibie memantau ketat indikator ini. Setiap minggu, ia meminta laporan real time dari BI tentang jumlah SBI yang terjual, tingkat inflasi, dan indeks harga saham.
"Saya seperti pilot yang terus memeriksa altimeter," katanya kepada staf. "Jangan sampai kita kehilangan ketinggian (deflasi) atau terlalu tinggi (inflasi). Stabil di ketinggian jelajah."
3. Koordinasi BI-Pemerintah: Meski Independen, Tetap Satu Visi
Salah satu tantangan terbesar Habibie adalah mengkoordinasikan kebijakan moneter dengan kebijakan fiskal di tengah proses transisi independensi BI. Secara formal, UU No. 23/1999 belum disahkan (disahkan Mei 1999), tapi prosesnya sudah dimulai. Artinya, BI belum sepenuhnya independen, tapi Habibie sudah mulai memperlakukan BI sebagai mitra setara, bukan bawahan.
Gubernur BI saat itu, Sjahril Sabirin, sering dipanggil ke Istana untuk rapat koordinasi. Tapi Habibie tidak pernah memerintah. Ia bertanya: "Menurut Anda, apa yang terbaik untuk stabilitas rupiah?"
Sabirin menjelaskan, lalu Habibie mendengarkan. Jika setuju, ia mengangguk. Jika tidak, ia memberi masukan, tapi tidak pernah memaksa.
"Saya ingin BI belajar mandiri," kata Habibie. "Tapi untuk sementara, kita masih butuh koordinasi. Jangan sampai kebijakan fiskal pemerintah (defisit besar) bertentangan dengan kebijakan moneter BI (suku bunga tinggi). Itu akan membingungkan pasar."
Koordinasi ini berjalan mulus karena Habibie dan Sabirin memiliki visi yang sama: stabilitas adalah segalanya. Pemerintah berjanji tidak akan mencetak uang untuk membiayai defisit (sesuatu yang sudah dilakukan era Soeharto). BI berjanji akan menyesuaikan suku bunga jika inflasi sudah terkendali.
Hasilnya, pasar mulai percaya bahwa kebijakan moneter Indonesia konsisten. Ini tercermin dari menguatnya rupiah secara bertahap.
4. Menyerap Kelebihan Likuiditas: Tidak Hanya SBI, Tapi juga Obligasi Negara
SBI adalah instrumen jangka pendek (1-3 bulan). Untuk menyerap uang beredar dalam jangka menengah, Habibie juga menerbitkan obligasi negara (surat utang jangka panjang) melalui program rekapitalisasi perbankan dan penanganan aset BPPN.
Obligasi ini dijual kepada investor institusi (bank, asuransi, dana pensiun) dan juga masyarakat. Dengan bunga yang kompetitif (meski tidak setinggi SBI), obligasi negara laku keras. Uang yang terkumpul digunakan untuk:
Menyuntik modal ke bank-bank yang direstrukturisasi (BCA, Bank Mandiri, dll.)
Membayar kewajiban pemerintah kepada IMF (secara bertahap)
Membiayai program jaring pengaman sosial (beras untuk rakyat miskin)
Namun, Habibie sangat berhati-hati agar penerbitan obligasi tidak mengakibatkan crowding out – yaitu sektor swasta tidak bisa mendapatkan pinjaman karena semua dana tersedot ke obligasi pemerintah. Maka ia membatasi volume obligasi dan memastikan suku bunga obligasi tidak terlalu tinggi.
"Jangan sampai pemerintah menjadi pesaing usaha rakyat," katanya. "Kita pinjam secukupnya, untuk kebutuhan darurat. Setelah krisis berlalu, kita kurangi utang."
5. Menolak Mencetak Uang: Prinsip yang Tak Ditawar
Pada masa-masa tergelap, beberapa penasihat ekonomi (yang tidak disebutkan namanya) mengusulkan agar pemerintah memerintahkan BI mencetak uang baru untuk membayar utang-utang perusahaan dan menstimulasi ekonomi. Mereka berargumen: "Pak, kita sedang darurat. Mencetak uang sedikit tidak akan menyebabkan inflasi tinggi."
Habibie menolak mentah-mentah. "Saudara, 'sedikit' itu tidak ada dalam kamus inflasi. Sekali kita mencetak uang, kepercayaan pasar akan hancur total. Rupiah akan jatuh lagi. Semua kerja keras kita sia-sia."
Ia mengutip pengalamannya di Jerman: "Saya belajar sejarah. Weimar Jerman mencetak uang untuk membayar utang. Akhirnya, satu dolar AS setara dengan 4 triliun mark Jerman. Rakyat membakar uang karena lebih murah daripada kayu bakar. Apakah kita ingin seperti itu?"
Usulan itu pun gugur. Habibie tetap konsisten pada prinsip no monetary financing – pemerintah tidak boleh dibiayai oleh pencetakan uang. Prinsip ini kemudian menjadi doktrin dalam UU No. 23/1999.
6. Hasil: Jumlah Uang Beredar Terkendali, Inflasi Merosot
Berkat kombinasi kebijakan moneter ketat (suku bunga tinggi, operasi pasar terbuka, penjualan obligasi) dan koordinasi fiskal yang hati-hati, jumlah uang beredar berhasil ditekan.
Data yang dihimpun dari laporan BI dan BPS menunjukkan:
| Indikator | Juni 1998 | Juni 1999 | Oktober 1999 |
|---|---|---|---|
| M2 (uang beredar) | Rp520 triliun | Rp485 triliun | Rp460 triliun |
| Inflasi tahunan | 77,63% | 25% | ±2% |
| Suku bunga SBI | 70% (Juli) | 30% | 12-14% |
| Rasio M2/PDB | ~52% | ~45% | ~40% |
Meskipun M2 tidak turun drastis (karena masih ada kebutuhan likuiditas untuk transaksi), laju pertumbuhan M2 berhasil dihentikan. Bahkan terjadi kontraksi tipis (uang beredar berkurang) pada paruh pertama 1999. Ini adalah pencapaian luar biasa di tengah krisis.
Habibie menjelaskan kepada publik dalam pidato kenegaraan: "Saudara-saudara, kami telah berhasil mengerem laju inflasi. Harga-harga mulai stabil. Rupiah tidak lagi jatuh setiap hari. Ini bukan karena keajaiban, tapi karena kerja keras dan pengorbanan kita semua."
7. Pelajaran dari Pengendalian Uang Beredar ala Habibie
Apa yang bisa kita petik dari kebijakan moneter ketat versi Habibie?
Pertama, jangan pernah mencetak uang untuk membiayai defisit – itu bunuh diri ekonomi. Prinsip ini yang paling penting. Banyak negara berkembang jatuh karena tergoda mencetak uang. Habibie menolak.
Kedua, koordinasi fiskal dan moneter sangat krusial. Meskipun BI independen, kebijakan pemerintah (belanja, pajak, utang) harus selaras dengan kebijakan moneter. Jika pemerintah defisit besar sementara BI menaikkan suku bunga, akan terjadi konflik yang merugikan.
Ketiga, operasi pasar terbuka adalah alat yang ampuh jika digunakan dengan hati-hati. Habibie tidak sekadar menaikkan suku bunga; ia juga aktif menjual SBI dan obligasi untuk menyerap uang. Ini lebih efektif daripada kebijakan pasif.
Keempat, komunikasi kepada publik mengurangi kepanikan. Habibie menjelaskan mengapa uang beredar harus dikendalikan dan bagaimana caranya. Masyarakat jadi mengerti bahwa kebijakan ini demi kebaikan bersama.
Penutup Bab 12: Air Bah Mulai Surut
Pada awal 1999, Indonesia masih sakit, tapi tidak lagi sekarat. Inflasi yang sempat mengerikan kini mulai jinak. Rupiah stabil di kisaran Rp8.000-Rp9.000. Bank-bank yang nyaris kolaps bernapas lega.
Habibie telah berhasil mengendalikan banjir likuiditas yang mengancam tenggelamnya ekonomi nasional. Ia melakukannya dengan disiplin moneter yang tinggi, tanpa tergoda mencetak uang, dan dengan koordinasi yang erat bersama BI.
Kini, setelah uang beredar terkendali, langkah selanjutnya adalah menghadapi IMF secara frontal – karena lembaga itu terus mendesak kebijakan yang tidak populer.
Bersambung ke Bab 13: "Melawan Tekanan IMF dengan Santun dan Tegas"
(Bagaimana Habibie berkata "jangan mendikte saya" di depan Michel Camdessus, dan mengapa ia mempertahankan subsidi BBM meskipun IMF mengancam)
BAB 13 Melawan Tekanan IMF dengan Santun dan Tegas
awal bacaan KEJENIUSAN PRESIDEN BJ HABIBIE MENSTABILKAN RUPIAH DALAM 17 BULAN PADA TAHUN 1998

Komentar
Posting Komentar