BAB 12 Belajar dari Dunia
BAGIAN 4
Studi Kasus dan Implementasi
Tiga bagian pertama buku ini telah membahas fondasi filosofis (Bagian 1), komponen kunci pemukiman ideal (Bagian 2), dan keadilan sosial sebagai tulang punggung (Bagian 3). Kini saatnya kita melihat contoh nyata — kota-kota di dunia dan di Indonesia yang telah menerapkan (atau gagal menerapkan) prinsip-prinsip yang kita bahas.
Bagian 4 tidak dimaksudkan untuk memberikan resep "copas" (copy-paste) dari kota lain ke Indonesia. Setiap kota memiliki konteks sejarah, budaya, politik, dan ekologi yang unik. Tapi kita bisa belajar dari prinsip dan taktik — dari kesalahan mereka untuk tidak kita ulang, dan dari keberhasilan mereka untuk kita adaptasi.
Bab 12 membuka Bagian 4 dengan tiga studi kasus: Barcelona (Spanyol) sebagai contoh perencanaan kota yang berani dan sistematis, Pontianak (Indonesia) sebagai contoh kota yang secara alami masih memiliki DNA pejalan kaki, dan Bogor sebagai contoh sisi gelap dan terang dari kota berbasis pejalan kaki alami yang tergerus modernisasi.
BAB 12
Belajar dari Dunia
12.1. Barcelona (Spanyol): Superblock dan Taktik Peremajaan Ruang Jalan
Barcelona adalah salah satu kota paling padat di Eropa — setara dengan Jakarta atau Surabaya. Tapi Barcelona berhasil mengubah dirinya dari kota yang sesak oleh mobil pada 1980-an menjadi salah satu kota paling ramah pejalan kaki dan pesepeda di dunia pada 2020-an.
Apa rahasianya? Bukan investasi besar-besaran dalam infrastruktur mahal. Rahasianya adalah konsep sederhana yang disebut Superblock (superilla dalam bahasa Catalan, supermanzana dalam bahasa Spanyol).
12.1.1. Apa Itu Superblock?
Superblock adalah unit urban yang terdiri dari 3x3 blok persegi (sekitar 400x400 meter) yang lalu lintas kendaraannya direstrukturisasi:
Lalu lintas kendaraan pribadi dialihkan ke jalan-jalan di perimeter superblock (jalan-jalan besar yang mengelilingi 9 blok).
Jalan-jalan di dalam superblock (sebelumnya adalah jalan raya 2-4 lajur) diubah menjadi ruang publik: trotoar diperlebar, jalur sepeda, taman, area bermain anak, bangku, dan ruang untuk PKL.
Kecepatan kendaraan di dalam superblock dibatasi maksimal 10-20 km/jam (sama seperti kecepatan berjalan kaki).
Parkir dipindahkan ke gedung parkir bawah tanah di perimeter superblock.
Hasilnya: 9 blok yang sebelumnya terisolasi oleh jalan raya kini menjadi satu lingkungan berjalan kaki yang aman, tenang, dan hijau.
Ilustrasi Superblock Barcelona:
Bayangkan sebuah grid (petak-petak) seperti peta kawasan Sudirman-Thamrin. Biasanya setiap petak dikelilingi oleh jalan raya 4 lajur. Di Superblock, jalan-jalan di dalam grid (yang menghubungkan satu petak ke petak lain) dimatikan untuk mobil. Hanya jalan-jalan di perimeter (yang mengelilingi 3x3 petak) yang tetap untuk mobil. Jadi 9 petak bergabung menjadi satu lingkungan raksasa yang bebas mobil di dalamnya.
12.1.2. Dampak Superblock
Kota Barcelona telah mengimplementasikan Superblock di beberapa area, terutama di distrik Eixample (yang terkenal dengan grid-nya yang rapi). Hasilnya:
| Indikator | Sebelum Superblock | Sesudah Superblock | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Lalu lintas mobil di dalam superblock | 5.000-10.000 kendaraan/hari | 500-1.000 kendaraan/hari (hanya akses lokal) | Turun 80-90% |
| Polusi udara (NO₂) | 40-50 µg/m³ | 25-30 µg/m³ | Turun 30-40% |
| Aktivitas pejalan kaki | Sepi (takut mobil) | Ramai (anak bermain, ibu-ibu duduk, lansia jalan pagi) | Naik 200-300% |
| Kematian akibat kecelakaan lalu lintas | 2-3 per tahun per distrik | 0-1 per tahun | Turun drastis |
| Nilai properti di superblock | Stabil | Naik 10-20% (karena lingkungan lebih hijau dan aman) | Meningkat |
Yang paling membanggakan: Setelah Superblock diterapkan, warga Barcelona yang awalnya protes (karena takut kehilangan akses mobil) justru menjadi pendukung terkuat. Mereka menyadari bahwa jalan yang sepi dari mobil jauh lebih berharga daripada kemudahan parkir di depan rumah.
12.1.3. Taktik Peremajaan Ruang Jalan: Langkah Kecil, Hasil Besar
Salah satu hal yang paling bisa kita pelajari dari Barcelona adalah taktik peremajaan ruang jalan yang dilakukan secara bertahap, tidak sekaligus. Mereka menyebutnya tactical urbanism (urbanisme taktis).
Taktik 1: "Taman sementara" dari tempat parkir (Parklet)
Barcelona memulai gerakan pejalan kaki dengan hal kecil: mengubah 2-3 tempat parkir mobil menjadi taman sementara (parklet). Mereka memasang pot tanaman, bangku kayu, dan papan permainan catur di bekas tempat parkir. Biayanya hanya beberapa ratus euro, dampaknya besar: warga mulai terbiasa dengan gagasan bahwa ruang publik bisa digunakan untuk manusia, bukan hanya untuk mobil.
Taktik 2: Pemasangan rambu temporer, bukan konstruksi permanen
Sebelum membangun superblock permanen dengan beton dan taman, Barcelona memasang rambu-rambu temporer (kerucut, pembatas plastik, cat di aspal) untuk "menguji" lalu lintas. Mereka melihat apakah skema baru berhasil (tidak menyebabkan kemacetan parah di perimeter), lalu setelah 6-12 bulan, baru mereka membuat konstruksi permanen.
Taktik 3: Libatkan warga dengan "proyek percontohan"
Barcelona tidak langsung menerapkan Superblock di seluruh kota. Mereka memilih satu distrik sebagai percontohan (Poblenou, 2016). Setelah berhasil dan populer, baru mereka perluas ke distrik lain. Pendekatan bertahap ini mengurangi resistensi politik.
12.1.4. Pelajaran untuk Indonesia
| Prinsip Barcelona | Adaptasi untuk Indonesia |
|---|---|
| Superblock (9 blok menjadi satu lingkungan pejalan kaki) | Di kota dengan grid tidak teratur, kita bisa menggunakan konsep "klaster lingkungan" berbasis jalan alamiah (sungai, rel kereta, jalan tol) sebagai batas alami |
| Tactical urbanism (mengubah parkir jadi taman sementara) | Sangat mungkin! Di banyak kampung kota, ada lahan parkir liar yang bisa disulap menjadi taman sementara dengan pot tanaman dan bangku dari palet bekas. Biaya sangat murah. |
| Pengujian dengan rambu temporer | Pemerintah kota bisa menguji coba penutupan jalan di akhir pekan (car-free day) sebelum memutuskan permanen. Jakarta sudah melakukan Car Free Day di Sudirman-Thamkin setiap Minggu — bisa diperluas ke hari kerja untuk jalan-jalan lingkungan. |
| Proyek percontohan di satu distrik | Pilih satu RW atau kelurahan yang warganya sudah pro-pejalan kaki, jadikan percontohan. Dokumentasikan keberhasilannya untuk meyakinkan RW lain. |
"Barcelona mengajarkan bahwa kota tidak perlu dibangun ulang dari nol untuk menjadi ramah pejalan kaki. Cukup dengan mengubah alokasi ruang jalan — dari mobil ke manusia — dan membiarkan warga merasakan manfaatnya. Perubahan besar dimulai dari langkah kecil yang konsisten."
Ilustrasi 12.1: Konsep Superblock Barcelona
12.2. Pontianak (Indonesia): Trotoar dan Pasar Basah yang Masih Hidup
Setelah melihat Barcelona yang "direncanakan", mari kita lihat contoh dari dalam negeri yang lebih "organik": Pontianak, ibu kota Provinsi Kalimantan Barat.
Pontianak tidak memiliki rencana induk yang canggih seperti Barcelona. Ia tidak memiliki superblock atau tactical urbanism yang terkoordinasi. Tapi Pontianak memiliki sesuatu yang tidak dimiliki banyak kota Indonesia lainnya: trotoar yang masih hidup dan pasar basah yang berfungsi sebagai pusat komunitas.
12.2.1. Trotoar Pontianak: Tidak Lebar, Tapi Kontinyu dan Ramai
Salah satu kejutan bagi saya saat pertama kali ke Pontianak adalah: trotoarnya tidak lebar (hanya 1-1,5 meter), tetapi kontinyu di sepanjang jalan utama dan ramai dengan pejalan kaki.
Mengapa Pontianak berbeda dari Jakarta?
| Faktor | Pontianak | Jakarta (kebanyakan area) |
|---|---|---|
| Kontinuitas trotoar | Relatif kontinyu (tidak banyak putus) | Sering putus karena proyek, parkir, tiang listrik |
| Parkir di trotoar | Ada, tetapi tidak separah Jakarta | Sangat parah (trotoar dijadikan parkir motor/mobil) |
| PKL di trotoar | Ada, tetapi menyisakan jalur untuk pejalan kaki | Sering menutup seluruh trotoar |
| Pohon peneduh | Banyak (iklim tropis basah Kalimantan) | Minim (pohon ditebang untuk pelebaran jalan) |
| Budaya jalan kaki | Masih kuat (banyak warga yang berjalan kaki ke pasar) | Mulah tergerus oleh budaya mobil dan ojek online |
Pelajaran dari Pontianak: Trotoar tidak harus lebar 3 meter untuk berguna. Yang lebih penting adalah kontinuitas (tidak terputus), kebersihan (tidak ada parkir liar), dan pohon peneduh. Pontianak menunjukkan bahwa kota tropis Indonesia bisa ramah pejalan kaki tanpa investasi besar — cukup dengan mempertahankan apa yang sudah ada (dan tidak merusaknya dengan pembangunan yang asal-asalan).
12.2.2. Pasar Basah Pontianak: Jantung Ekonomi dan Sosial
Pasar basah di Pontianak (seperti Pasar Flamboyan, Pasar Tengah, Pasar Batu Ampar) masih berfungsi sebagai pusat komunitas, bukan sekadar tempat transaksi.
Apa yang membuat pasar Pontianak istimewa?
Lokasi strategis: Pasar-pasar ini berada di pusat kota, dikelilingi oleh pemukiman padat. Sebagian besar warga bisa berjalan kaki ke pasar (radius 400-800 meter).
Akses trotoar: Trotoar menghubungkan pasar ke pemukiman. Tidak perlu naik motor untuk belanja sayur.
Aktivitas sosial: Pasar bukan hanya tempat belanja, tetapi juga tempat ngopi, bertukar kabar, arisan, bahkan musyawarah warga.
PKL yang tertata (relatif): PKL berjualan di area yang ditentukan, tidak menutup seluruh trotoar.
Peringatan: Pasar-pasar di Pontianak bukannya tanpa masalah. Ada yang kumuh, ada yang becek, ada yang bangunannya tua. Tapi esensinya — sebagai pusat komunitas berbasis jalan kaki — masih hidup. Ini berbeda dengan banyak kota di Jawa di mana pasar tradisional sudah mati atau tergusur oleh minimarket modern.
12.2.3. Ancaman Pontianak: Modernisasi yang Buta
Sayangnya, Pontianak mulai terancam oleh "modernisasi" yang keliru: pembangunan mal, pelebaran jalan (yang menghilangkan pohon peneduh), dan menjamurnya minimarket modern yang menggerus pasar tradisional.
Jika Pontianak tidak hati-hati, ia akan mengulang kesalahan Jakarta: merusak trotoar yang sudah baik, mematikan pasar basah, dan menciptakan ketergantungan pada mobil.
Pelajaran dari Pontianak untuk kota lain:
Pertahankan apa yang sudah berfungsi. Jangan "memperbaiki" trotoar dengan pelebaran jalan yang justru menghilangkan pohon. Jangan "meremajakan" pasar dengan menggusur PKL.
Belajar dari kesalahan Jakarta. Pontianak masih memiliki waktu untuk tidak mengulang kesalahan yang sama.
"Pontianak adalah pengingat bahwa Indonesia sebenarnya memiliki 'kota pejalan kaki' secara alami. Kita tidak perlu meniru Barcelona. Kita cukup tidak merusak apa yang sudah baik."
Ilustrasi 12.2: Trotoar Pontianak
12.3. Bogor: Sisi Gelap dan Terang dari Kota Berbasis Pejalan Kaki Alami
Bogor adalah kasus yang menarik. Di satu sisi, Bogor memiliki potensi luar biasa sebagai kota pejalan kaki: udara sejuk, banyak pohon rindang, trotoar yang (di beberapa tempat) cukup baik, dan budaya jalan kaki yang masih kuat. Di sisi lain, Bogor juga memiliki masalah klasik: kemacetan parah di pusat kota, trotoar yang rusak dan diabaikan di banyak area, serta kebijakan tata ruang yang kacau.
Bogor adalah mikrokosmos dari dilemma kota-kota Indonesia: memiliki warisan kota pejalan kaki yang alami, tetapi perlahan-lahan merusaknya dengan modernisasi yang salah.
12.3.1. Sisi Terang: Bogor sebagai Kota Pejalan Kaki Alami
Beberapa faktor membuat Bogor seharusnya menjadi surga pejalan kaki:
| Faktor | Penjelasan |
|---|---|
| Iklim sejuk | Suhu rata-rata 23-26°C (lebih sejuk dari Jakarta). Berjalan kaki tidak melelahkan secara termal. |
| Pohon rindang | Bogor dijuluki "Kota Hujan" dengan banyak pohon besar (peninggalan kebun raya dan perkebunan). Trotoar yang teduh secara alami. |
| Kebun Raya Bogor | Aset luar biasa: area hijau seluas 87 hektar di tengah kota, gratis untuk pejalan kaki setiap pagi. |
| Pasar tradisional yang hidup | Pasar Bogor (Pasar Anyar, Pasar Jambu Dua) masih ramai dan terintegrasi dengan pemukiman padat. |
| Budaya jalan kaki | Banyak warga Bogor (terutama kelas menengah bawah) masih berjalan kaki ke pasar, sekolah, atau stasiun. |
Jika dikelola dengan baik, Bogor bisa menjadi kota pejalan kaki terbaik di Indonesia — mengalahkan Jakarta, Surabaya, atau Bandung. Sayangnya, potensi ini tidak dikelola dengan baik.
12.3.2. Sisi Gelap: Kemacetan, Trotoar Rusak, dan Kebijakan yang Salah
| Masalah | Penjelasan | Contoh |
|---|---|---|
| Kemacetan parah di pusat kota | Jalan-jalan di pusat Bogor (seperti Suryakencana, Pajajaran) macet setiap hari karena volume mobil dan angkot yang melebihi kapasitas. | Kaskus dan media sosial penuh dengan keluhan kemacetan Bogor. |
| Trotoar rusak dan diabaikan | Di banyak trotoar Bogor, paving rusak, berlubang, tertutup parkir motor, atau dikuasai PKL (tanpa menyisakan jalur). | Trotoar di Jalan Suryakencana (pusat oleh-oleh) sempit dan kumuh. |
| Parkir liar di mana-mana | Mobil dan motor parkir di bahu jalan (yang seharusnya trotoar) dan di badan jalan, memperparah kemacetan. | Hampir semua jalan di pusat Bogor dipenuhi parkir liar. |
| Angkot ugal-ugalan | Angkot di Bogor terkenal dengan sopir yang ngebut, berhenti sembarangan, dan tidak mematuhi rambu. | Banyak kecelakaan melibatkan angkot di Bogor. |
| Tidak ada integrasi transportasi | Stasiun kereta Bogor, halte bus, dan angkot tidak terintegrasi. Pejalan kaki harus menyeberang jalan raya untuk berpindah moda. | Stasiun Bogor cukup baik, tetapi trotoar menuju stasiun rusak. |
| Kebijakan yang salah | Pemerintah kota lebih fokus pada pelebaran jalan dan pembangunan flyover (yang memperparah induced demand) daripada perbaikan trotoar dan transportasi umum. | Proyek flyover di simpang Kebun Raya (kontroversial). |
12.3.3. Pelajaran dari Bogor: Potensi Tidak Cukup Tanpa Kemauan Politik
Bogor mengajarkan bahwa potensi alam dan budaya tidak cukup untuk menciptakan kota pejalan kaki. Diperlukan kemauan politik untuk:
Menegakkan aturan parkir (melarang parkir di trotoar dan bahu jalan).
Merelokasi PKL ke area yang ditentukan (tanpa menggusur, tetapi menata).
Membangun trotoar yang kontinyu dan teduh (bukan pelebaran jalan untuk mobil).
Mengintegrasikan angkot ke sistem transportasi publik (bukan membiarkan angkot ugal-ugalan).
Tanpa kemauan politik, Bogor akan terus menjadi kota yang macet, panas (karena pohon ditebang), dan tidak ramah pejalan kaki — meskipun memiliki semua potensi untuk menjadi sebaliknya.
"Bogor adalah peringatan bagi semua kota Indonesia: potensi alami bisa hancur dalam satu dekade karena kebijakan yang salah. Pohon rindang ditebang untuk pelebaran jalan. Trotoar yang baik dirusak untuk parkir. Pasar tradisional mati karena mal dan minimarket. Jika Bogor tidak sadar, ia akan menjadi Jakarta kedua — kota yang tidak lagi ramah bagi pejalan kaki."
Ilustrasi 12.3: Kontras Bogor (Sisi Terang vs Sisi Gelap)
Rangkuman Bab 12
Bab ini telah membahas tiga studi kasus yang sangat berbeda:
Pertama (12.1): Barcelona (Spanyol) — contoh perencanaan kota yang berani dan sistematis. Konsep Superblock (mengubah 9 blok menjadi satu lingkungan pejalan kaki dengan memindahkan lalu lintas mobil ke perimeter) berhasil menurunkan lalu lintas 80-90% di dalam superblock, menurunkan polusi 30-40%, dan meningkatkan aktivitas publik 200-300%. Taktik penting: tactical urbanism (mengubah tempat parkir menjadi taman sementara, menguji skema dengan rambu temporer, memulai dengan proyek percontohan di satu distrik). Pelajaran untuk Indonesia: perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil, tidak perlu menunggu anggaran besar.
Kedua (12.2): Pontianak (Indonesia) — contoh kota yang secara alami masih memiliki DNA pejalan kaki. Trotoar Pontianak tidak lebar (1-1,5 m) tetapi kontinyu, teduh (karena pohon rindang), dan ramai dengan pejalan kaki. Pasar basah Pontianak masih berfungsi sebagai pusat komunitas (bukan sekadar transaksi), dengan akses trotoar dari pemukiman padat. Ancaman: modernisasi yang buta (pelebaran jalan, penebangan pohon, mal, minimarket) bisa merusak apa yang sudah baik. Pelajaran untuk kota lain: pertahankan apa yang sudah berfungsi, jangan 'memperbaiki' dengan cara yang salah.
Ketiga (12.3): Bogor — contoh sisi gelap dan terang dari kota berbasis pejalan kaki alami. Sisi terang: iklim sejuk, pohon rindang, Kebun Raya, pasar tradisional hidup, budaya jalan kaki masih kuat. Sisi gelap: kemacetan parah, trotoar rusak, parkir liar, angkot ugal-ugalan, tidak ada integrasi transportasi, kebijakan yang salah (fokus pada pelebaran jalan dan flyover). Pelajaran: potensi alam dan budaya tidak cukup tanpa kemauan politik. Bogor bisa menjadi kota pejalan kaki terbaik di Indonesia, tetapi ia sedang dalam perjalanan menjadi Jakarta kedua (bencana perkotaan) jika tidak segera berubah.
Pertanyaan untuk Diskusi
Aplikasi Superblock di Indonesia: Coba pilih area 3x3 blok (sekitar 400x400 meter) di kota Anda yang cocok untuk dijadikan Superblock (misalnya: kawasan pusat kota dengan jalan-jalan kecil). Gambar sketsa konsepnya: jalan mana yang akan ditutup untuk mobil (diubah jadi ruang publik) dan jalan mana yang akan menjadi perimeter untuk mobil. Presentasikan ke teman atau komunitas.
Tactical urbanism DIY: Coba lakukan "tactical urbanism" sederhana di lingkungan Anda: ubah 1-2 tempat parkir liar menjadi taman sementara dengan pot tanaman bekas cat dan bangku dari palet. Dokumentasikan (foto sebelum-sesudah) dan bagikan ke grup WhatsApp RT/RW. Lihat reaksi tetangga.
Studi banding Pontianak: Jika Anda pernah ke Pontianak (atau kota lain dengan trotoar yang masih baik), ceritakan pengalaman Anda. Apa yang membuat trotoar itu nyaman? Apa yang bisa ditiru oleh kota Anda?
Analisis Bogor: Jika Anda tinggal di Bogor (atau sering ke Bogor), buat daftar 3 hal yang membuat Bogor tidak ramah pejalan kaki dan 3 hal yang bisa diperbaiki dengan biaya rendah. Kirimkan ke akun media sosial Pemerintah Kota Bogor atau ke grup advokasi perkotaan setempat.
Refleksi kota sendiri: Pilih satu aspek dari ketiga studi kasus yang paling relevan untuk kota Anda:
Dari Barcelona: Superblock atau tactical urbanism?
Dari Pontianak: mempertahankan trotoar dan pasar yang sudah ada?
Dari Bogor: belajar dari kesalahan (jangan ulangi)?
Apa satu tindakan konkret yang bisa Anda lakukan minggu depan untuk menerapkan aspek tersebut?
Catatan Transisi ke Bab 13
Kita telah selesai belajar dari kota-kota di dunia (Barcelona), di Indonesia yang masih baik (Pontianak), dan di Indonesia yang bermasalah (Bogor). Bab 13 akan melanjutkan studi kasus ke skala yang lebih kecil tetapi lebih dekat dengan keseharian kita: Belajar dari Kampung Indonesia — kampung kota yang secara organik memiliki prinsip pemukiman berbasis jalan kaki (gang sempit tanpa mobil, fungsi campur, mata di jalan), dan bagaimana kita bisa belajar dari mereka tanpa meromantisisasi kemiskinan.
BAB 13 Belajar dari Kampung Indonesia
awal bacaan MERANCANG KOTA IDEAL: Pemukiman Berbasis Jalan Kaki dan Berkeadilan Sosial




Komentar
Posting Komentar