Bab 11 Tembagapura – Nama yang Menyesatkan

 


Soeharto Dibawa ke Papua, Diperlihatkan Tambang Tembaga

Pada suatu hari di awal tahun 1970-an, Presiden Soeharto terbang ke Papua. Bukan untuk berlibur, bukan untuk menjumpai masyarakat adat, melainkan untuk dipesona oleh Freeport.

Rombongan kepresidenan mendarat di bandara kecil yang dibangun khusus oleh Freeport. Dari sana, mereka naik helikopter menuju pegunungan. Soeharto, yang saat itu belum pernah melihat langsung operasi tambang skala besar, tercengang ketika helikopternya menurun di atas Ertsberg. Dari ketinggian, lubang tambang itu tampak seperti luka menganga di kulit bumi. Truk-truk raksasa berukuran rumah berlalu-lalang. Pabrik pengolahan menjulang dengan cerobong asapnya.

Para eksekutif Freeport dengan bangga menunjukkan kepada Soeharto tumpukan bijih tembaga yang mengkilap. Mereka membawanya berkeliling, menjelaskan proses penambangan, peleburan, dan pengangkutan. Soeharto mengangguk-angguk. Dia kemudian berseru dengan nada kagum:

"Ini adalah salah satu tambang terbesar yang pernah saya kenal. Sungguh luar biasa."

Dan pada saat itulah, menurut cerita yang beredar di kalangan pejabat Orde Baru, Freeport mengajukan usulan: "Bapak Presiden, kami ingin menamai wilayah ini Tembagapura – kota tembaga. Sebagai penghormatan atas kerja sama Indonesia-Freeport."

Soeharto menyetujui. Nama Tembagapura pun resmi melekat pada distrik di Kabupaten Mimika, Papua, hingga hari ini. Sebuah nama yang terdengar indah, modern, dan berbau kemajuan.

Tapi ada kebohongan besar di balik nama itu. Kebohongan yang disengaja. Karena Tembagapura seharusnya bernama Emaspura – atau bahkan Uraniumpura. Tapi nama itu akan terlalu jujur. Nama itu akan membuat rakyat Indonesia bertanya: "Lho, emasnya ke mana? Uraniumnya ke mana?"

Dan pertanyaan itu tidak boleh muncul.

Fakta Ilmiah: Di Mana Ada Tembaga, Pasti Ada Emas

Mari kita belajar sedikit geologi. Ini penting agar Anda tidak ditipu lagi.

Dalam dunia pertambangan mineral, tembaga dan emas adalah sepasang kekasih abadi. Mereka hampir selalu ditemukan bersama dalam deposit porfiri (porphyry copper-gold deposits). Proses geologi yang sama yang membawa larutan panas kaya tembaga ke permukaan bumi juga membawa serta emas, perak, dan berbagai logam mulia lainnya. Tidak ada tambang tembaga besar di dunia yang tidak memiliki kandungan emas yang signifikan. Itu adalah hukum alam.

Ketika Dozy pertama kali menemukan Ertsberg pada 1936, dia mencatat keberadaan emas. Ketika Wilson F. mengirim tim geologinya ke sana pada 1960-an, mereka mengonfirmasi bahwa kadar emas sangat tinggi – mencapai 15-20 gram per ton bijih. Untuk standar tambang emas murni sekalipun, angka itu sudah luar biasa. Untuk tambang yang diklaim sebagai "tambang tembaga", angka itu adalah anomali yang menggemparkan.

Lalu, ketika Freeport mengeksplorasi lebih jauh di dekat Ertsberg, mereka menemukan Grasberg – sebuah gunung lain yang bahkan lebih kaya akan emas. Grasberg, yang mulai ditambang pada 1990-an, adalah tambang emas terbesar di dunia dalam hal cadangan dan produksi. Di Grasberg, kadar emas bisa mencapai 30-40 gram per ton, bahkan lebih di beberapa zona.

Jadi, ketika Soeharto menginjakkan kaki di Tembagapura, para geolog Freeport sudah sangat tahu bahwa di bawah kakinya mengalir sungai emas. Mereka tahu, tetapi mereka memilih untuk tidak memberi tahu Presiden Indonesia.

Mengapa? Karena jika Soeharto tahu bahwa ini adalah tambang emas raksasa, dia mungkin akan meminta bagi hasil yang berbeda. Atau mungkin dia akan terkejut dan memerintahkan audit ulang kontrak. Atau mungkin dia akan membatalkan perjanjian 9,6% yang sangat merugikan itu. Semua itu risiko bisnis yang tidak ingin diambil Freeport.

Maka strateginya sederhana: Bungkuslah tambang emas terbesar di dunia dengan label "tambang tembaga". Beri nama kotanya Tembagapura. Bawa presiden berkeliling, tunjukkan tumpukan bijih tembaga yang merah kecoklatan. Jangan pernah menyebut kata "emas" di hadapan pejabat Indonesia. Biarkan mereka percaya bahwa yang mereka ekspor hanyalah tembaga – logam biasa yang harganya jauh di bawah emas.

Dan strategi itu berhasil dengan gemilang.

Ironi: Nama "Tembagapura" Menyembunyikan Kekayaan Emas Raksasa

Ironi Tembagapura adalah ironi yang tragis. Sebuah nama yang dipilih untuk merayakan "kerja sama" antara Indonesia dan Freeport ternyata adalah nama yang dirancang untuk menipu.

Bayangkan Anda memiliki sebuah peti harta. Di dalamnya berisi berlian, emas, dan permata. Lalu Anda memberi label pada peti itu: "Peti Besi Tua". Dan Anda mengundang tetangga untuk melihatnya. Tetangga Anda hanya melihat karat di permukaan, lalu mengangguk dan pergi. Sementara Anda tersenyum di balik pintu.

Itulah yang Freeport lakukan kepada Indonesia. Mereka memberi label "tembaga" pada tambang yang sebenarnya lebih kaya akan emas. Mereka memberi nama "Tembagapura" pada wilayah yang seharusnya bernama "Gunung Emas".

Data-data yang kemudian terungkap setelah kontrak berjalan puluhan tahun sungguh memilukan:

  • Dari tahun 1990 hingga 2020, Freeport telah menambang lebih dari 2.000 ton emas dari Grasberg dan Ertsberg.

  • Dengan harga emas rata-rata 1.200-1.800 dolar per ons selama periode itu, nilai emas yang diambil mencapai puluhan miliar dolar.

  • Pemerintah Indonesia, berdasarkan kontrak 1967, mendapatkan nol rupiah dari seluruh emas itu. Semua keuntungan mengalir ke Freeport – yang notabene adalah perusahaan swasta Amerika, bukan milik rakyat Papua atau Indonesia.

Kecuali, tentu saja, setelah tahun 1991 ada perubahan kontrak, setelah 1998 ada reformasi, setelah 2018 ada divestasi saham. Tapi babak-babak itu akan kita ceritakan nanti. Yang penting saat ini adalah: selama lebih dari 20 tahun (1967-1991), Indonesia tidak menerima satu sen pun dari emas Freeport. Dan bahkan setelah kontrak diperbaiki, bagi hasil emas tetap tidak pernah sebanding dengan nilai riilnya.

Seorang tokoh masyarakat Papua, yang pernah menjadi juru bicara suku Amungme, mengatakan dalam sebuah wawancara: "Mereka menyebutnya Tembagapura. Tapi kami tahu di gunung itu ada emas. Kami sudah tahu sejak zaman nenek moyang. Ada sungai yang berkilau saat hujan. Ada batu-batu yang berat dan kuning. Tapi ketika orang kulit putih datang, mereka bilang tidak ada emas. Mereka bilang hanya tembaga. Kami tidak percaya. Tapi kami tidak punya kekuatan untuk melawan."

Kini, Tembagapura menjadi saksi bisu atas salah satu penipuan terbesar dalam sejarah ekonomi Indonesia. Sebuah kota yang dibangun di atas gunung emas, tetapi dinamai dengan logam yang nilainya puluhan kali lebih murah. Sebuah kota yang dihuni oleh pekerja-pekerja Freeport yang hidup dalam kenyamanan kelas satu, sementara di luar pagar, suku-suku asli yang tanahnya dirampas hidup dalam gubuk-gubuk tanpa listrik dan air bersih.

Ironi lain yang lebih pedih: Nama "Tembagapura" tercetak di peta-peta resmi Indonesia, diajarkan di sekolah-sekolah, disebut dalam berita-berita televisi. Hampir tidak ada yang bertanya: "Mengapa dinamai Tembagapura, padahal emasnya jauh lebih besar?"

Karena itulah kekuatan manipulasi narasi. Jika Anda bisa mengendalikan nama, Anda bisa mengendalikan persepsi. Jika Anda bisa mengendalikan persepsi, Anda bisa mengendalikan sejarah. Dan Freeport, dengan bantuan para penasihatnya di Jakarta, telah berhasil mengendalikan sejarah ekonomi Indonesia selama lebih dari setengah abad.

Tapi sejarah tidak bisa disembunyikan selamanya. Di bab berikutnya, kita akan melihat bagaimana Freeport membangun "kerajaan di dalam kerajaan" di Papua – dengan tentara sendiri, markas militer, dan kekuasaan yang melampaui negara.


Bersambung ke Bab 12: Freeport Punya "Tentara Sendiri" – Markas Militer AS di Papua

Bab 12 Tanah Adat Dibuldoser, Sungai Dihancurkan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAMUJU MISTIK: 10 KISAH GAIB YANG MENGGENTARKAN MAMUJU

PEMERINTAH DAERAH DI ERA EFISIENSI

BAB 11: KERANGKA HUKUM DAN KEBIJAKAN PENDUKUNG