Bab 11 | Kompromi Agung: Keturunan Pammarica Menjadi Raja, Keturunan Tarapati Menjadi Baligau

 



11.1 Pammarica Gagal Memulihkan Kerajaan (Paceklik)

Setelah diangkat sebagai Maradika Mamuju atas bantuan Balanipa, Pammarica (Puang Marica) memerintah dengan niat baik. Ia berusaha meneruskan kebijakan Mattolabali, menjaga hubungan dagang dengan Portugis dan Johor, serta mempertahankan hukum Pitu Passangang. Namun, nasib berkata lain. Tidak lama setelah pemerintahannya dimulai, Kerajaan Mamuju dilanda paceklik besar—sebuah masa kesengsaraan yang oleh lontarak digambarkan dalam syair yang puitis namun mengerikan:

"Manu tammeciccoroko, bombang tammessamba, pa’lungang ta’memoni, buah kayu ta’membura."

Artinya: "Ayam tidak lagi berkokok, ombak tidak lagi mengalun, lesung tidak lagi berbunyi, pohon tidak mau lagi berbunga dan berbuah." Ini adalah metafora bahwa kehidupan ekonomi dan sosial macet total. Ayam tidak berkokok bisa berarti pagi tidak disambut—semangat hidup hilang. Lesung tidak berbunyi berarti tiada lagi aktivitas menumbuk padi—kelaparan. Pohon tidak berbuah berarti gagal panen dalam skala luas.

Apa penyebab paceklik ini? Lontarak tidak menyebutkan secara spesifik, tetapi kemungkinan karena faktor alam (kemarau panjang, gagal panen) ditambah faktor politik (ketidakstabilan pasca pergantian raja, berkurangnya kepercayaan saudagar asing, sehingga roda ekonomi melambat). Beberapa sumber lisan menyebutkan bahwa pada masa Pammarica, hubungan dengan saudagar Portugis terganggu karena Pammarica dianggap "raja asing" yang tidak sepandai Tarapati atau Mattolabali dalam diplomasi. Kapal-kapal asing mulai beralih ke pelabuhan Gowa atau Bone. Akibatnya, pendapatan kerajaan turun drastis. Pajak tidak terkumpul, cadangan pangan menipis, dan rakyat mulai menderita.

Pammarica kebingungan. Ia berasal dari Balanipa, bukan dari garis keturunan Tarapati yang sudah puluhan tahun mengelola pelabuhan Simboro. Ia tidak memiliki pengalaman langsung dalam urusan maritim. Para tetua dan pejabat kerajaan (Galaggar Pitu) mulai kehilangan kepercayaan. Dalam keadaan terdesak, Pammarica mengumpulkan seluruh tokoh adat untuk bermusyawarah. "Apa yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan kerajaan ini?" tanyanya. Tak ada yang berani menjawab secara langsung. Hingga akhirnya, seorang tetua paling sepuh, yang mungkin masih ingat masa jayanya Tarapati, berkata lirih: "Hanya satu jalan, Tuanku. Panggil kembali Pue Tonileo (Tarapati) dari Tolitoli. Beliau satu-satunya yang memiliki kesaktian dan kemampuan untuk menormalkan keadaan."

Pammarica terdiam. Memanggil Tarapati berarti mengakui bahwa ia tidak mampu memerintah sendiri. Namun di hadapan rakyat yang menderita, harga diri bukanlah prioritas. Ia mengangguk.

11.2 Pemanggilan Tarapati Kembali sebagai Baligau (Pembantu Raja)

Para tetua segera mengirim utusan ke Tolitoli, tempat Tarapati mengasingkan diri bersama Tomellipa Karoro (yang saat itu mungkin masih hidup atau baru saja meninggal, sumber tidak selalu konsisten). Utusan tersebut membawa pesan dari Pammarica dan seluruh dewan adat: "Kerajaan sedang sekarat. Ayam tidak berkokok, lesung tidak berbunyi. Hanya Tuanku yang dapat menyelamatkan Mamuju. Kembalilah, kami mohon."

Tarapati yang sudah lanjut usia dan rapuh, awalnya ragu. Ia masih sakit hati atas perlakuan para bangsawan yang dulu mendesaknya turun tahta. Namun Tomellipa—jika masih hidup—atau ingatan tentang Mattolabali dan cucu-cucunya membuatnya luluh. Lagi pula, ia adalah pendiri Kerajaan Mamuju. Bagaimana mungkin ia tega melihat negerinya hancur? Maka Tarapati menyatakan kesediaannya kembali, tetapi dengan satu syarat yang sangat penting: "Aku tidak akan merebut takhta. Biarlah Pammarica tetap menjadi raja. Aku hanya mau menjadi pembantu raja."

Pernyataan ini mengejutkan para utusan. Mereka mengira Tarapati akan meminta tahta kembali. Namun Tarapati, yang mungkin telah merenungkan kesalahannya di masa lalu, memilih posisi yang lebih rendah. Ia ingin menunjukkan bahwa ia tidak haus kekuasaan. Dan yang lebih penting, ia ingin memastikan bahwa keturunannya (Mattolabali dan seterusnya) tidak akan dianggap sebagai ancaman bagi dinasti Pammarica.

Tarapati kembali ke Mamuju bersama rombongan kecil. Pammarica menyambutnya dengan upacara adat, meskipun agak canggung. Dalam sidang agung Galaggar Pitu, Tarapati secara resmi diangkat menjadi Baligau—jabatan tertinggi di bawah raja, semacam perdana menteri atau kepala adat sekaligus wakil raja. Istilah Baligau (dari kata baligau yang berarti "yang berada di samping") merujuk pada orang yang mendampingi raja, memegang urusan pertahanan, keamanan, dan hubungan dengan dewan adat. Tarapati-lah Baligau pertama dalam sejarah Kerajaan Mamuju.

Keajaiban pun terjadi. Segera setelah Tarapati kembali dan menjalankan tugasnya, lambat laun keadaan mulai pulih. Lontarak menyebutnya dengan bahasa yang hampir mistis: "Ayam mulai berkokok lagi, ombak bergelombang, lesung berbunyi, pohon berbuah." Ini berarti bahwa dengan kehadiran Tarapati, kepercayaan rakyat dan saudagar asing kembali pulih. Kapal-kapal Portugis dan Johor mulai berlabuh lagi. Musim panen berikutnya berhasil. Kemunduran yang terjadi di masa Pammarica secara perlahan teratasi.

Namun, keberhasilan ini tidak membuat Pammarica populer. Rakyat lebih cenderung mengakui jasanya kepada Tarapati. Untuk mencegah konflik di masa depan, kedua belah pihak—Pammarica mewakili garis raja, dan Tarapati mewakili garis leluhur Kurri-Kurri serta keturunan Mattolabali—mengadakan sebuah perjanjian sakral yang disebut Perjanjian Talli.

11.3 Perjanjian Talli: Pembagian Kekuasaan Turun-temurun

Talli dalam bahasa Mandar berarti "ikatan" atau "janji yang mengikat". Perjanjian ini disusun oleh para tetua tertinggi dan disaksikan oleh seluruh Galaggar Pitu. Isinya sangat menentukan bagi struktur politik Mamuju selama berabad-abad setelahnya. Menurut lontarak dan penelitian Syahrir Kila (2019), berikut inti Perjanjian Talli yang disepakati antara Pammarica (mewakili keturunannya) dan Tarapati (mewakili keturunannya, termasuk Mattolabali):

"Mupakayayammo kamaradekaammu, muposo-soemu, mupojappa-jappamu, mupoelo-elo’mu tapi ingkai tongkai kupokayayammo kaadakanki, kupejappa-jappaki, kuposoe-soeku, kupoelo-eloku."

Terjemahan bebas: "Biarlah kamu besar di jabatan raja, bebas dan leluasa berbuat dan bertindak sesuai aturan, tetapi juga biarlah kami besar di jabatan hadat (baligau), leluasa berbuat dan bertindak sesuai dengan aturan yang telah disepakati. Barang siapa yang sengaja melanggar janji ini, maka ia akan menanggung akibatnya: bahwa bila ia berkembang maka ia akan hancur, bila bertangkai ia akan patah, laut yang dilewati akan menjadi daratan, dan daratan menjadi laut."

Secara ringkas, perjanjian ini membagi peran:

Pihak

Peran

Hak

Kewajiban

Garis Keturunan

Keturunan Pammarica

Maradika (Raja)

Memerintah kerajaan, memimpin politik dan militer, mewakili Mamuju dalam persekutuan Pitu Babana Binanga

Menghormati adat, tidak sewenang-wenang, melindungi rakyat

Menjadi raja turun-temurun

Keturunan Tarapati (termasuk Mattolabali)

Baligau (Pembantu Raja / Kepala Adat)

Memegang urusan adat, hubungan dengan dewan Galaggar Pitu, mengelola pusaka kerajaan, menjadi penasihat utama raja

Setia kepada raja, tidak merebut takhta, menjaga kelestarian tradisi

Menjadi baligau turun-temurun

Perjanjian ini adalah kompromi agung yang mengakhiri persaingan dua garis keturunan. Dengan adanya Talli, Pammarica dan keturunannya mendapatkan legitimasi penuh sebagai raja, sementara Tarapati dan keturunannya mendapatkan posisi adat yang sangat terhormat dan tidak bisa diabaikan. Keduanya saling membutuhkan: raja membutuhkan baligau untuk mengelola adat dan hubungan dengan tetua, sedangkan baligau membutuhkan raja untuk legitimasi politik dan kekuasaan eksekutif.

Perjanjian ini juga sekaligus mengikat Mattolabali untuk tidak pernah mengklaim takhta. Sebagai keturunan Tarapati, ia berada di garis baligau, bukan garis raja. Inilah sebabnya mengapa Mattolabali, meskipun telah menyatukan dua kerajaan dan memiliki darah biru dari kedua belah pihak, tidak pernah menjadi raja Mamuju. Ia telah menerima nasibnya sebagai pemersatu yang rela mengorbankan ambisi pribadi demi stabilitas kerajaan.

11.4 Mengapa Mattolabali Tidak Pernah Menjadi Raja? (Klarifikasi)

Pertanyaan ini mungkin mengganggu banyak pembaca. Bagaimana mungkin tokoh sentral yang disebut "pemersatu dua kerajaan" tidak menjadi raja? Bukankah logikanya ia yang mempersatukan, ia yang berhak memerintah? Jawabannya terletak pada kombinasi faktor politik, hukum adat, dan pilihan pribadi Mattolabali sendiri.

1. Faktor adat dan status keturunan

Dalam tradisi Mandar, gelar raja (Maradika) tidak otomatis turun kepada keturunan yang "menyatukan" wilayah, melainkan kepada garis keturunan yang telah mapan melalui proses pengakuan adat. Ketika Tarapati turun tahta karena krisis kepercayaan, posisinya sebagai raja senior tidak otomatis digantikan oleh Mattolabali. Para tetua justru meminta Balanipa mengirim raja baru (Pammarica). Mengapa? Karena Mattolabali dianggap masih muda dan belum memiliki wibawa yang cukup untuk menyatukan faksi-faksi yang bertikai. Selain itu, Tarapati sendiri tidak pernah secara resmi menunjuk Mattolabali sebagai raja pengganti berdasarkan wasiat adat—Tarapati lebih berfokus pada pendidikan dan pengalaman Mattolabali, tetapi tidak sempat meresmikan pengangkatan sebelum krisis terjadi.

2. Perjanjian Tammajarra dan tekanan Balanipa

Seperti dijelaskan di Bab 10, perjanjian Tammajarra memberi Balanipa hak untuk "membantu" kerajaan anggota yang kacau. Para tetua Mamuju, daripada berkonflik internal berkepanjangan dan memperebutkan siapa raja yang sah, memilih meminta bala bantuan dari Balanipa. Dalam pandangan mereka, lebih baik memiliki raja dari luar yang netral daripada memperebutkan takhta antara pendukung Mattolabali dan pendukung bangsawan lain. Keputusan ini bersifat kolektif, melibatkan Galaggar Pitu, dan Mattolabali sendiri hadir dalam musyawarah yang memutuskan hal itu. Ia tidak dipinggirkan, tetapi ia menyetujui karena demi stabilitas.

3. Pilihan Mattolabali untuk mengalah

Yang terpenting: Mattolabali tidak merebut takhta. Ia bisa saja menggunakan pasukan Suro dan armada Bangkong yang setia kepadanya untuk menyingkirkan Pammarica. Namun ia memilih tidak melakukannya. Mengapa? Karena ia tahu bahwa perang saudara akan menghancurkan semua yang telah ia bangun. Ia lebih memilih menjadi baligau daripada menjadi raja di atas puing-puing kerajaan. Inilah tindakan negara di atas ambisi pribadi yang membuatnya dikenang sebagai pahlawan sejati, meskipun tidak pernah dinobatkan.

Lontarak mencatat kata-kata Mattolabali ketika ia diminta oleh para pengikutnya untuk melawan Pammarica: "Apakah gunanya mahkota jika rakyat kelaparan? Apakah arti singgasana jika darah saudara tertumpah? Biarlah aku tidak menjadi raja, asalkan Mamuju tetap bersatu." Sikap inilah yang membuat keturunannya dihormati sebagai Baligau turun-temurun, dan hingga kini dalam ritual adat Mamuju, keturunan Mattolabali memegang posisi tertinggi dalam urusan pusaka dan adat.

Klarifikasi historis versus narasi populer

Banyak kisah populer di Mamuju yang menyebut Mattolabali sebagai "raja pertama" Mamuju. Itu adalah penyederhanaan yang tidak akurat secara historis. Raja pertama Kerajaan Mamuju adalah Tarapati To Ma'dualemba (pendiri). Setelah penyatuan, tarapati tetap sebagai raja senior; Mattolabali adalah putra mahkota tetapi tidak pernah naik tahta karena krisis. Setelah Tarapati lengser, yang menjadi raja adalah Pammarica (dari Balanipa). Mattolabali adalah baligau. Untuk menghormati jasanya, masyarakat sering memberinya gelar kehormatan "pemersatu" atau "pendiri Mamuju" dalam arti spiritual, tetapi secara formal ia bukan raja.

Buku ini dengan tegas meluruskan hal tersebut. Mattolabali layak dihormati setinggi-tingginya, tetapi kehormatan itu tidak perlu diwujudkan dalam klaim tahta yang tidak sesuai fakta. Justru dengan tidak menjadi raja, ia menunjukkan bahwa persatuan lebih berharga daripada kekuasaan.

Penutup Bab 11: Perjanjian Talli adalah masterpiece politik adat Mamuju. Dengan kompromi ini, persaingan antara keturunan Pammarica dan keturunan Tarapati berakhir. Mamuju memiliki stabilitas selama dua abad: raja dari garis Pammarica memerintah di istana, baligau dari garis Tarapati (termasuk keturunan Mattolabali) memegang adat dan pusaka. Keduanya saling mengawasi dan melengkapi. Ironi sejarah bahwa Mattolabali, sang pemersatu, tidak pernah menjadi raja, justru menjadikannya tokoh yang lebih besar dari sekadar raja: ia adalah pengorban untuk persatuan. Bab berikutnya (Bagian 5: Warisan dan Bukti Sejarah) akan mengisahkan peninggalan arkeologis, tradisi lisan, serta Mamuju di abad ke-19 hingga kini.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAMUJU MISTIK: 10 KISAH GAIB YANG MENGGENTARKAN MAMUJU

PEMERINTAH DAERAH DI ERA EFISIENSI

BAB 11: KERANGKA HUKUM DAN KEBIJAKAN PENDUKUNG