Bab 10 | Perjanjian Tammajarra dan Lahirnya Persekutuan Pitu Babana Binanga

 



10.1 Isi Perjanjian Tammajarra (Balanipa sebagai “Bapak”, Mamuju sebagai “Anak Bungsu”)

Kekosongan kepemimpinan di Mamuju pasca-kepergian Tarapati dan belum mantapnya posisi Mattolabali tidak hanya menarik perhatian Balanipa, tetapi juga kerajaan-kerajaan lain di pesisir Mandar. Pada pertengahan abad ke-16, kawasan ini dihuni oleh beberapa kerajaan kecil yang saling bersaing namun juga membutuhkan kerja sama, terutama untuk menghadapi ancaman dari luar seperti ekspansi Gowa di selatan atau bajak laut dari kepulauan Sulu. Dalam situasi seperti itu, Balanipa—salah satu kerajaan tertua dan paling disegani di Mandar—mengambil inisiatif untuk mengumpulkan semua kerajaan pesisir dalam sebuah pertemuan besar.

Pertemuan itu dikenal sebagai Perjanjian Tammajarra (atau Tammajarra, ada juga yang menyebut Tamajarra), yang diadakan di Balanipa sebagai tuan rumah. Waktu pastinya tidak tercatat secara pasti dalam lontarak, tetapi diperkirakan terjadi tidak lama setelah Tarapati mengasingkan diri, sekitar pertengahan abad ke-16. Menurut Lembaran Daerah Kabupaten Mamuju (1999) dan penelitian Syahrir Kila (2019), hadir enam kerajaan dalam pertemuan awal ini:

1.    Kerajaan Balanipa (tuan rumah)

2.    Kerajaan Sendana

3.    Kerajaan Banggae

4.    Kerajaan Pamboang

5.    Kerajaan Tappalang

6.    Kerajaan Mamuju (diwakili oleh Mattolabali, karena Pammarica belum resmi diangkat? Atau Mattolabali mewakili? Artikel menyebut Lasalaga Tomejammeng yang hadir mewakili Mamuju)

Lontarak Mandar menyebutkan bahwa yang hadir mewakili Mamuju adalah Lasalaga Tomejammeng—yang tidak lain adalah Mattolabali sendiri. Ia datang bersama wakil dari Kerajaan Tappalang, Karanamu Pue Matalalang. Raja Tarapati yang sudah mengasingkan diri tidak hadir; Raja Mamuju senior (Tarapati) sudah tidak berdaya, sehingga Mattolabali bertindak atas nama kerajaan.

Hasil pertemuan: Struktur persekutuan yang hierarkis

Dalam pertemuan tersebut, disepakati pembentukan sebuah persekutuan kerajaan-kerajaan pesisir yang disebut Pitu Babana Binanga (artinya "Tujuh Kerajaan di Muara Sungai"). Meskipun yang hadir baru enam, Kerajaan Binuang kemudian bergabung sehingga genap tujuh. Persekutuan ini bersifat longgar, tetapi memiliki struktur hierarkis yang jelas berdasarkan senioritas dan kekuatan masing-masing. Urutan yang dihasilkan dari musyawarah Tammajarra adalah sebagai berikut:

Posisi

Kerajaan

Peran Simbolis

Hak dan Kewajiban

1

Balanipa

"Bapak" (Ayah)

Pemimpin tertinggi persekutuan, berhak memanggil musyawarah, menjadi rujukan terakhir dalam sengketa antar kerajaan

2

Sendana

"Ibu"

Pendamping Balanipa, berperan dalam urusan adat dan diplomasi, mengayomi kerajaan-kerajaan lain

3

Banggae

"Anak Laki-laki Tertua" (ana' tummuane majoli-joling)

Memiliki hak bicara besar, sering menjadi pelaksana keputusan persekutuan

4

Pamboang

"Anak Perempuan" (ana' tobaine)

Berperan dalam urusan budaya dan perdagangan tertentu

5

Tappalang

"Anak dari Sendana" (ana' kalennai Sendana)

Posisi menengah, harus patuh kepada Sendana dan Balanipa

6

Mamuju

"Anak dari Sendana" (ana' kalennai Sendana) – sama seperti Tappalang

Posisi terendah di antara yang hadir, harus patuh kepada Balanipa dan Sendana

7

Binuang

(bergabung belakangan, posisi menyesuaikan)

Sebagai pelengkap menjadi tujuh

Dengan struktur ini, Mamuju secara resmi ditempatkan sebagai "anak bungsu" atau setidaknya anak dari Sendana, bukan anak langsung Balanipa. Artinya, Mamuju memiliki derajat lebih rendah dibandingkan Banggae dan Pamboang, serta harus tunduk kepada kehendak Balanipa (bapak) dan Sendana (ibu). Bagi Mattolabali, hasil ini sangat pahit. Ia datang ke Tammajarra berharap Mamuju diakui setara, tetapi kenyataannya ia harus menerima status subordinat.

Mengapa Mamuju menerima posisi yang lebih rendah?

Ada beberapa faktor. Pertama, Mamuju adalah kerajaan baru hasil penyatuan; usianya masih sangat muda dibandingkan Balanipa atau Sendana. Kedua, saat itu Mamuju sedang dilanda krisis pasca-kepergian Tarapati, sehingga posisi tawarnya lemah. Ketiga, Balanipa dan Sendana telah menjalin hubungan erat melalui perkawinan dan perdagangan; Mamuju belum memiliki ikatan serumit itu. Mattolabali, meskipun kecewa, memutuskan untuk menerima keputusan ini demi kepentingan jangka panjang. Ia berpikir: lebih baik menjadi bagian dari persekutuan dengan status rendah daripada dibiarkan sendiri dan dihancurkan oleh Gowa.

10.2 Sumpah Tammajarra: Ikatan yang Mengikat

Perjanjian Tammajarra tidak hanya berupa kesepakatan lisan. Ia diikat dengan sebuah sumpah adat yang sangat mengerikan, dikenal dengan nama Sumpah Tammajarra. Sumpah ini dibacakan bersama oleh seluruh perwakilan kerajaan yang hadir, dengan disaksikan oleh para tetua adat dan pemangku spiritual. Isi sumpahnya, menurut lontarak yang dikutip dalam artikel Syahrir Kila (2019), adalah sebagai berikut (terjemahan bebas):

"Marilah kita berjalan bersama-sama di atas pematang yang lurus. Masing-masing berjalan di atas tebing hutan rotan kita. Masing-masing berpegang pada tangkai kayu kita yang tak patah."
(Maknanya: setiap kerajaan berjalan sesuai aturan dan kebiasaannya sendiri, tetapi dalam koridor persatuan.)

Selanjutnya: "Besok atau lusa, ada telur sebutirnya Balanipa menggelinding ke Sendana, kau timan tidak pecah. Demikian pula, besok atau lusa, lalu ada api yang menyala di wilayah Babana Binanga, apakah itu di Banggae, Pamboang, Sendana, Tappalang, dan Mamuju, maka negeri itu sendiri yang memadamkannya. Kalau kau tidak sanggup memadamkannya, maka pergilah ke ayahmu (Balanipa) dan ia akan berusaha mencarikan kebaikannya."

(Maknanya: jika terjadi konflik internal dalam satu kerajaan anggota, kerajaan tersebut wajib menyelesaikannya sendiri. Jika tidak mampu, barulah minta bantuan Balanipa.)

Kemudian bagian yang paling mengikat dan mengerikan: "Siapa-siapa ingkar janji, merusak kesepakatan, niscaya akan terkutuk leluhur. Dia kelak pasti akan tertinggal di luar memandang ke dalam. Dia pasti kelak akan tertimpa kutuk leluhur, takkan jadi apa keturunannya."

Sumpah ini bukan sekadar retorika. Dalam kepercayaan tradisional Mandar, kutukan leluhur adalah hal yang sangat ditakuti. Seseorang yang melanggar sumpah Tammajarra diyakini akan mengalami kesialan seumur hidup, keturunannya tidak akan sukses, dan rohnya tidak akan diterima di alam leluhur. Dengan sumpah ini, masing-masing kerajaan merasa terikat secara spiritual untuk mematuhi keputusan persekutuan.

Bagi Mamuju, sumpah ini memiliki konsekuensi besar. Mamuju secara resmi terikat untuk tidak bertindak sendiri dalam urusan luar negeri tanpa persetujuan Balanipa dan Sendana. Jika Mamuju diserang oleh kerajaan lain, ia wajib melapor ke Balanipa. Sebaliknya, jika Balanipa meminta bantuan perang, Mamuju wajib mengirim pasukan. Status "anak bungsu" membuat Mamuju harus patuh.

10.3 Pengangkatan Pammarica sebagai Raja Mamuju oleh Balanipa

Kembali ke kekosongan kepemimpinan di Mamuju. Setelah Tarapati mengasingkan diri ke Tolitoli, Mattolabali—meskipun telah memproklamirkan persatuan dan memimpin musyawarah—tidak secara otomatis diakui sebagai raja oleh semua pihak. Para bangsawan Kurri-Kurri menganggapnya "hanya putra mahkota", sementara tetua Langga Monar masih curiga karena darah ibunya Tomellipa (meskipun ia juga darah Padang). Dalam situasi yang goyah ini, para tetua Mamuju—baik dari Kurri-Kurri maupun Langga Monar—akhirnya mengambil keputusan yang sangat kontroversial: mereka meminta Balanipa untuk mengirim seorang raja.

Mengapa mereka mengambil langkah ini? Ada dua alasan utama. Pertama, karena perjanjian Tammajarra memberi hak kepada Balanipa (sebagai "bapak") untuk "membantu" kerajaan anggota yang mengalami kekacauan. Para tetua Mamuju melihat ini sebagai jalan keluar yang sah secara adat. Kedua, perpecahan internal sangat mengkhawatirkan; mereka takut Mamuju akan hancur jika tidak segera ada pemimpin yang disegani semua pihak. Mattolabali, meskipun cakap, tidak memiliki wibawa yang cukup karena usianya yang masih muda dan karena ia baru saja kehilangan ayahandanya.

Pammarica (Puang Marica) diutus ke Mamuju

Mara'dia Balanipa (raja Balanipa) mengabulkan permintaan itu. Ia memilih seorang bangsawan kepercayaannya bernama Pammarica (disebut juga Puang Marica) untuk menjadi raja di Mamuju. Pammarica bukanlah orang sembarangan; ia memiliki hubungan darah dengan keluarga penguasa Balanipa dan dianggap bijaksana. Ia berangkat ke Mamuju dengan pengawal dan atribut kebesaran.

Sesampainya di Karema, Pammarica disambut oleh para tetua dan Mattolabali. Dalam sebuah upacara adat, Pammarica dilantik sebagai Maradika Mamuju yang baru. Mattolabali, sang pemersatu, harus menerima kenyataan pahit: ia tidak akan pernah duduk di singgasana. Posisinya adalah Baligau—pembantu raja, pemangku adat tertinggi, tetapi bukan penguasa. Lontarak mencatat: "Duduklah Pammarica di singgasana Mamuju. Mattolabali berdiri di samping kanannya, memegang tombak pusaka. Ia tidak menangis, juga tidak marah. Ia hanya berkata: 'Demi Mamuju, aku rela.'"

Apakah ini pengkhianatan terhadap Mattolabali?

Tidak ada bukti bahwa Mattolabali dikhianati secara aktif. Ia sendiri hadir dalam musyawarah yang memutuskan untuk meminta raja dari Balanipa. Kemungkinan besar, ia menyadari bahwa statusnya sebagai putra mahkota dari garis Tarapati tidak cukup untuk menyatukan faksi-faksi yang bertikai. Dengan menerima Pammarica sebagai raja, ia menyelamatkan persatuan yang telah ia bangun—meskipun dengan harga kehilangan takhta. Ini adalah tindakan negara di atas kepentingan pribadi yang jarang terjadi dalam sejarah.

Nasib Mattolabali setelah pengangkatan Pammarica

Mattolabali tetap setia kepada Pammarica. Ia menjalankan tugasnya sebagai Baligau dengan baik. Ia menjadi penasihat utama raja, menangani urusan adat dan hubungan dengan para tetua. Pammarica, yang datang dari luar, sangat bergantung pada pengetahuan Mattolabali tentang seluk-beluk kerajaan. Keduanya dilaporkan bekerja sama dengan harmonis—setidaknya di awal.

Namun, Pammarica tidak lama memerintah. Menurut artikel Syahrir Kila, masa pemerintahannya tidak membawa perbaikan. Kerajaan dilanda paceklik: hasil bumi tidak ada yang jadi, buah-buahan gagal panen, padi tidak berbuah, bahkan ayam tidak berkokok dan ombak tidak bergelombang (ungkapan metaforis untuk kemunduran ekonomi). Rakyat cemas. Para tetua kemudian meminta Pammarica untuk memanggil kembali Tarapati dari Tolitoli. Pammarica setuju. Tarapati dipanggil pulang.

Namun Tarapati tidak mau menjadi raja lagi. Ia hanya bersedia menjadi pembantu raja (baligau) di bawah Pammarica. Ini adalah babak selanjutnya yang akan diceritakan di Bab 11.

Penutup Bab 10: Perjanjian Tammajarra mengubah peta kekuasaan di Mandar. Mamuju, yang baru lahir dari persatuan Kurri-Kurri dan Langga Monar, harus menerima status sebagai "anak bungsu" dalam persekutuan Pitu Babana Binanga. Sumpah Tammajarra mengikat semua anggota dengan kutukan leluhur bagi yang ingkar. Dalam kekosongan kepemimpinan pasca-kepergian Tarapati, Balanipa mengirim Pammarica untuk menjadi raja Mamuju, sementara Mattolabali—pemersatu sejati—hanya menjadi pembantu raja. Sebuah ironi sejarah, tetapi juga bukti pengorbanan demi persatuan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAMUJU MISTIK: 10 KISAH GAIB YANG MENGGENTARKAN MAMUJU

PEMERINTAH DAERAH DI ERA EFISIENSI

BAB 11: KERANGKA HUKUM DAN KEBIJAKAN PENDUKUNG