Bab 4: Pemetaan Aset Komunitas (Langkah Paling Penting)
Bagian II – Aksi: Menciptakan Peluang Kerja
Setelah melewati Bagian I, pembaca telah memahami:
Komunitas sebagai kekuatan ekonomi (Bab 1)
Cara menggali kebutuhan dan keunggulan lokal (Bab 2)
Siapa calon pembeli di sekitar (Bab 3)
Saatnya untuk bertindak.
Bagian II adalah inti dari buku ini. Di sinilah konsep berubah menjadi praktik. Di sinilah diskusi berubah menjadi keputusan. Di sinilah rencana berubah menjadi produk.
Dan langkah pertama dalam bagian ini adalah langkah paling penting dari seluruh proses: pemetaan aset.
Bab 4: Pemetaan Aset Komunitas (Langkah Paling Penting)
Sebelum memulai usaha apa pun, sebelum membeli bahan baku, sebelum sibuk memproduksi—komunitas harus terlebih dahulu mengetahui: apa yang sudah dimiliki?
Pertanyaan ini tampak sederhana. Namun berbagai kajian tentang kegagalan usaha komunitas menunjukkan bahwa 9 dari 10 komunitas gagal bukan karena tidak memiliki modal, tetapi karena tidak mengetahui aset yang sudah mereka miliki.
Komunitas sering kali sibuk mencari uang, padahal memiliki keterampilan yang dapat dijual. Mereka sibuk meminjam alat, padahal memiliki alat yang menganggur di rumah. Mereka sibuk mencari relasi, padahal memiliki tetangga yang bekerja di tempat yang tepat.
Bab ini akan membahas cara memetakan aset komunitas dengan metode yang sederhana dan dapat dilakukan secara mandiri. Bukan seperti sensus penduduk. Bukan seperti pendataan pemerintah. Tetapi seperti berburu harta karun bersama—karena memang komunitas sedang menemukan harta karun yang selama ini tersembunyi.
A. Apa Itu Aset Komunitas? Bukan Hanya Uang!
Ketika mendengar kata "aset", banyak orang langsung berpikir tentang uang: tabungan, rekening bank, uang kas.
Pandangan ini terlalu sempit.
Dalam konteks pengembangan komunitas, aset jauh lebih luas dari sekadar uang. Terdapat 4 jenis aset yang dimiliki oleh setiap komunitas, bahkan yang paling sederhana sekalipun.
4 Jenis Aset Komunitas
┌─────────────────────────────────────────────────────────────────────────────┐ │ ASET KOMUNITAS │ ├─────────────────────┬─────────────────────┬─────────────────────┬───────────┤ │ │ │ │ │ │ SDM (Manusia) │ SARANA (Peralatan) │ BAHAN BAKU (Alam/ │ RELASI │ │ │ & Tempat) │ Barang) │ (Jejaring)│ │ │ │ │ │ ├─────────────────────┼─────────────────────┼─────────────────────┼───────────┤ │ • Keterampilan │ • Kompor │ • Pisang │ • Kepala │ │ • Pengalaman │ • Mesin jahit │ • Singkong │ desa │ │ • Waktu luang │ • Sepeda motor │ • Bambu │ • Camat │ │ • Tenaga fisik │ • Kamera HP │ • Kelapa │ • Pemilik │ │ • Ide kreatif │ • Laptop │ • Kotoran ternak │ toko │ │ • Pengetahuan lokal │ • Gedung kosong │ • Air bersih │ • Sopir │ │ │ • Halaman rumah │ • Tanah kosong │ angkutan│ │ │ │ │ • Ketua │ │ │ │ │ PKK │ └─────────────────────┴─────────────────────┴─────────────────────┴───────────┘
Mari bahas setiap jenis aset secara lebih rinci.
1. Aset SDM (Sumber Daya Manusia)
Ini adalah aset yang paling berharga. Tanpa manusia, tidak ada yang dapat menggerakkan usaha.
Yang termasuk aset SDM:
| Kategori | Contoh |
|---|---|
| Keterampilan teknis | Memasak, menjahit, memperbaiki, berkebun, mengemudi, desain, fotografi |
| Keterampilan non-teknis | Mengatur orang, bernegosiasi, berbicara di depan umum, mencatat keuangan |
| Waktu luang | Anggota yang memiliki waktu 2–3 jam per hari untuk usaha bersama |
| Tenaga fisik | Anggota yang kuat mengangkat, mengantar, membersihkan |
| Ide dan pengetahuan | Anggota yang sering memiliki ide baru atau mengetahui cara membuat sesuatu |
Pertanyaan untuk menggali aset SDM:
"Apa yang paling bisa Bapak/Ibu lakukan dibandingkan orang lain?"
"Jika ada pekerjaan berat di rumah, biasanya Bapak/Ibu minta tolong siapa?"
"Siapa di antara kita yang paling sering mengatur acara?"
"Siapa yang paling teliti dalam hal catat-mencatat?"
2. Aset Sarana (Peralatan dan Tempat)
Ini adalah barang-barang fisik yang dapat digunakan untuk produksi atau operasional usaha.
Yang termasuk aset sarana:
| Kategori | Contoh |
|---|---|
| Peralatan produksi | Kompor, wajan, blender, mesin jahit, alat pertukangan, ember, baskom |
| Alat transportasi | Sepeda motor, sepeda, gerobak, mobil pick-up |
| Tempat/lahan | Halaman rumah, garasi tidak terpakai, balai desa, gudang kosong |
| Peralatan pendukung | Kamera HP, laptop, meja, kursi, etalase, timbangan |
Pertanyaan untuk menggali aset sarana:
"Alat apa di rumah Ibu yang hanya dipakai sekali seminggu atau bahkan lebih jarang?"
"Apakah ada ruangan kosong di rumah Bapak yang dapat dipakai bersama?"
"Siapa yang memiliki sepeda motor dan bersedia digunakan untuk mengantar pesanan?"
Catatan penting tentang peminjaman alat:
Meminjam alat dari anggota komunitas diperbolehkan, bahkan dianjurkan di awal. Namun harus ada kesepakatan yang jelas mengenai tanggung jawab jika terjadi kerusakan. Contoh kesepakatan sederhana: "Jika rusak karena pemakaian normal, kelompok yang memperbaiki. Jika karena kelalaian, peminjam yang mengganti."
3. Aset Bahan Baku (Sumber Daya Alam dan Barang)
Ini adalah bahan mentah yang dapat diolah menjadi produk bernilai jual.
Yang termasuk aset bahan baku:
| Kategori | Contoh |
|---|---|
| Hasil pertanian/perkebunan | Pisang, singkong, kelapa, kakao, kopi, jagung, padi |
| Hasil peternakan/perikanan | Telur, susu, daging, ikan, kotoran ternak |
| Bahan alami lainnya | Bambu, rotan, kayu, batu, pasir, tanah liat |
| Barang daur ulang | Botol plastik, kardus, ban bekas, kaleng |
Pertanyaan untuk menggali aset bahan baku:
"Apa yang paling melimpah di desa ini?"
"Apa yang selama ini hanya dibuang atau tidak dimanfaatkan?"
"Apa yang biasanya dibeli dari luar, padahal dapat dihasilkan sendiri?"
4. Aset Relasi (Jejaring dan Hubungan)
Ini adalah aset yang paling tidak terlihat tetapi paling kuat. Relasi adalah siapa yang dikenal.
Yang termasuk aset relasi:
| Kategori | Contoh |
|---|---|
| Pemerintah lokal | Kepala desa, sekretaris desa, ketua BPD, lurah, camat |
| Tokoh masyarakat | Ketua RT/RW, ketua PKK, ketua karang taruna, tokoh agama |
| Pelaku usaha | Pemilik warung/toko, pengusaha lokal, agen sembako |
| Lembaga pendukung | Koperasi, BLK, LSM, perbankan mikro, dinas tenaga kerja |
| Jaringan profesional | Guru, perawat, sopir angkutan, petugas kesehatan |
Pertanyaan untuk menggali aset relasi:
"Siapa saja tokoh di desa ini yang paling berpengaruh?"
"Siapa di antara kita yang memiliki saudara atau kenalan yang bekerja di perusahaan atau toko besar?"
"Siapa yang sering bepergian ke kota atau kecamatan dan mengenal banyak orang di sana?"
"Lembaga apa saja yang pernah memberikan bantuan ke desa ini?"
Pesan penting tentang aset:
Tidak setiap komunitas memiliki semua jenis aset di atas. Bahkan komunitas yang paling sederhana sekalipun pasti memiliki setidaknya 3–4 aset dari keempat kategori tersebut.
Yang membedakan komunitas yang berhasil dan yang tidak adalah: kemampuan untuk menggabungkan aset-aset kecil ini menjadi sesuatu yang lebih besar.
Seperti memasak. Sendiri-sendiri, garam, bawang, cabai, dan minyak tidak berarti banyak. Namun ketika digabung dengan cara yang tepat, jadilah sambal yang enak.
B. Cara Mudah Memetakan: Metode 4 Kolom
Berikut adalah metode sederhana untuk melakukan pemetaan aset komunitas. Metode ini disebut Metode 4 Kolom dan dapat dilakukan dengan kertas plano dan spidol.
Alat yang dibutuhkan:
1 lembar kertas plano besar (atau 4 lembar kertas HVS yang ditempel)
Spidol warna-warni (minimal 3 warna berbeda)
Kertas tempel (sticky notes) atau kertas kecil biasa
Camilan dan minuman (untuk menciptakan suasana santai)
Langkah-Langkah Pemetaan Aset
Langkah 1: Buat 4 Kolom Besar
Di kertas plano, buat 4 kolom dengan judul:
| Kolom | Judul | Warna |
|---|---|---|
| 1 | SDM (Keterampilan & Waktu) | Hijau |
| 2 | SARANA (Alat & Tempat) | Biru |
| 3 | BAHAN BAKU (Bahan Mentah) | Coklat |
| 4 | RELASI (Jejaring) | Ungu |
Langkah 2: Setiap Anggota Menulis Aset yang Dimiliki
Berikan kertas tempel (atau kertas kecil) kepada setiap anggota. Minta mereka menulis aset yang mereka miliki dan bersedia disumbangkan ke kelompok. Satu aset per kertas.
Contoh tulisan di kertas tempel:
| Kolom | Contoh Tulisan |
|---|---|
| SDM | "Bisa memasak rendang", "Memiliki waktu luang jam 3-5 sore", "Bisa mencatat keuangan", "Bisa mendesain kemasan di HP" |
| Sarana | "Memiliki kompor tabung", "Memiliki sepeda motor", "Halaman luas untuk menjemur", "Memiliki mesin jahit" |
| Bahan baku | "Pohon pisang 5 batang", "Dapat telur dari ternak", "Singkong di kebun" |
| Relasi | "Mengenal kepala desa", "Saudara berjualan di pasar", "Ketua PKK", "Kontak toko oleh-oleh" |
Catatan: Jangan memaksa anggota menyumbangkan aset yang membuat mereka tidak nyaman. Aset yang disumbangkan harus bersifat sukarela.
Langkah 3: Tempelkan di Kolom yang Sesuai
Setiap anggota maju satu per satu, menempelkan kertasnya di kolom yang tepat. Sambil menempel, anggota dapat menjelaskan secara singkat.
Anggota lain diperbolehkan bertanya: "Bu, apakah Ibu bersedia nanti menjadi koordinator produksi?" atau "Pak, apakah bengkel Bapak dapat dipakai seminggu sekali?"
Langkah 4: Identifikasi Aset yang Belum Dimiliki
Setelah semua aset ditempel, amati kolom-kolom tersebut. Apakah ada kolom yang kosong atau sangat sedikit?
| Jika kolom ini kosong/sedikit | Maka perlu... |
|---|---|
| SDM | Mengajak lebih banyak anggota |
| Sarana | Mencari aset kelompok (balai desa, alat milik bersama) |
| Bahan baku | Mencari pemasok dari luar atau mengubah ide usaha |
| Relasi | Menugaskan anggota untuk mencari kenalan dan membangun jaringan |
Langkah 5: Dokumentasikan Peta Aset
Setelah selesai, foto peta aset tersebut. Simpan di grup WhatsApp. Ini adalah modal awal komunitas.
Contoh Hasil Pemetaan Aset (Komunitas Ibu-ibu PKK di Desa Karangmulyo)
| SDM | SARANA | BAHAN BAKU | RELASI |
|---|---|---|---|
| Bu Atik: bisa membuat keripik | Kompor 2 tungku (Bu Atik) | Pisang (3 warga memiliki) | Kepala desa (kenalan Bu RT) |
| Bu RT: bisa mengatur orang | Wajan besar (Bu RT) | Minyak goreng (beli dari luar) | Ketua PKK (anggota sendiri) |
| Mbak Dewi: bisa desain kemasan | Halaman rumah (Bu Atik) | Bumbu (beli dari luar) | Pemilik warung (3 orang) |
| Pak Kades: bisa promosi | Sepeda motor (Pak Kades) | Kemasan plastik (beli) | Kantor kecamatan (Pak Kades) |
| 5 ibu memiliki waktu luang | - | - | - |
Analisis dari peta aset ini:
| Kekuatan | Kelemahan |
|---|---|
| Ada SDM yang memiliki keterampilan memasak | Bahan baku (minyak, bumbu, plastik) harus dibeli |
| Ada alat produksi yang cukup | Tidak memiliki aset bahan baku sendiri |
| Ada dukungan dari kepala desa | - |
| Ada calon pembeli (warung) | - |
Solusi untuk kelemahan: Cari anggota baru yang memiliki kebun singkong, atau sesuaikan produk dengan bahan baku yang melimpah di desa.
C. Template Pemetaan (Tersedia di Lampiran)
Template berikut dapat difotokopi dan digunakan untuk pemetaan aset perorangan maupun kelompok. Template lengkap beserta format tabel tersedia di Bagian V – Toolkit (Lampiran Praktis) buku ini.
Gambaran template yang tersedia di lampiran:
Template 1A: Formulir pemetaan aset per anggota
Template 1B: Peta aset kelompok (format plano)
Template 1C: Matriks kesenjangan aset
D. Latihan Kelompok: 2 Jam Menghasilkan Peta Aset
Berikut adalah panduan fasilitasi untuk melakukan pemetaan aset dalam durasi 2 jam.
Durasi: 120 menit (2 jam)
Alat: Kertas plano 2 lembar, spidol 4 warna, kertas tempel (minimal 30 lembar), camilan.
Rencana Sesi 2 Jam
| Waktu | Kegiatan | Keterangan |
|---|---|---|
| 0–10 menit | Pembukaan & ice breaking | Fasilitator menyapa semua anggota. Kegiatan pembuka: "Siapa yang pernah kehilangan barang berharga di rumah, lalu mencarinya dengan panik, ternyata barangnya ada di tempat yang sangat dekat?" Hubungkan dengan metafora "aset komunitas juga sering tidak terlihat padahal dekat" |
| 10–20 menit | Penjelasan 4 jenis aset | Fasilitator menjelaskan SDM, Sarana, Bahan Baku, dan Relasi dengan contoh-contoh sederhana. Maksimal 10 menit. |
| 20–50 menit | Setiap anggota menulis aset pribadi | Bagikan kertas tempel. Minta masing-masing menulis minimal 3 aset. Satu aset per kertas tempel. Jangan saling meniru. |
| 50–80 menit | Menempel dan bercerita | Setiap anggota maju, menempelkan kertas tempel di kolom yang sesuai, dan menceritakan secara singkat. Anggota lain boleh bertanya atau memberi komentar positif. |
| 80–100 menit | Diskusi peta aset | Lihat peta aset yang sudah jadi. Fasilitator memandu diskusi: "Apa yang paling mengejutkan dari peta aset kita?" "Kolom mana yang paling banyak?" "Kolom mana yang perlu kita tambah?" |
| 100–110 menit | Identifikasi kesenjangan | Isi Matriks Kesenjangan Aset. Apa yang kurang? Siapa yang dapat mencarinya? |
| 110–120 menit | Penutup & tindak lanjut | Foto peta aset. Simpan di grup WhatsApp. Tentukan tugas kecil: "Minggu depan, kita akan mencari satu aset yang kurang. Siapa yang bersedia mencari informasi?" |
Contoh Percakapan dalam Latihan (Ilustrasi)
Fasilitator: "Bu Aminah, Ibu menulis 'bisa memasak' di kolom SDM. Masakan apa yang paling Ibu kuasai?"
Bu Aminah: "Saya biasa membuat pepes ikan. Tapi itu bukan apa-apa."
Fasilitator: "Itu keterampilan yang berharga, Bu. Di kelompok kita, apakah ada yang pernah mencicipi pepes buatan Bu Aminah?"
(Beberapa anggota mengangkat tangan)
Fasilitator: "Nah, itu artinya Bu Aminah memiliki aset yang sudah terbukti enak. Ini dapat menjadi produk unggulan kita nanti."
Bu Aminah: (tersenyum) "Ya, kalau untuk kelompok, saya bersedia mengajarkan."
Pak Joko: "Saya tulis di kolom sarana: memiliki sepeda motor. Tetapi bensin ditanggung sendiri ya."
Fasilitator: "Wajar, Pak. Nanti kita atur, jika dipakai untuk mengantar pesanan, kelompok yang mengganti bensin. Kita catat dulu sebagai aset. Terima kasih Pak Joko."
E. Matriks Kesenjangan Aset (Tindak Lanjut Setelah Pemetaan)
Setelah peta aset selesai, isi matriks berikut untuk mengidentifikasi apa yang masih kurang.
| Jenis Aset | Yang Sudah Dimiliki | Yang Masih Dibutuhkan | Sumber (dari mana?) |
|---|---|---|---|
| SDM | |||
| Sarana | |||
| Bahan Baku | |||
| Relasi |
Contoh pengisian:
| Jenis Aset | Yang Sudah Dimiliki | Yang Masih Dibutuhkan | Sumber |
|---|---|---|---|
| SDM | 5 orang bisa memasak, 1 orang bisa desain | 1 orang untuk bagian pemasaran | Cari dari anggota baru atau latih anggota yang ada |
| Sarana | 2 kompor, 1 wajan besar | Timbangan digital, sealer plastik | Pinjam dulu, beli setelah usaha berjalan |
| Bahan Baku | Pisang dari kebun sendiri | Minyak goreng, bumbu, plastik kemasan | Beli dari iuran awal |
| Relasi | Kepala desa, 2 pemilik warung | Kontak ke kantor desa untuk pesanan rutin | Minta bantuan kepala desa |
F. Setelah Peta Aset Jadi: Apa Langkah Selanjutnya?
Peta aset bukanlah tujuan akhir. Ia adalah alat untuk mengambil keputusan.
Setelah peta aset selesai dibuat, komunitas perlu menjawab tiga pertanyaan berikut:
Pertanyaan 1: Ide usaha mana yang paling sesuai dengan aset yang dimiliki?
Lihat kembali 3 ide usaha yang telah dipilih di Bab 2. Cocokkan dengan peta aset.
Contoh:
Jika banyak anggota memiliki keterampilan memasak dan banyak peralatan masak → usaha kuliner paling sesuai.
Jika banyak pemuda memiliki HP dan kemampuan desain → usaha jasa digital paling sesuai.
Jika bahan baku pisang melimpah tetapi alat masak terbatas → cari produk olahan pisang yang tidak perlu digoreng (misalnya: pisang sale atau keripik oven).
Pertanyaan 2: Aset apa yang masih kurang, dan bagaimana cara mendapatkannya?
Tidak semua aset harus tersedia dari awal. Namun komunitas perlu mengetahui mana yang paling mendesak.
Contoh:
Kurang SDM → ajak anggota baru sebelum memulai usaha.
Kurang alat → cari pinjaman atau sewa dengan sistem bagi hasil.
Kurang relasi → minta bantuan tokoh masyarakat untuk memperkenalkan.
Pertanyaan 3: Siapa yang bertanggung jawab atas peran apa berdasarkan asetnya?
Jangan memaksakan seorang ibu yang pandai memasak untuk menjadi bendahara. Dan jangan memaksakan seorang yang teliti mencatat untuk menjadi juru masak.
Bagi peran berdasarkan aset:
| Aset yang Dimiliki | Peran yang Sesuai |
|---|---|
| Bisa memasak | Bagian produksi |
| Bisa mencatat keuangan | Bagian keuangan / bendahara |
| Bisa desain | Bagian kemasan & promosi |
| Mengenal kepala desa | Bagian hubungan masyarakat & perizinan |
| Memiliki sepeda motor | Bagian distribusi |
Rangkuman Bab 4
Aset komunitas tidak hanya uang. Terdapat 4 jenis aset: SDM (manusia), Sarana (alat & tempat), Bahan Baku, dan Relasi (jejaring).
Pemetaan aset adalah langkah paling penting karena mencegah komunitas memulai usaha dari posisi yang tidak mengetahui potensi diri.
Metode 4 Kolom sangat sederhana: tulis semua aset di kertas tempel, tempelkan di kolom yang sesuai.
Dalam 2 jam, komunitas dapat menghasilkan peta aset yang menjadi dasar untuk semua keputusan selanjutnya.
Setelah peta aset selesai, gunakan untuk memilih ide usaha, mengisi kesenjangan aset, dan membagi peran anggota.
Pertanyaan Refleksi untuk Kelompok
Dari 4 jenis aset (SDM, Sarana, Bahan Baku, Relasi), mana yang paling kuat di komunitas?
Aset apa yang paling mengejutkan saat peta aset dibuat? (Mungkin ada keterampilan tersembunyi yang tidak disadari sebelumnya?)
Aset apa yang paling dibutuhkan saat ini tetapi belum dimiliki?
Siapa yang akan melakukan peran apa berdasarkan peta aset ini?
Tugas Antarpertemuan (Setelah Bab 4)
Dokumentasikan peta aset – Foto peta aset, kirimkan ke grup WhatsApp. Cetak 2 rangkap: satu untuk arsip kelompok, satu untuk ditempel di papan pengumuman balai desa.
Lengkapi aset yang kurang – Tugas masing-masing anggota:
Anggota yang memiliki relasi: hubungi 2–3 orang yang dapat membantu memenuhi aset yang kurang.
Anggota yang memiliki waktu: cari informasi harga alat atau bahan yang dibutuhkan.
Anggota yang memiliki keterampilan: tawarkan diri menjadi pelatih untuk anggota lain.
Siapkan untuk Bab 5 – Bab berikutnya adalah "Memilih Peluang yang Paling Menjanjikan". Bawa peta aset ke pertemuan berikutnya.
Catatan untuk fasilitator:
Bab 4 adalah bab di mana kelompok biasanya mengalami momen penemuan—"Oh, ternyata kami memiliki banyak aset juga!"
Manfaatkan momen ini. Biarkan anggota merasa bangga dengan aset yang dimiliki. Apresiasi setiap kontribusi, sekecil apa pun. Jangan biarkan ada anggota yang merasa "sumbangannya tidak berarti".
Jika ada anggota yang berkata, "Saya tidak memiliki apa-apa" – ingatkan bahwa waktu dan tenaga juga merupakan aset. Kehadiran mereka dalam pertemuan adalah aset itu sendiri.

Komentar
Posting Komentar