Bab 4 | Ketegangan Antara Pesisir dan Pedalaman
4.1 Krisis Pasokan Damar dan Tenaga Kerja
Ketika
Mattolabali menginjak usia 20-an, ia mulai melihat sesuatu yang selama ini
tersembunyi di balik kemakmuran kerajaan. Di permukaan, Kurri-Kurri dan Langga
Monar berjalan berdampingan dengan damai. Pelabuhan Simboro ramai, istana Danga
makmur. Namun di bawah permukaan, tegangan
antara dua pusat kekuasaan mulai terasa. Tegangan ini bukan
karena permusuhan pribadi, melainkan karena perbedaan kepentingan struktural yang
melekat pada dua wilayah. Dua peristiwa pemicu memperuncing ketegangan.
Peristiwa
pertama: Penolakan pasokan damar (usia Mattolabali sekitar 22 tahun)
Seorang
saudagar Portugis memesan damar dalam jumlah besar untuk dibawa ke Eropa. Damar
digunakan sebagai terapi perkapalan (pelapis kayu agar kedap air). Harga yang
ditawarkan sangat tinggi. Wakil raja di Simboro, Daeng Mallombasi, langsung
menyetujui tanpa berkonsultasi ke Danga. Namun ketika utusan sampai ke Padang
untuk mengumpulkan damar, para tetua menolak. Mereka merasa harga yang
disetujui wakil raja terlalu rendah dan tidak mencerminkan kerja keras memanjat
pohon tinggi di hutan lebat. Mereka meminta harga dua kali lipat.
Wakil
raja tidak memiliki wewenang untuk menaikkan harga tanpa persetujuan Danga. Ia
mengirim utusan ke Danga. Raja Tarapati yang saat itu sudah sakit-sakitan tidak
bisa memutuskan dengan cepat. Musyawarah di Danga berlarut-larut karena
beberapa tetua pro-pedalaman menginginkan harga setinggi mungkin, sementara
pro-pesisir menginginkan harga tetap rendah untuk menjaga hubungan dengan
Portugis. Kapal Portugis menunggu selama tiga minggu. Akhirnya mereka bosan dan
berlayar ke pelabuhan Gowa. Kerugian kerajaan sangat besar. Tarapati murka,
tetapi ia sudah terlalu lemah untuk memarahi siapa pun. Mattolabali hanya bisa
menonton dari kejauhan, hatinya teriris.
Peristiwa
kedua: Penolakan pemuda Padang bekerja di pelabuhan (usia Mattolabali sekitar
24 tahun)
Setelah
peristiwa damar, hubungan antara Simboro dan Padang semakin renggang. Para
pemuda Padang yang biasa bekerja sebagai buruh pelabuhan mulai dihina oleh
saudagar-saudagar asing: "Kalian
ini suka memperlambat pekerjaan, lebih baik kami rekrut orang Bugis saja." Sekelompok pemuda Padang tersinggung
dan memutuskan pulang ke kampung halaman. Mereka melarang rekan-rekan mereka
yang lain berangkat ke Simboro. Akibatnya, pelabuhan kekurangan tenaga kerja.
Bongkar muat kapal Johor tertunda berminggu-minggu. Sultan Johor mengirim surat
protes ke Danga—untuk pertama kalinya dalam sejarah, hubungan dengan Johor
terganggu.
Keluhan
dari pihak pesisir dan pedalaman semakin keras. Di pedalaman, para tetua Langga
Monar merasa bahwa kekayaan mereka tidak dihargai secara setara. Mereka tahu
bahwa tanpa pasokan rotan, damar, madu, dan gaharu dari hutan, kapal-kapal
asing tidak akan datang ke Simboro. Namun keuntungan dari perdagangan internasional
lebih banyak dinikmati oleh para pedagang pesisir. Seorang tetua Padang bernama
Puang di Tandung
pernah berkata di depan Mattolabali: "Anak
muda, lihatlah. Istana kalian mewah di Danga, tetapi pundi-pundi emas kalian
penuh karena keringat rakyatku di hutan. Jangan sampai kami menjadi kuda beban
yang hanya diberi makan, tetapi tidak pernah diajak duduk di meja yang
sama."
Sementara
di pesisir, para saudagar dan pejabat pelabuhan memiliki keluhan sendiri.
Mereka merasa bahwa pedalaman terlalu banyak campur tangan dalam urusan yang
tidak mereka pahami. Seorang saudagar kaya dari Melayu, Tuan Haji Ismail,
pernah berbisik kepada Mattolabali: "Putra
raja, maafkan saya berkata terus terang. Kerajaan kalian seperti perahu dengan
dua kemudi. Kalau kedua kemudi itu tidak searah, perahu akan berputar-putar di
tempat, tidak pernah sampai ke mana-mana."
Mattolabali
mendengar semua keluhan itu dengan saksama. Ia tidak membantah, juga tidak
berjanji. Ia hanya mengangguk dan mencatat di hati. Namun ia mulai menyadari
bahwa masalahnya bukan pada orang per orang, tetapi pada struktur—kerajaan ini
memiliki dua pusat dengan dua logika yang berbeda, dan tidak ada mekanisme yang
cukup kuat untuk menyelaraskannya.
4.2 Intrik Bangsawan: Puang Lemo (Kurri-Kurri) dan Puang Tandjolo
(Langga Monar)
Jika
ancaman ekonomi sudah memprihatinkan, ancaman dari dalam istana lebih berbahaya
karena bekerja dalam bayang-bayang. Sepeninggal kesehatan Tarapati yang
memburuk, beberapa bangsawan dari kedua kerajaan mulai merencanakan pemisahan Kurri-Kurri dan Langga
Monar secara permanen. Mereka berargumen bahwa penyatuan di
bawah satu raja hanya mungkin karena karisma Tarapati. Dengan Tarapati yang
sakit-sakitan, lebih baik kembali ke sistem asli.
Kubu
pemisah dari Kurri-Kurri: Puang Lemo
Di
pihak Kurri-Kurri, tokoh yang paling vokal menuntut pemisahan adalah Puang Lemo, seorang
bangsawan senior yang juga paman dari pihak ayah Mattolabali (saudara sepupu
Tarapati). Puang Lemo adalah pemilik beberapa kapal dagang dan memiliki
pengaruh besar di kalangan saudagar lokal. Suatu malam, ia mengumpulkan para
bangsawan Kurri-Kurri di rumahnya. Dengan suara berat, ia berkata:
"Kita
telah lama menjadi kerajaan maritim yang disegani. Namun sejak Tarapati
menikahi wanita Padang itu, pusat kekuasaan bergeser ke Danga. Lihatlah
sekarang—raja kita tinggal di pedalaman, dikelilingi oleh tetua yang tidak
pernah melihat laut. Apakah ini adil? Kembalikanlah Kurri-Kurri kepada kami.
Biarkan Mattolabali memerintah Langga Monar sendirian."
Beberapa
bangsawan mengangguk setuju. Namun ada juga yang ragu. Mereka ingat bahwa
Mattolabali adalah pewaris sah. Namun Puang Lemo pandai meyakinkan: "Kita bisa berdagang dengan
pedalaman seperti biasa. Tidak perlu mereka memerintah kita." Puang Lemo juga diam-diam menjalin
kontak dengan utusan Gowa, menawarkan kerja sama jika Kurri-Kurri berdiri
sendiri. Hal ini baru terungkap kemudian.
Kubu
pemisah dari Langga Monar: Puang Tandjolo
Di
pihak sebaliknya, beberapa tetua Langga Monar dan Padang juga menginginkan
pemisahan, tetapi dengan alasan yang berbeda. Tokoh mereka adalah Puang Tandjolo, ipar
dari Tomellipa Karoro (saudara laki-laki dari keluarga Padang). Puang Tandjolo
merasa bahwa selama ini pedalaman hanya menjadi "lumbung" bagi
pesisir, tanpa memperoleh bagian yang adil. Ia menyampaikan pandangannya di Bola Tangga, ruang musyawarah perempuan di
Danga:
"Kita
telah memberikan rotan, damar, madu, dan gaharu kepada Simboro selama puluhan
tahun. Apa balasannya? Harga yang ditentukan mereka, tanpa kita diajak bicara.
Sekarang Tarapati telah tiada daya. Inilah saatnya kita mengambil kembali
kedaulatan kita. Langga Monar sudah cukup besar untuk berdiri sendiri. Kita
tidak butuh pelabuhan mereka. Kita bisa berdagang dengan kerajaan lain."
Tomellipa
Karoro, yang masih hidup dan menjadi penasihat utama Mattolabali, mendengar
pidato itu. Wajahnya berubah tegang. Ia mencintai suaminya dan menghormati
putranya; ia tidak ingin kerja sama yang dibangun dengan susah payah itu
hancur. Namun ia juga mengerti kepedihan saudara-saudaranya di pedalaman.
Mattolabali
menghadapi intrik
Mattolabali
tidak bodoh. Ia memiliki jaringan informan di kedua kubu. Ia tahu persis apa
yang direncankan Puang Lemo dan Puang Tandjolo. Namun ia tidak segera bertindak
represif. Ia memilih strategi yang lebih halus: memecah konsolidasi lawan dengan
mendekati anggota-anggota yang ragu-ragu.
Pertama,
ia mengundang Puang Lemo untuk makan malam berdua di Kedaton Danga. Di meja
makan yang diterangi lampu minyak, Mattolabali berbicara dengan sangat hormat: "Paman, engkau adalah saudara
ayahku. Darah yang sama mengalir di tubuh kita. Aku tahu engkau khawatir bahwa
aku terlalu dekat dengan pedalaman. Tapi coba pikirkan, jika Kurri-Kurri
berdiri sendiri, bagaimana engkau akan mendapatkan rotan dan damar? Apakah
engkau akan membelinya dari Gowa? Mereka pasti mematok harga lebih mahal.
Bukankah lebih baik kita tetap bersama, tetapi dengan pembagian keuntungan yang
lebih adil? Aku janji akan mengevaluasi ulang kebijakan harga." Puang Lemo terkesan, tetapi tidak
langsung tunduk. Ia minta waktu.
Kedua,
Mattolabali menemui ibunya, Tomellipa, dan meminta bantuan untuk menenangkan
Puang Tandjolo. Tomellipa kemudian mengundang saudaranya itu untuk minum kopi
di ruang pribadinya: "Adikku,
engkau ingin Langga Monar merdeka. Itu hakmu untuk bermimpi. Tapi lihatlah
anakku, Mattolabali. Ia bukan keponakanmu saja; ia adalah darah daging kita.
Apakah engkau akan merusak mimpi seorang ibu yang ingin melihat putranya
menjadi pemersatu? Percayalah kepadaku. Ia akan memperbaiki ketidakadilan." Puang Tandjolo menunduk. Ia bersedia
memberi Mattolabali waktu setahun untuk membuktikan bahwa persatuan bisa
menguntungkan pedalaman.
Mattolabali
berhasil menunda detonasi—untuk sementara. Namun ia tahu bahwa waktu tidak
berpihak padanya. Selama dua kerajaan masih terpisah dalam struktur, selama
pelabuhan dan pedalaman masih berjalan dengan logika sendiri, ancaman akan
selalu ada.
4.3 Wafatnya Tarapati dan Kekosongan Kepemimpinan
Di
tengah ketegangan yang semakin memuncak, kesehatan Raja Tarapati To Ma'dualemba
terus merosot. Ia yang dulu gagah dan disegani, kini sering terbaring di
kamarnya di Kedaton Danga. Demam yang berkepanjangan, mungkin malaria atau
komplikasi usia lanjut, membuatnya tidak lagi mampu menghadiri musyawarah.
Tomellipa Karoro setia di sisinya, sementara Mattolabali mulai mengambil alih
tugas-tugas kenegaraan.
Suatu
malam, Tarapati memanggil Mattolabali ke sisi tempat tidurnya. Dengan napas
tersengal, raja tua itu berkata: "Anakku...
lihat apa yang terjadi. Kurri-Kurri dan Langga Monar seperti dua saudara yang
berebut warisan. Jika kau tidak... menyatukan mereka... kerajaan ini akan
hancur. Jangan ulangi kesalahanku. Aku terlalu keras dengan hukum Marru'dua
Gala'gar, terlalu memaksakan kehendak. Kau harus lebih bijaksana."
Mattolabali
menggenggam tangan ayahnya. Air matanya hampir jatuh, tetapi ia menahannya. Ini
bukan waktu untuk menangis. Ini waktu untuk bertindak. Beberapa hari kemudian, Raja Tarapati To Ma'dualemba
meninggal dunia dalam tidurnya. Lontarak mencatat: "Ia pergi ketika fajar menyingsing.
Ombak di Simboro bergemuruh seolah ikut berkabung. Tomellipa Karoro menangis
tujuh hari tujuh malam."
Kematian
Tarapati meninggalkan kekosongan
kepemimpinan yang tidak mudah diisi. Mattolabali, sebagai
pewaris tunggal, secara resmi diakui sebagai putra mahkota Kurri-Kurri dan
Langga Monar. Namun pengakuan formal tidak serta-merta membawa ketaatan. Para
bangsawan yang tadinya hanya berbisik, kini mulai bergerak lebih terbuka. Puang
Lemo dan Puang Tandjolo melihat ini sebagai peluang.
Lebih
parah lagi, dari luar, Kesultanan
Gowa mulai mengintai. Utusan Gowa datang ke Simboro dengan
tawaran "perlindungan"—yang eufemisme untuk upeti. Daeng Mallombasi,
wakil raja di Simboro, goyah. Tanpa berkonsultasi ke Danga, ia hampir
menyetujui perjanjian dengan Gowa. Mattolabali mengetahuinya dari saudagar
Melayu yang setia. Dengan cepat, ia berangkat dari Danga ke Simboro, ditemani
20 pengawal pilihan. Ia tidak datang dengan amarah, tetapi dengan wibawa yang
tenang.
Di
pelabuhan, Mattolabali mengundang Daeng Mallombasi dan para saudagar utama
untuk makan sirih bersama. Di hadapan semua orang, ia berkata: "Saya mendengar ada pembicaraan
tentang perlindungan Gowa. Saudara-saudaraku, Gowa adalah kerajaan besar. Saya
hormat kepada mereka. Tetapi apakah kita seekor ayam yang perlu dilindungi
elang? Simboro telah berdiri sebelum Gowa menjadi besar. Kapal-kapal Portugis,
Johor, dan Kutai datang ke sini bukan karena Gowa, tetapi karena hukum
Marru'dua Gala'gar yang kita junjung. Jika kita membayar upeti, itu berarti
kita mengakui diri kita lebih rendah. Saya tidak akan mengizinkan itu."
Para
saudagar terdiam. Daeng Mallombasi tersipu malu. Utusan Gowa tidak berani
berkata-kata. Mattolabali kemudian mengirim hadiah kepada Raja Gowa disertai
pesan: "Kami menghormati
Gowa sebagai tetangga. Namun Simboro akan tetap merdeka, di bawah kepemimpinan
kami sendiri."
Gowa mundur untuk sementara.
Namun
krisis belum selesai. Mattolabali menyadari bahwa ia tidak bisa terus-menerus
memadamkan api dengan cara seperti itu. Ia perlu tindakan struktural yang permanen.
Ia perlu menyatukan Kurri-Kurri dan Langga Monar menjadi satu kerajaan baru
yang tidak bisa dipisahkan lagi. Bukan merger dua entitas yang setara, tetapi
kelahiran entitas ketiga dengan identitasnya sendiri.
Suatu
malam, setelah upacara peringatan 100 hari wafatnya Tarapati, Mattolabali duduk
di batu besar di tepi sungai yang memisahkan Danga dan Simboro—tempat yang sama
di mana ia menjalani ritual Macco'bo nanti. Air sungai mengalir deras,
tetapi akhirnya bertemu di muara, bergabung menjadi satu aliran yang lebih
besar menuju laut. Ia tersenyum. Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Besok pagi,
ia akan mengumpulkan seluruh bangsawan dari Kurri-Kurri dan Langga Monar. Ia
akan mengumumkan sesuatu yang belum pernah ada dalam sejarah wilayah ini: penyatuan dua takhta menjadi satu
kerajaan yang akan dinamakan Mamuju.
Namun
jalan menuju pengumuman itu tidak mudah. Bakal ada yang menentang, yang marah,
yang merasa dikhianati. Bab berikutnya akan mengisahkan bagaimana Mattolabali
mempersiapkan dirinya melalui upacara Macco'bo, menghadapi perlawanan, dan akhirnya
melaksanakan penyatuan bersejarah itu.
Penutup
Bab 4:
Ketegangan antara pesisir dan pedalaman, intrik para bangsawan, serta wafatnya
Tarapati membawa Mamuju ke ambang perpecahan. Namun dari kekosongan itulah
Mattolabali muncul bukan sebagai perampas kekuasaan, melainkan sebagai pemersatu yang lahir
dari kesadaran bahwa dua dunia harus bergabung atau hancur bersama.

Komentar
Posting Komentar